Tata Cara Penobatan Karadja Lamoesa

Kamis, Agustus 20th 2015. | Poso, Sejarah

Berdasarkan sumber sejarah yang ditemukan redaksi PosoMori.com dapat ditemukan tata cara Penobatan Karaja Lamusa yang dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:

  1. Mengumpulkan seluruh Kabose yang ada di seantero Pamona.
  2. Sesudah Kabose Se-Pamona dan lapisan masyarakat berkumpul pada satu tempat yang dipastikan, maka Ketua atau panitia adat menyuruh semua tua2 adat akan menarik seekor kerbau jantan besar.
  3. Kerbau itu akan didoakan pada Ilahi (Pue mpalaburu) dan (Toara Lindo). Supaya perbuatan itu diberkati oleh Pue mPalaburu.
  4. Sesudah itu maka kerbau itu ditombak. Sesudah mati, kepalanya dipotong dan diangkat pada satu tempat yang telah dihiasi (podium) yang dikelilingi daun enau yang kuning (towugi) ditaruh diatas tikar.
  5. Kepala kerbau itu ditutup dengan kain putih.
  6. Dekat kepala kerbau itu didudukan seorang Bangsawan yang telah terpilih itu yang akan dinobatkan menjadi kepala pemerintah (Karaja) Lamoesa.
  7. Dibacakan do’a supaya selanjutnya usia Karaja dilanjutkan dalam mengemudikan pemerintahannya.
  8. Sesudah itu Karaja akan disumpah oleh tua-tua panitia adat.
  9. Sesudah habis disumpah, maka Karaja itu turun dari atas podium, diantar pada tempatnya bersemayam yang disebut Langkanae (istana).
  10. Sesudah semua adat diperbuat maka segala Kabose akan berkumpul, pada tempat yang disediakan dengan masyarakat akan makan bersama-sama.
  11. Sesudah itu malamnya orang banyak akan mengadakan kesenian adat, mokayori (berpantun), moraego atau menari-menari cara adat Pamona sampai siang.

Setelah selesai makan-makan semua orang itu akan kembali pada tempat masing2 mengerjakan pekerjaannya yang tertentu yaitu pertaniannya.

Kesemua kabose wilayah harus menunggu dari karaja Lamoesa kalau ada, harus mengerjakan pekerjaan sendiri. Kalau ada pendapatan atau keuntungan yang didapat dengan jalan menghasilkan harus diingat Karaja akan dihadiakan pada Karaja sebagai bentuk penghormatan. Begitulah cara adat istiadat nenek moyang bangsa suku Pamona.

Suku Pamona kalau Karaja telah mangkat, tak boleh dibuang mayatnya kalau penggantinya belum ada, hal ini semua diatur oleh panitia adat atau tua-tua adat.

Semua ini dipegang oleh Kabosenya famili (keluarga) Karaja yang tak memegang tampuk pemerintahan, tetapi diberi hak mempertimbangkan segala hal yang baik untuk kehidupan masyarakat.

Begitu semua adat-adat yang diturut sampai turun temurun, biar berganti-ganti Karaja penobatan tak dirobah selamanya begitu.

 

tags: , , , , , , ,

Berita Terkait