Tama Meli Cucu Papa i Danda

Jumat, Agustus 14th 2015. | Sejarah

TAMA MELI dan NGKAI PAPA I WUNTE.

Oleh: Dimba Tumimomor (FB: Pekitandaya)

Sebagian orang Kristen di Poso pasti mengetahui siapa Papa i Wunte, setidaknya pernah mendengar namanya. Ketika Sira Ngkai Papa i Wunte, isterinya Tu’a Ine Maseka bersama 160an pengikutnya di baptis oleh Pendeta Hofman, di Sungai Puna Kasiguncu 26 Desember 1909, Tama Meli sudah seorang taruna pemuda di Lipu Watuawu.
Saya juga bisa pastikan bahwa banyak diantara kita yang tidak pernah tahu atau mendengar seseorang yang bernama Tama Meli. Kecuali sisa-sia orang tua atau berumur separuh baya di kampung Watuawu dan Pandiri. Tama Meli sudah pemuda remaja ketika Papa i Wunte dibaptis.

Tama Meli adalah masih terhitung salah satu cucu dari Sira Ngkai Papa i Danda. Papa i Danda sendiri adalah pemimpin komunitas To Lage yang mendiami sekitar Das Tomasa dan berumah di sekitar Buyu Kalingua di sekitar Kampung Pandiri saat ini.
Papa i Danda yang meninggal tanggal 19 Maret 1921 (berusia sekitar 100 tahun) dan berkubur di Pandiri adalah sepupu dari Sira Ngkai nDuwa alias Langkai Motopi alias Ngkai Tawo’o Manu. Ngkai nDuwa adalah salah satu mokole nTo Lage di kawasan Wawo Lepati sekitar Gunung Lebanu dan Das Tomasa. Ngkai nDuwa sendiri kemudian diketahui sebagai “anu mampomulika” – yang menurunkan atau ayah) dari Sira Ngkai Talasa.
Ketika Ngkai nDuwa lanjut usia, maka kelompok-kelompok To Lage yang menyebar sekitar Gunung Lebanu, hulu sungai dan DAS Tomasa dan Toyado, dipimpin oleh wa’a ngKabosenya yang terdiri dari para keponakannya . Setelah ngkai nDuwa meninggal, maka Ngkai Talasa di pelihara dan dibesarkan oleh Papa i Danda.
Papa i Danda sendiri “mampomulika-menurunkan anak-anak yang kemudian dikenal sebagai rumpun keluarga Tabalu dan Kaumba.
Yang masih terhitung sebagai sanak keluarga serumpun dengan Ngkai Papa i Danda dan Ngkai nDuwa adalah; rumpun keluarga Papa i nDori yang menurunkan sanak keluarga Sira Ngkai Ule, rumpun keluarga Sira Ngkai Papa Melempo-Tadjongga (meninggal dan berkubur di Watuawu), Sira Ngkai Banumbu dan Sira Ngkai Tonahi.

Kembali ke Tama Meli, setelah meninggalnya Ngkai Papa i Danda (Ngkai Tabalu/Kaumba), praktis Tama Meli (yang muda remaja dan sudah bersekolah di Pandiri yang kemudian dipindahkan ke Kuku) mengikuti pamannya yaitu Ngkai Talasa. Bisa dikatakan Tama Meli menjadi pengawal pribadi sekaligus orang kepercayaan dari Ngkai Talasa, terutama dalam soal mendampingi dalam soal adat istiadat. (untuk urusan ekonomi rumah tangga dan mengurus kebun-kebun kelapa, Ngkai Talasa mempercayakan pengurusannya pada keponakannya, Sira Papa i Lamungge Kaumba).
Dalam kedudukan itulah maka Tama Meli bisa bersahabat dengan salah seorang anak mantu dari Papa i Wunte yaitu Sira P. Sigilipu (maaf, saya kurang tahu nama mpompaindo beliau). Persahabatan mereka berlangsung mulai dari Tentena ketika Pak P. Sigilipu menjadi guru, Witi Mokole di Tentena sampai perpisahan mereka ketika Pak P. Sigilipu ditangkap penjajah Jepang dan memenjarakan yang bersangkutan dan meninggal dalam penjara Jepang di Makasar ( bersama P. Sigilipu yang turut ditangkap dan dikirim ke penjara di Makasar antara lain ; Ngkai L. Molindo, Ngkai M. Tamboeo, Ngkai J. Pelima, ,Ngkai T. Nggeawu, Ngkai T. Magido, Opa Pangemanan (meninggal di Penjara Jepang Makasar), Ngkai M. Tampodinggo, Ngkai L. Lolo, Ngkai M. Poto, dan Ngkai L. Banatau, mereka adalah para guru dan atau pendeta Klasis di GKST waktu itu) .

Kemudian Tama Meli di Baptis di Pandiri, beberapa tahun setelah pembaptisan Papa i Wunte di Kasiguncu. Beliau menjadi seorang Kristen, hanya untuk bisa sekolah dan bukan karena pertobatan, kesadaran diri akan keimanan dan kepercayaan akan keKristenan. Bila Ngkai Papa i Wunte benar-benar menjadi seorang Kristen yang telah benar-benar meninggalkan praktek agama aslinya, Molamoa. Maka Tama Meli bersikap mendua, KTP Kristen tapi tetap Molamoa. Hal ini diperparah dengan selalu menempel pada pribadi Ngkai Talasa yang tetap mempertahankan keyakinannya untuk menyembah Pue Palaburu sampai ajalnya. Bila Papa i Wunte telah berganti ke budaya penganut Kristen yang foto copy keKristenan di Tana Belanda, maka Tama Meli menjadi penganut semi Kristen yang sangat dipengaruhi oleh budaya Poso. Disitulah perbedaan antara Ngkai Papa i Wunte dan Tama Meli.

Suatu ketika, mungkin setahun sebelum Tama Meli meninggal di Watuawu,(tahun 1970an) saya bertanya, kenapa Tama Meli yang mengaku Kristen tetapi di rumahnya (terutama di kamarnya) begitu banyak asesori atau pernak-pernik laksana tempat praktek dukun. Dengan senyumnya yang khas yang menampakan gigi yang hitam kemerah-merahan karena “teula” sirih pinang beliau menjawab “,….Eeee, pura-pura se’i kamainya ungkai Pue mo se’e. Pue Ala setu nce’emo se’e anu mampoto’o Pue Palaburu…” (semuanya ini datangnya juga dari Tuhan. TUHAN ALLAH itu juga bernama TUHAN PALABURU).

Di masa tua, yang mempersatukan mereka hanyalah penyakit. Papa i Wunte dalam usianya yang lanjut, walau dengan tangan dan lutut gemetar, tetap setia kepada Tuhan Yesus. Tetap konsisten percaya dengan pesan Injil. Sedang Tama Meli, yang juga mencapai usia 90an tahun, ia tetap berbalik arah. Dengan sadar, ia memutuskan untuk menolak beriman kepada Tuhan Yesus kembali kepada Tuhannya, Pue Palaburu.

tags: , , ,

Berita Terkait