Watu Mora’a

Senin, Agustus 10th 2015. | Objek Wisata

Watu Mora’a Terletak hampir dipersimpangan segitiga wilayah administrasi Kabupaten Poso, kabupaten Morowali dan Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan, diantara rimbunan pepohonan hutan Sulawesi Tengah, berdiri kokoh satu batu megalitik dengan memancarkan cahaya kehidupan dan daya tarik kemegahan laksana sebuah kesatrian bekas kerajaan yang tak berpenghuni . Dari jarak dekat tampak berbagai ruang dan bekas bekas sarana kebutuhan hidup manusia yang pernah mendiaminya.

Watu Mora’a

Lokasi ini dapat ditempuh dari dusun watumaete Desa Mayoa kecamatan Pamona Selatan kabupaten Poso sekitar kurang lebih 15 km melalui jalan setapak. Masyarakat desa Mayoa biasanya dapat menempuh perjalanan setengah hari melalui jalan kaki dengan medan perjalanan naik turun lembah yang cukup melelahkan. Pada tahun 2008 dan 2009 pemerintah kabupaten Poso kembali membangun jalan setapak dan rumah peristirahatan di lokasi watu mora’a. Hal ini dilakukan untuk mempermudah akses dan keamanan serta kenyamanan para wisatawan ataupun peneliti yang datang ke lokasi karena akses jalan dan tempat peristirahatan di lokasi watumora’a sudah mulai rusak dan nyaris tak memadai lagi. Sepanjang perjalanan akan melintasi beberapa tempat yang mencirikan bahwa terdapat bebatuan tambang yang berharga diantaranya emas, Batu giok dan bebatuan berharga lainnya. Jika datang ke lokasi watumora’a hendaknya harus bermalam mengingat waktu tempuh dan medan yang harus diperhitungkan.

Watu Mora’a 2

Untuk masuk ke lokasi harus didahului dengan acara ritual pertanda meminta ijin tuan setempat maka orang tersebut biasanya akan mendapatkan kesulitan/ bala bencana. Sebagai contoh apabila memasuki ruang ruang batu tersebut maka akan mengalami kesulitan keluar dari ruangan batu tersebut karena yang akan didapatkan hanyalah ruangan demi ruangan.bila tidak dapat jalan keluar bisa membahayakan kematian karena kekurangan makanan dan minuman berhari hari. Pada tahun 2003 terjadi akan hal ini namun setelah didatangkan dewan adat dan melakukan ritual, orang yang hilang/kesasar didalam ruangan didapatkan kembali dalam keadaan selamat setelah dua hari di dalam ruang ruang watumora’a kesulitan mencari jalan keluar.

Watu mora’a adalah saksi bisu tentang adanya kehidupan masa lampau. memiliki luas dan tinggi yang belum pernah diukur namun masyarakat setempat yang sering ke lokasi mengatakan bahwa apabila mengelilingi batu raksasa ini dapat diselesaikan setengah hari perjalanan dengan jalan kaki dan bila melihat ke atas ketinggian batu dari jarak dekat maka wajah akan menengadah 90 derajat keatas dan menyakitkan sendi leher. Ini berarti bahwa tebing batu ini dapat mencapai 150 meter atau 200 meter. Watu mora’a memiliki ruang ruang dengan fungsi masing masing. Terdapat ruangan untuk fungsi memasak, ruang tidur, ruang penyimpan bahan makanan hasil berburu serta ruang ruang lain untuk keperluan berkumpul.

Saat ini disalah satu tempat terdapat ruang terbuka menyerupai taman. Terdapat pula alat alat gong batu yang digunakan sebagai isyarat tertentu . tidak begitu jauh dari lokasi watu mora’a terdapat batu menyerupai peti yang dipercayai masyarakat setempat bahwa batu tersebut adalah peti lasaeo yang merupakan putera kayangan yang pernah hidup dengan manusia di bumi saat itu. Masyarakat setempat percaya bahwa lokasi watumora’a adalah tempat yang pernah didiami oleh lasaeo putera kayangan yang menjadi legenda di daerah pamona . Namun bagaimanapun cerita tentang latarbelakang lokasi watumora,a yang pasti bahwa jaman dahulu dilokasi tersebut terdapat kehidupan manusia yang secara historis belum dapat dijelaskan.

Inilah salah satu situs budaya dan potensi kegiatan wisata yang harus di lestarikan dan dipromosikan serta kesempatan bagi peneliti sejarah dapat berperan untuk dapat menguak tabir dibalik kemegahan Pamonaa di masa lalu.

tags: , , , ,

Berita Terkait