TangKolikuwa

Senin, Agustus 10th 2015. | Sejarah

Salah seorang penakluk atau penyebar gen terbesar di daratan Pamona Poso datang dari suku Lage. Hal ini tergambarkan dalam kisah Ta ngKolikuwa yang dicatat oleh Adriani dan diterbitkan dalam bukunya Baree Verhalen terbitan tahun 1932 atau 7 (tujuh) tahun setelah kematiannya.

Ngkai Ta ngKolikuwa dalam ingatan masyarakat Pamona (awal abad 20) adalah seorang “besar” yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam masyarakat Lage.

Ngkai Ta ngKolikuwa berasal dari wilayah Wawo Mokupa (desa leluhur to Lage – karena diyakini to Lage berasal dari desa ini, sekaligus juga adalah kampung halaman ngkai abdurahman balie). Wawo Mokupa terletak dipedalaman ke arah utara dari desa Panjoka saat ini. Tercatat lipu jaman dulu yang mau hidup dibawah kekuasaan Ngkai Ta ngkolikuwa adalah lipu Siwo, lipu nono watu, lipu winanga tjaju.

Adalah intrik tertua yang pernah tercatat dalam ingatan masyarakat Lage bagaimana terjadi perebutan kekuasaan di Lage antara Ngkai Ta ngKolikuwa dengan Ngkai Ta Larinda’u yang saling berebut pengaruh dan pada akhirnya menyebabkan Ngkai Ta ngKolikuwa melakukan perjalanan panjang mengililingi provinsi sulawesi tengah saat ini.

Dalam perjalanan meninggalkan wawo mokupa ini, Ngkai Ta ngKolikuwa meninggalkan istrinya di wawo mokupa karena istri Ngkai Ta ngKolikuwa tidak mau meninggalkan wawo Mokupa. Namun banyak sekali masyarakat dan hambanya yang menyertai perjalanan Ngkai Ta ngKolikuwa.

Ngkai Ta ngKolikuwa setelah meninggaalkan wawo mokupa melanjutkan perjalanan menuju lipu Djaimo’o dan bermalam disana. Dari lipu Djaimo’o, Ngkai Ta ngKolikuwa menuju Batu Noncu, lalu terus menuju lipu Konta yang berada di wilayah MungkuDena (Sawidago saat ini). Di tempat ini hati Ngkai Ta ngkolikuwa terpaut pada seorang gadis dan ingin menikahi gadis tersebut. Tetapi hal ini bukan hal yang mudah karena sang gadis masih merupakan saudara (jauh??)

Dan…ingatan lisan masyarakat Lage masih mencatat rayuan yang dilakukan Ngkai Ta ngKolikuwa pada gadis tersebut, dikatakan:

“Yaku se’i, kasangkompo, banya kumampepema ada pai tana pai tau, paikanya hanya ndajaku se’i anu kono ri siko.
Ane da silulu, da taposiwiai,
ane da sintuwu, da taposiwiai,
ane be da silulu
be da ndakana kudika raya.
Yaku mampoworo pau ku ri siko, da KuPorongo”

Jawab sang gadis:
Ode Kasangkompoku
Tukakaku
nuntjanimo katengoku yaku, kabare’enya lo’e yaku.
Incetu da nupewoloka, njau be tamorongo, kita lawinya sangkompo, intje’e kuto’oka siko, tukakaku.
Ne’e wo’u kodi rayamu, mompedongeka pauku se’i.

Pada akhirnya lamaran diselesaikan diantara tau Tu’a lipu Konta dengan mengatakan: “anu ncetu, kabosenya, se’i komi, be da re’e panto’o mami da mabali pau mi, da mamposari komi, lawi komi tau mancani ada ri tana se’i”. Dan akhirnya menikah Ngkai Ta ngKolikuwa dengan sang gadis.

Setelah beberapa lamanya (tidak disebutkan berapa tahun) Ngkai Ta ngKolikuwa melanjutkan perjalanan menuju lipu Enggo nTopi di wilayah Palande. Setelah itu Ngkai Ta ngKolikuwa melanjutkan perjalanan ke tana Lamusa. Di Lamusa Ngkai Ta ngkolikuwa meminta ijin pada wa’a Ngkabosenya Lamusa untuk menikah lagi dan diijinkan karena bukan orang lain dan dari hasil pernikahannya di lamusa ngkai Ta NgKolikuwa memiliki 2 (dua) orang putra yakni:
1. Kolobada; dan
2. Ta ngKonte’e.

Setelah itu Ngkai melanjutkan perjalanan ke Puumboto dan menikah disana. Tidak disebutkan nama keturunannya di Puumboto.

Setelah beberapa lama di Puumboto, Ngkai melanjutkan perjalanan ke Bantjea dan menikah disana. Istri dari Ngkai Ta ngKolikuwa di Bantjea ternyata berdarah campuran Bada, Napu, Besoa,dan Tawaelia (ini berarti orang tuanya yang orang bada napu dan tawaelia). Dari pernikahan di Bantjea, ngkai Ta ngKolikuwa memiliki 3 (tiga) orang anak yakni:
1. Uma i Sope
2. Uma i Nggolo
3. Rantjaloda. (perempuan).

Inilah mengapa pada akhirnya orang Bancea disebut orang campuran Tau sinambira. Sambira To Bada, To Besoa, To Tawaelia, sambira To Lage, kampung orangtuanya di wawo Mokupa.

Anak perempuan Rantjaloda kemudian bersuamikan Ta Laboe (Ta Labu) memiliki anak Dae Polinga. Dae Polinga memperanakkan Ga’a mPoele, dan Ga’a mPoele memperanakan i Ntjimo yang menetap di Korobono.

Setelah itu ngkai Ta ngKolikuwa menyisiri danau Poso, dari Bantjea menuju ke lipu Josi. Lalu menuju ke Tando mPealo, sampai di wimbi dan tiba kembali di lipu Konta.

Dari Konta lalu menuju ke umbongi, lalu ke koro ngGege, lalu ke bamba mPoso, wiwi ntasi, Pemandingi lalu ke watu moengko (moengo saat ini) lalu ke Nipa, dan tiba di Tambarana.

Dari Tambarana lalu ke wumbu mBana, Pangka nTole, Towi ngKeli dan sampai di bada. Dari bada lalu ke besoa, lalu ke napu, lalu ke tawaelia lalu kembali ke tambarana..

Catatan: Peristiwa diatas sepintas menggambarkan “penaklukan” karena Ngkai Ta ngKolikuwa tidak berjalan sendiri tetapi diikuti oleh ratusan pengikutnya setiap kali melakukan perjalanan. Itulah dalam pesan terakhir beliau di Bancea ketika sudah tua disampaikan kepada anaknya perempuan Rabtjaloda mengenia apa apa saja miliknya yang tersebar di Konta, Mokupa, Dongi, dan Josi. Tabea.

Foto: Oema I Nggolo, anak dari Ngkai Ta ngKolikuwa.
Ngkai Uma I Nggolo dalam foto ini sudah berusia lanjut pada tahun 1900an, sudah berusia 50an atau 60-an, ini berarti ayahnya Ngkai Ta ngKolikuwa kelahiran sekitar tahun 1800 atau 1810.

Jadi kisah diatas adalah kisah abad 19 tahun 1800an dan bisa saja kisah penaklukan wilayah konta, dongi dan Josi. Ngkai Ta ngKolikuwa diperkirakan bukan asli Lage tetapi setengah Lage dan kemungkinan setengah Mandar. Sementara rival Ngkai Ta ngKolikuwa di wawo Mokupa yakni Ngkai Ta Larindau kemungkinan besar yang menurunkan raja raja Lage semisalnya Ta Lamoa di lombugia atau Papa i melempo di Kadombuku ataupun Ta lasa (walaualam, semua masih misteri). tabea

tags: , , , , , ,

Berita Terkait