Sulteng Paling Siap Implementasikan SLIN

Kamis, September 10th 2015. | Berita Lokal


Sulteng Paling Siap Implementasikan SLIN

Ketua Pokja SLIN Kementerian Kelautan dan Perikanan Heryanto Marwoto (kiri) saat meninjau PPI Donggala beberapa waktu lalu. (ANTARANew/Rolex Malaha)

Kita masih butuh pabrik es balok dan gudang pendingin portable serta alat-alat transportasi hasil perikanan baik kendaraan darat maupun laut, ujarnya.

Berita Terkait

Palu (antarasulteng.com) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
mempersiapkan 13 provinsi di Indonesia untuk mengimplementasikan Sistem
Logistik Ikan Nasional (SLIN) pada 2016 dan Sulawesi Tengah dinilai
sebagai daerah yang paling siap untuk itu.

“Kami memang mempersiapkan 13 provinsi untuk dibantu
mengimplementasikan SLIN, namun baru Sulawesi Tengah yang telah memiliki
kelompok kerja (Pokja) SLIN. Mudah-mudahan Sulteng akan menjadi daerah
kedua di Indonesia yang memiliki SLIN setelah Sulawesi Tenggara,” kata
Ketua Kelompok Kerja SLIN KKP Herianto Marwoto di Palu, Selasa malam.

Usai menghadiri pertemuan Pokja SLIN Sulawesi Tengah membahas
kesiapan Sulteng mengimplementasikan SLIN, Marwoto mengatakan daerah ini
telah memiliki sarana dan fasilitas yang cukup memadai sehingga KKP
tinggal mengintervensi hal-hal tertentu dan SLIN sudah bisa operasional.

Selain itu, Sulteng telah punya ‘road-map’ lengkap dengan kajian-kajian mendalam implementasi SLIN yang
melibatkan berbagai pihak terkait seperti akademisi, pengusaha
perikanan, dan para nelayan penangkap ikan terkait implementasi SLIN
tersebut.

Ketika ditanya bentuk intervensi apa saja yang akan dilakukan KKP,
Marwoto yang mantan Dirjen Perikanan Tangkap KKP itu mengatakan hal itu
tergantung kebutuhan di daerah.

“Kami berharap program SLIN ini akan tumbuh dari bawah dan pusat tinggal membantu hal-hal yang diperlukan,” ujarnya.

Sedangkan Kepala Dinas KP Sulteng Hasanuddin Atjo mengemukakan
daerahnya siap mengimplementasikan SLIN berbasis pelabuhan perikanan di
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Ogotua, Kabupaten Tolitoli dan
Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala, Kabupaten Donggala.

Kedua pelabuhan ini telah memiliki fasilitas dasar seperti dermaga
yang memadai, TPI, listrik, air bersih, gudang pendingin, pabrik es dan
instalasi pelayanan bahan bakar untuk nelayan meski belum memenuhi
kebutuhan sebuah SLIN.

“Kita masih butuh intervensi lagi dalam peningkatan kapasitas
pabrik es balok dan gudang pendingin (cold storage) khususnya yang bisa
dipindah-pindahkan serta alat-alat transportasi hasil perikanan baik
kendaraan darat maupun laut,” ujarnya.

Dia menjelaskan SLIN merupakan salah satu kegiatan strategis di
sektor KP yang dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap
peningkatan kesejahteraan nelayan sekaligus mendorong pertumbuhan
ekonomi daerah dan nasional.

Manfaat utama SLIN adalah fungsi stabilisasi stok dan harga. Di
saat musim ikan, ikan-ikan yang berlebih dapat dibekukan dan disimpan di
gudang penyimpanan sebagai stok untuk dipasok ke pasar atau industri
saat musim paceklik tiba. Demikian juga untuk produksi perikanan darat
atau budidaya.

Dengan demikian, katanya, sistem ini akan berdampak terhadap
stabilitas harga di tingkat nelayan maupun konsumen, jaminan pemenuhan
bahan baku untuk industri sekaligus dapat menekan laju inflasi serta
membuka peluang pengembangan industri olahan ikan di daerah-daerah. (T.A055)

Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © 2015

Sumber Artikel

Berita Terkait