SINGKANA

By Pramaartha Pode

Ibarat kisah kisah yunani kuno, terdapatlah satu kisah di Napu mengenai seseorang yang bernama Singkana. Singkana dalam ingatan masyarakat memiliki kesaktian yang luar biasa.

Singkana adalah nama seorang kepala perang yang karena kehebatannya selalu membuat Napu aman dan dapat memukul musuh dan menghalau mereka sampai ke dataran Lindu dan Kulawi. Tidak banyak kisah yang bisa ditulis tentang Singkana, namun terdapat beberapa kisah mengenai Singkana antara lain ketika Singkana hendak dibunuh oleh orang-orang Winowunga.

Pada suatu ketika orang-orang Winowunga datang menyergap Singkana, namun tidak menemukannya dan hanya menemukan pedang dan tombaknya. Oleh mereka, pedang dan tombaknya dibawah pulang ke desa winowunga dan menyembunyikannya dalam Kuil Lobo.

Suatu saat diadakan pesta di Winowunga. Diam-diam Singkana datang ke winowunga. Singkana menyamar dan datang bersama dengan para gembala kerbau yang mengantarkan kerbau ke Winowunga pada waktu malam. Orang-orang tidak mengenalnya padahal Singkana duduk diantara mereka. Dia hanya mendengarkan cerita mereka kalau Singkana akan datang menyerbu dan mendengar dimana senjatanya disembunyikan.

Pada waktu makan, Singkana tidak makan apa apa sebab kalau dia sudah makan bersama sama dengan musuhnya, kekuatannya melawan musuhnya akan hilang. Setelah orang-orang dan pemuka rakyat tidur nyenyak dalam lobo, Singkana merayap perlahan-lahan ketempat senjatanya disimpan. Lalu ia memotong kepala mereka satu demi satu dan sebelum orang menangkapnya Singkana sudah turun ke tanah lalu melompat lewat pagar tembok tanah dan menghilang di kegelapan.

Singkana tercatat juga berkelahi dengan orang besoa, dan banyak dari mereka yang dibunuhnya. Pada suatu waktu orang-orang besoa dan orang-orang to bada datang mengepung dia didesanya, desa Halodo disebelah selatan desa lamba dan berhadap-hadapan dengan desa palio. Tetapi ia membunuh beratus-ratus orang dari mereka.

Namun ketika tiba di rumah, neneknya bercerita bahwa pada waktu Singkana tidak ada di rumah ada orang-orang to pebato datang dan memotong kepala ibunya. Nama ibunya Ntalingao. Ketika mendengar hal itu ia suruh neneknya cepat sediakan bekal baginya untuk mengejar orang orang pebato. Ia berangkat sendirian dan ia dapati mereka dalam bivak dekat hulu sungai Tongkararu. Dengan hati-hati dia mendekati bivak itu. Orang-orang To Pebato sudah dengar ada suara berisik dan mereka bertanya “Apa itu barangkali Singkana“? tetapi pemimpin mereka menenangkan mereka.

Ketika ia melihat kepala ibunya tergantung dekat perapian, timbul amarahnya bukan kepalang. Sekarang dekat dengan musuhnya, iapun meniup jimatnya, lalu semua orang dalam bivak itu tertidur lelap. Lebih nyenyak lagi mereka tidur ketika ia sekali lagi meniup pada jimatnya.

Ia tiup api di bivak sampai menyala, dan pada cahaya api itu ia membunuh semua orang disitu kecuali pemimpin mereka, hanya tangan kanannya saja yang dipotong, kemudian disuruhnya orang itu pulang ke kampung halamannya untuk menceritakan apa yang telah terjadi.

Singkana berkata ”jikalau dalam persoalan ini orang-prang to pekurehua yangbersalah, anak cucu kami bolejh kamu aniaya, tetapi kalau kamu yang salah kami akan taruh kamu dibawah perintah kami” Tiba di rumahnya, Singkana menguburkan kepada ibunya.

Singkana juga tercatat berperang dengan To Mene (orang mandar). Didalam perkelahiannya dengan To Mene ia menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia memegang tongkat yang dibungkus dengan kain katun merah, lalu sambil meneriakan kata kata peperangan ia sendirian menghajar musuh, dan membunuh musuh sekian banyaknya sehingga jari-jarinya tak bisa dibuka karena darah yang melekat sudah membeku.

Pada suatu waktu, singkana duduk-duduk ditepi jalan yang akan dilalui musuhnya, ketika musuh-musuh melihat dia duduk-duduk sendirian ditepi jalan mereka berkata, orang itu tentu pikirannya tidak waras. Mari kita bunuh lebih dahulu orang-orang didalam desa itu baru kita datang kepada orang itu. Tetapi ketika mereka tiba di desa mereka dapati desa itu telah kosong. Lalu musuh-musuh itu datang mencari Singkana.

Singkana membiarkan musuh-musuh itu datang mendekati dia, lalu dia berdiri dan membunuh mereka semua. Seperti Lagu Metalicca -Kill them all-.

Facebook Comments

Post Author: support

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *