SEJARAH TANAH LANGGEANI

Minggu, Agustus 16th 2015. | Poso, Sejarah

Langgeani adalah sebuah daerah yang berada di wilayah Kec. Pamona Tenggara. Berbeda dgn daerah lain disekitarnya seperti Lamusa, Onda’e, Kandela ataupun Palande yg cukup familiar di telinga kita sebagai warga Tana Poso, daerah ini kurang dikenal. Langgeani memiliki sejarah yang menarik namun terlupakan, padahal menurut beberapa pihak, daerah ini adalah asal muasal penguasa Kerajaan Luwu (Karaja Luwu). Berikut sedikit kisah sejarah yang sempat saya peroleh dari para tetua-tetua yang adalah keturunan penduduk Langgeani. Pada zaman dahulu sebagai penghuni tanah Langgeani, hiduplah 3 orang bersaudara yang berkuasa di tanah Langgeani dan di anggap sebagai tetua di Langgeani. Ketiganya memiliki kesaktian dan dalam bahasa daerah setempat di sebut “MANURU atau TAU BARAKA” sehingga mereka sangat dihormati masyarakat Langgeani. Anak pertama adalah seorang perempuan yang bernama Ndoi La’oe, anak kedua seorang laki-laki bernama Sawerigading dan yang ketiga seorang perempuan bernama Ndoi Losi.

Daerah Langgeani memiliki wilayah yang cukup luas dan untuk memudahkan masyarakat Langgeani mengenali bagian-bagian tanah di Langgeani, Ndoi La’oe dan kedua adiknya memberikan nama. Nama-nama daerah langgeani adalah sebagai berikut : Pondomu, Toba, Mongaanya, Tapa, Pantinja, Tiniti, Buyu Mpinamuya, Tomba Buya, Tabeso, Polonco, Tando Ngkuni, Mindo, Poende Ntoligowi, Tama Lepa, Tampo Iwali, Pendele, Bela, Jaya Boti, Pantoya, Tando Mbilira, Tewawence, Baeki, Pompauba Angga, Powoi Bangke, Powoi Kodi, Nggongi, Tana Maombo, Buyu Ngkulahi, Loka dan Tamungkusoro.

Langgeani dikenal memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, terutama ikan air tawar yang banyak disungai-sungai yang mengelilingi daerah itu. Ikan air tawar yang merupakkan kekayaan alam tersebut terdiri dari ikan gabus (Bou), gete-gete (Kosa), ikan mas dan sidat/sogili (Masapi). Suatu hari sekelompok orang mencari ikan didaerah langgean dengan cara memancing, karena banyaknya ikan yang diperoleh saat itu mereka memutuskan untuk mengeringkan sebagian tangkapannya dengan cara difufu atau diasapi (Ndatapa) agar tetap awet sampai mereka kembali kedesa mereka masing-masing. Namun karena kelelahan setelah seharian menangkap ikan pada malam harinya mereka tertidur dan tidak ada seorangpun yang menjaga api yang digunakan untuk mengasapi ikan tangkapan mereka. Keesokan harinya ikan-ikan tersebut membusuk dan tidak ada satupun yang bisa dibawa pulang.

Karena banyaknya ikan yang mati saat itu, bau busuk yang sangat menyengat sampai di Langgeani. Ndoi La’oe sebagai seorang tetua di Langgeani memerintahkan masyarakatnya untuk mencari tau darimana asal bau busuk itu. Masyarakat Langgeani mulai mencari tau dan menemukan asal bau itu, lalu membawa para pemancing pada Ndoi La’oe. Ndoi La’oe mulai menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan para pemancing itu menceritakan kejadian yang mereka alami sehingga ikan mereka membusuk. Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dengan penuh bijaksana Ndoi La’oe membebaskan para pemancing itu. Namun hatinya tidak tenang, karena hal tersebut masih akan terjadi apabila para pemancing tetap tertidur saat malam. Ndoi La’oe mulai mencari cara membuat para pemancing tetap terjaga saat malam. Setelah melakukan pertemuan bersama kedua adiknya, Ndoi La’oe dan saudaranya memutuskan untuk mencari nyamuk (Nojo) didaerah Tando Mbono/Tando Ncalae. Nyamuk-nyamuk itu dibawah ke daerah Langgeani dan dipelihara oleh Ndoi La’oe. Nyamuk-nyamuk tersebut dibawa untuk membuat para pemancing tetap terjaga sepanjang malam. Semenjak saat itu tidak ada lagi ikan yang busuk karena para pemancing akan tetap terjaga sepanjang malam.

Konon Langgeani juga memiliki pasukan Kera yang selalu menjaga daerah Langgeani dari serangan musuh. Dengan kesaktian yang dimiliki oleh Ndoi La’oe dan kedua adiknya, mereka menjadikan kera di Langgeani patuh pada perintah dan tidak akan merusak tanaman warga. Kera Langgeani tidak akan mengambil makanan dari tanaman warga apabila tidak ada izin dari warga. Bahkan masyarakat Langgeani sering meminta bantuan dari Kera untuk memanen buah yang tidak bisa di jangkau oleh manusia, seperti durian. Namun dari semua keunggulannya, kera di Langgeani lebih dikenal dengan keahliannya berperang. Kera-kera di Langgeani ketika itu merupakkan pasukan perang sangat tangguh dan berani. Bahkan apabila ada perang antar suku, kera Langgeani akan berada di barisan depan pasukan saat itu.

Kekayaan fauna Langgeani yang lain seperti rusa dan babi hutan begitu terkenal. Langgeani juga dikenal sebagai tanah yang subur, terutama banyaknya tanaman sagu di daerah Langgeani yang pada saat itu merupakan salah satu makanan pokok didaerah Langgeani dan sekitarnya. Berita kekayaan alam tanah Langgean tersiar disetiap desa sekitar Langgeani. Sehingga banyak orang yang datang ke Langgeani baik untuk berburu, memancing maupun bertukar hasil alam atau barter. Kehidupan masyarakat Langgeani saat itu begitu damai dan makmur karena mereka memiliki pemimpin yang sangat bijaksana. Ndoi La’oe bukan hanya terkenal dengan kebijaksanaanya, namun dikenal sebagai seorang gadis yang sangat cantik dan memiliki wajah yang berkilauan bagaikan piring kaca, sehingga banyak pemuda yang ingin mempersuntingnya. Namun setiap lamaran yang datang di tolaknya karena menurut Ndoi La’oe belum ada pemuda yang sepadan dengannya. Karena kecantikkannya, sang adik, Sawerigading diam-diam menaruh hati padanya. Sawerigading sangat mencintai dan mengagumi kakaknya bahkan dia mulai ingin melindungi dan memiliki kakaknya lebih dari seorang adik. Sawerigading begitu ingin mempersunting kakaknya.

Pada suatu hari Sawerigading dan kakaknya Ndoi La’oe duduk di beranda rumah bersenda gurau. Sawerigading merasa saat itu adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Tanpa berpikir panjang, Sawerigading berkata, “Saya ingin menikah dan saya telah telah mecari wanita yang tepat namun sampai sekarang tidak ada satupun yang menurut saya tepat, saat ini wanita yang saya cintai adalah kakak.” Mendengar hal itu Ndoi La’oe sangat terkejut dan dengan penuh bijaksana Ndoi La’oe berkata , “Adikku, kita kakak beradik dan sebagai orang yang di hormati di daerah ini, tidak mungkin kita menikah dan memberikan contoh yang tidak baik bagi warga. Kita harus patuh pada aturan adat yang ada, oleh karena itu sebaiknya engkau pergi mencari wanita yang sepadan denganmu.” mendengar jawaban sang kakak, Sawerigading mengurungkan niatnya untuk menikahi sang kakak dan mulai mencari wanita lain.

Waktu terus berlalu, Sawerigading masih terus mencari wanita yang akan di nikahi, namun tidak ada satupun wanita yang menurutnya mampu mengimbangi kesaktian yang dimilikinya. Sawerigading mulai merasa jenuh dan putus asa, dia begitu ingin menikah dan berkeluarga. Sawerigading merasa bahwa kakaknyalah yang pantas menjadi pendamping hidupnya. Sawerigading juga begitu mencintai kakaknya dan keinginannya untuk memiliki kakaknya begitu besar. Hingga suatu ketika disaat kakaknya Ndoi La’oe sedang pergi mandi disungai Bela yang merupakan tempat permandian khusus bagi ketiga bersaudara tersebut, Sawerigading mengintipnya dan duduk diatas pakaian kakaknya. Sawerigading berharap dengan melakukan hal itu kakaknya akan beubah pikiran. Namun yang terjadi kemudian adalah Ndoi La’oe sangat terkejut, dia begitu marah dan malu. Ndoi La’oe merasa begitu kecewa karena adik kesayangannya telah meremehkannya dan mulai tidak menghormatinya lagi. Dalam kemarahannya Ndoi La’oe meminta adiknya untuk mengembalikan pakaiannya, namun sang adik telah di butakan oleh cinta dan tidak mau memberikan pakaian kakaknya. Sang adik begitu keras kepala dan tetap ingin menikahi kakaknya, namun kakaknya tidak mau mengabulkan permintaan yang menurutnya menyalahi adat istiadat itu. Ndoi La’oe dan Sawerigading mulai adu mulut karena perbedaan pendapat tersebut.

Ndoi La’oe merasa tidak sanggup untuk menanggung semua aib akibat perbuatan adiknya sendiri. Dia tidak mungkin kembali kerumah tanpa menggunakan pakaian. Dalam pikiran Ndoi La’oe adalah apa yang akan dikatakkan oleh masyarakat yang selama ini begitu memuja dan menghormatinya bukan hanya karena kecantikannya tapi dengan kebijaksanaannya. Ndoi La’oe merasa begitu tertekan, sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dan lari ke sungai Pu’a Laa. Sang adik mencoba untuk mencegah kakaknya, namun Ndoi La’oe telah bulat tekad dan menjatuhkan dirinya disungai Pu’a Laa. Setelah menjatuhkan diri, Ndoi La’oe tidak pernah kembali lagi. Sawerigading mencari kakaknya di sungai Pu’a Laa tersebut dan terus menyesali perbuatannya. Sawerigading tidak pernah menyangka akibat perbuatannya akan sejauh ini. Setelah lama mencari dan tidak menemukan kakaknya lagi, akhirnya Sawerigading memutuskan untuk kembali ke desa.

Sesampainya di rumah, Sawerigading menceriterakan kepada Ndoi Losi adiknya bahwa kakaknya Ndoi La’oe telah menjatuhkan diri ke sungai Pu’a Laa dan apa yang menyebabkan kakaknya mengakhiri hidupnya. Mendengar hal tersebut Ndoi Losi sangat sedih dan menangisi kepergian kakaknya. Ndoi Losi memerintahkan masyarakat Langgeani untuk mencari kakaknya di sungai Pu’a Laa, namun tidak ada satupun yang menemukkannya. Ndoi Losi berusaha menyembunyikkan apa yang telah terjadi di antara kedua kakaknya, namum masyarakat Langgeani mendesak Ndoi Losi untuk menceriterakan apa yang sebenarnya terjadi. Masyarakat Langgeani kehilangan pemimpin yang begitu mereka cintai. Ndoi Losi merasa tidak tega membiarkan rakyatnya terus bersedih. Akhirnya Ndoi Losi bersedia memberitahukan kepada rakyatnya apa yang telah terjadi. Ndoi Losi mengumpulkan para tetua-tetua kampung untuk berkumpul dan mengadakan musyawarah. Para tetua-tetua kampung saat itu begitu terkejut mendengar penuturan Ndoi Losi tentang apa yang telah terjadi. Maka terjadilah perdebatan antara tetua-tetua kampung apakah Sawerigading akan diberikan sanksi atau tidak dan sanksi apa yang akan diberikan pada Sawerigading. Menurut aturan adat di Langgeani saat itu, Sawerigading harus diusir keluar dari kampung dan tidak boleh kembali lagi agar tidak terjadi murka Pue Mpalaburu. Namun para tetua adat yang berpendapat bahwa Sawerigading tidak pantas mendapat hukuman seperti itu, karena Sawerigading sebagai anak kedua yang akan menggantikan kakaknya Ndoi La’oe untuk memimpin daerah Langgeani. Ndoi Losi yang tidak ingin melihat rakyatnya terpecah karena perbedaan pendapat tersebut, lalu mengambil keputusan bahwa Sawerigading harus mematuhi hukum adat yang ada. Sawerigading harus meninggalkan daerah Langgeani dan tidak boleh kembali lagi.

Dengan berat hati Sawerigading meninggalkan daerah Langgeani dengan membawa sebatang pohon sagu yang diberikan oleh masyarakat Langgeani dengan harapan dimanapun Sawerigading berada akan tetap mengingat tanah asalnya. Sawerigading begitu menyesali perbuatannya, dia bukan hanya kehilangan kakaknya tapi juga adik dan rakyat Langgeani yang begitu ia cintai. Sawerigading terus berjalan meninggalkan daerah Langgeani, menelusuri jalan setapak dan hutan belantara. Setelah berjalan seharian tanpa istirahat Sampailah Sawerigading didaerah Lamusa. Sawerigading menemui ketua adat di Lamusa dan menceriterakan maksudnya datang ke Lamusa. Namun Sawerigading tidak bermaksud untuk tinggal dan menetap di Lamusa. Setelah menginap beberapa hari di Lamusa, dia ingin melanjutkan perjanalannya kearah selatan. Sebelum meninggalkan tanah Lamusa, Sawerigading mengucapkan sumpah (MPORAPA) diseberang sungai Lamusa yang menyatakan bahwa karena dia di usir dari tanah Langgeani, maka apabila Sawerigading menyeberangi sungai Lamusa dan bermaksud kembali ke Langgeani, kera di Langgeani sebagai pasukan perang Langgeani akan marah/murka (MAMUSU) dan menyerang Sawerigading. Untuk menandai kepergiannya Sawerigading meninggalkan sebuah baju yang tidak memiliki jaitan (KABOSUNGA). KABOSUNGA itu tidak boleh dibawah menyeberangi sungai Lamusa, KABOSUNGA tersebut harus tetap berada di seberang sungai Lamusa. Apabila KABOSUNGA menyeberang sungai Lamusa akan terjadi bencana alam atau puting beliung di tanah Lamusa.

Setelah mengucapkan sumpah (MPORAPA) berangkatlah Sawerigading dan melanjutkan perjanannya kearah selatan Lamusa dengan tetap membawa pohon sagu yang diberikan oleh masyarakat Langgeani. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sampailah Sawerigading di daerah yang masih sangat asing baginya. Sawerigading tiba di tanah Wotu dan terus melakukan perjalanan menelusuri daerah itu. Dia melihat masyarakat Wotu begitu menderita karena kekurangan makanan. Sawerigading teringat akan tanah Langgeani yang begitu subur dan makmur. Sawerigading ingin membantu masyarakat didaerah itu, namun tidak ada harta benda yang di milikinya untuk diberikan, hanya ada pohon sagu yang dibawahnya dari Langgeani. Sawerigading melihat daerah Wotu adalah daerah yg berrawa-rawa dan sagu akan tumbuh subur di daerah itu, lagipula dia merasa perjalanannya sudah cukup jauh dari Langgeani. Maka Sawerigading melemparkan pelepah pohon sagu yang dibawahnya itu ditanah Wotu, dengan harapan akan tumbuh subur seperti di Langgeani dan dapat memberi penghidupan yang cukup bagi masyarakat di daerah Wotu. Dan ajaibnya, pohon sagu itu dapat tumbuh menjadi pohon sagu yang begitu subur, hingga masyarakat Wotu tidak pernah kekurangan makanan lagi.

Sawerigading meninggalkan Wotu, dia bermaksud mencari pasangan hidupnya. Sawerigading terus berjalan dengan tetap berharap akan ada wanita yang sepadan dengannya dan dapat mengimbangi kesaktian yang dimilikinya. Sawerigading tiba di daerah Luwu dan memulai hidup yang baru disana. Dalam penantian yang panjang, suatu ketika Sawerigading melihat seorang gadis sedang duduk diatas batu. Gadis itu berparas cantik dan memiliki rambut lurus panjang. Karena kecantikkannya Sawerigading jatuh cinta pada pandangan pertama dan ingin berkenalan dengannya. Sawerigading mendekati wanita itu, namun tiba-tiba dia menghilang entah kemana. Sawerigading begitu penasaran dan semakin yakin bila wanita itulah yang pantas dijadikan pendamping hidup olehnya. Sawerigading mencari wanita itu disekeliling batu dan menemukan sehelai rambut. Maka Sawerigading menggunakan kesaktiannya (KABARAKA) untuk mengetahui keberadaan wanita itu. Dia menemukan sebuah gua yang ditutupi oleh batu besar, lalu masuklah Sawerigading kedalam gua dan bertemu dengan wanita itu. Sawerigading begitu terpesona karena kecantikkan gadis itu. Dia mempersunting wanita itu menjadi istrinya. Sawerigading akhirnya menemukan cinta sejati dan kebahagiaannya bersama wanita cantik itu.

Setelah lama waktu berselang, masyarakat Langgeani mendengar bahwa Sawerigading telah menjadi Raja di Luwu memimpin kerajaan Luwu (KARAJA LUWU) yang berkuasa saat itu dan memiliki wilayah dari Parigi, Poso (termasuk Langgeani), Wotu dan Luwu. Kerajaan Luwu hidup sangat makmur dan sejahtera. Setiap tahun orang-orang yang ada di Pamona Poso seperti orang Onda’e, orang Palande, orang Lamusa dan yang lainnya pergi mengantarkan Upeti (MEPUE) kepada Raja Luwu, tapi orang Langgeani tidak pernah mengantar Upeti (MEPUE) kepada Raja Luwu karena Langgeani tempat asal Raja Luwu dan pemimpin suku Langgeani merupakan saudara kandung Sawerigading yang merupakan Raja Luwu (Datu Luwu). Para utusan yang mengantarkan Upeti akan membawah hadiah dari Datu Luwu ketika kembali ke suku mereka. Hadiah tersebut berupa beras sangrai (Wea Ndasole/Ndasongara) agar padi-padi di sawah maupun diladang akan berisi dan panen akan melimpah.

Suatu ketika penduduk Langgeani mendengar bahwa akan terjadi perang di pusat kerajaan Luwu dan Sawerigading meminta bantuan pasukan kera di Langgeani (BOTI LANGGEANI) untuk membantunya dalam perang tersebut. Ndoi Losi sebagai pemimpin Langgeani saat itu mempersiapkan pasukannya dan memerintahkan mereka untuk segera pergi menemui Sawerigading. Maka berangkatlah pasukan kera dari Langgeani menuju ibu kota Karaja Luwu di Luwu (sekarang dikenal dengan Palopo). Setelah sampai di sungai Lamusa pasukan kera tidak dapat menyeberangi sungai itu. Pemimpin Lamusa mengatakan bahwa Sawerigading telah mengucapkan sumpah (MPORAPA) sebelum meninggalkan Lamusa. Maka pasukan kera kembali ke Langgeani dan menceriterakan kejadian yang mereka alami kepada Ndoi Losi. Ndoi Losi yang mendengar hal itu sangat kecewa dan mengirimkan kabar kepada Sawerigading bahwa Langgeani tidak bisa membantunya dalam perang karena sumpah yang telah ia ucapkan di Lamusa.

Ndoi Losi adalah anak ketiga dan merupakan anak bungsu perempuan. Sepeninggal kedua kakaknya Ndoi Losi bertanggung jawab mengatur kehidupan di Langgeani dan menjadi pemimpin di suku ini. Ndoi Losi tumbuh menjadi pemimpin yang bijaksana seperti kedua kakaknya Ndoi La’oe dan Sawerigading. Ndoi Losi mengatur waktu-waktu untuk bercocok tanam setiap tahunnya sehingga panen selalu melimpah. Masyarakat Langgeani sangat menghormati dan menyayangi pemimpin mereka. Mereka selalu patuh pada aturan yang diberikan oleh Ndoi Losi. Setiap tahun masyarakat Langgeani seperti suku-suku lain di sekitarnya selalu merayakan pesta panen (PADUNGKU). Sudah tradisi setiap suku yang merayakan pesta panen (PADUNGKU) akan mengundang suku-suku atau kampung-kampung yang lain untuk merayakan padungku. Pesta panen (PADUNGKU) ditujukan sebagai ungkapan syukur kepada PUE MPALABURU atas panen yang melimpah. Pada suatu waktu suku Langgeani mengadakan Padungku untuk merayakan panen tahun itu. Masyarakat langgeanipun mengundang suku-suku sekitar Langgeani, sperti suku Watu Mora’a. Tibalah hari yang ditentukan untuk mengadakan Padungku. Masyarakat langgeani mempersiapkan diri dengan menyiapkan makanan seperti inuyu (nasi bambu), winalu (nasi bungkus), ituwu (sayur yang dicampur ikan/daging, dimasukan kedalam bambu lalu dibakar) sayur arogo-onco dan lain-lain. Semua orang dari suku-suku lain berdatangan untuk memenuhi undangan dan berpesta bersama. Pesta panen (PADUNGKU) dilaksanakan sehari semalam dengan tari-tarian dero (MOENDE). Para tamu datang ke rumah-rumah penduduk suku untuk mengucapkan selamat serta menyantap makanan yang disiapkan pemilik rumah. Setelah pesta selesai, ke’esokan harinya para tamupun pulang dengan membawa makanan yang diberikan oleh masyarakat suku Langgeani (TINUKU/TAMPIAS). Dalam perjalanan pulang, mereka bertemu dengan masyarakat dari suku Watu Mora’a yang bermaksud pergi ke Langgeani menghadiri padungku. Masyarakat suku Watu Mora’a bertanya pada rombongan orang yang mereka temui itu mengenai pesta panen yang akan mereka hadiri, ternyata suku Watu Mora’a mendapatkan informasi yang salah mengenai waktu pelaksanaan pesta panen tersebut (Salaoyu). Mereka sudah terlambat, karena pesta panen sudah selesai dan orang-orang yang bertemu dengan mereka adalah tamu yang sudah kembali dari acara pesta panen tersebut. Masyarakat Watu Mora’a yang merasa kecewa karena mereka sudah setengah jalan menuju Langgeani memutuskan untuk membuat pesta panen dengan melakukan tarian dero (MOENDE) di tempat mereka bertemu dengan orang-orang yang telah kembali dari Langgeani. Mereka sangat bersuka cita dan melakukan tarian dero (MOENDE) dengan menggunakan gelang kaki yang berat. Dan untuk mengenang dan menandainya, tempat itu diberi nama Poende Ntoligowi.

Hari beganti hari, tahun berganti tahun masyarakat suku Langgeani terus menjalankan kehidupan dan tradisi mereka dengan damai. Suatu ketika disaat musim tanam tiba, Ndoi Losi memimpin pelaksanaan tanam padi secara gotong royong (MESALE) diladang. Pada setiap pelaksanaan gotong royong Ndoi Losi akan memberikan aturan ataupun pantangan yang harus dipatuhi. Kali ini aturan atau pantangan yang harus dilakukan adalah selama gotong royong berlangsung tidak boleh ada yang ribut. Gotong royong harus dilaksanakan dengan tenang, namun masyarakat Langgeani begitu bersemangat dan larut dalam gotong royong itu lupa pada pantangan yang diberikan Ndoi Losi. Ada yang bergotong royong sambil bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak, mereka begitu gaduh. Melihat hal tersebut Ndoi Losi merasa tidak tenang dan gelisa, dia sangat takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun Ndoi Losi menyembunyikan kegelisahan hatinya dan tidak menghentikan penanaman padi saat itu. Ndoi Losi kemudian membagikan beni padi yang akan ditanam, tiba-tiba datanglah angin puting beliung. Tanpa disadari Ndoi Losi terangkat kelangit bersama puting beliung tersebut dan tidak pernah ditemukan lagi. Masyarakat Langgeani akhirnya mengerti bahwa mereka telah melanggar aturan yang telah diberikan dan menyesalinya. Namun penyesalan mereka tidak akan mengembalikan Ndoi Losi. Menyadari hal itu, masyarakat Langgeani meneruskan kehidupan mereka dengan selalu melaksanakan aturan yang telah ada.

Masyarakat Langgeani terus beranak cucu dan bertambah banyak. Mereka hidup damai dan makmur sepeninggal ketiga pemimpin yang memiliki kesaktian (TAU BARAKA) dan merasakan beberapa KABARAKA untuk melindungi tanah Langgeani serta mengatur kehidupan masyarakat Langgeani saat itu yang ditinggalkan oleh ketiga pemimpin mereka. Hal-hal tersebut seperti : Setiap orang dari luar Langgeani yang mencari ikan, rusa, babi hutan dan lain-lain harus meminta izin pada penduduk Langgeani, kemudian mereka akan diminta untuk melakukan ritual adat pepamongoka digunung batu (Buyu Mpinamuya). Disebut Buyu Mpinamuya karena tempat ini merupakan tempat pertemuan pemangku adat dan orang-orang tua untuk mengadakan rapat tentang hal-hal penting seperti kegiatan pertanian dan waktu-waktu tanam. Sampai saat ini setiap orang yang akan masuk Langgeani harus mengadakan ritual adat pepamongoka. Orang-orang yang akan melakukan ritual adat pepamongoka harus mempersiapkan diri dengan cara : Harus menggunakan pakaian adat, perempuan akan menggunakan ikat kepala dari kain untuk perempuan (Motali), baju adat buat perempuan (Karaba), Rok (Topi) dan laki-laki akan menggunakan ikat kepala dari kain untuk laki-laki (Motali), baju adat buat laki-laki (Kabosunga). Bahan-bahan yang harus disiapkan untuk melakukan ritual adat pepamongoka sebagai sesajen adalah daun tembakau (Ira Tabako) yang diiris halus, daun sirih (Ira Laumbe), buah pinang (Mamongo), kapur sirih (Teula) dan telur ayam yang diletakan didalam bakul (bingka) yang dianyam dari dari daun pandan (tole). Jika semua syarat telah dipenuhi, selanjutnya susun 7 batu yang ada digunung batu (Buyu Mpinamuya) lalu letakkan bakul yang berisi sesajen tadi diatas batu tersebut dan mulai mengatakan maksud kedatangan didaerah Langgeani. Setiap orang yang menginap dan bermalam di Langgeani baik untuk berburu atau hal lain apabila memasak tidak boleh beras jatuh kedalam api, apabila dilanggar maka akan ada yang terjadi sehingga orang tersebut akan terus gelisah dan tidak bisa tidur pada malam hari. Orang-orang yang mencari Ikan, berburu Rusa atau Babi Hutan tidak boleh membawa barang berharaga seperti uang dan rempah-rempah seperti rica, garam dan lain-lain, tidak boleh bicara berlebihan/menyombongkan diri. Apabila dilanggar makan tidak akan mendapatkan buruan apapun. Jika pada malam hari digigit nyamuk, tidak boleh membenci nyamuk-nyamuk itu apalagi mengucapkan nama “Nyamuk (NOJO)”. Apabila dilakukan makan akan dikerubuni nyamuk dan digigiti, bahkan akan langsung sakit.

Orang Langgeani terus melanjutkan hidup mereka sampai memiliki jumlah penduduk ± 130 jiwa. Pada saat itu ada seorang wanita bernama Rundu dipersunting oleh seorang pemuda dari Palande yang bernama Bolaluwu Tindoilo. Dari pernikahan mereka dikaruniai 5 orang anak yaitu : 1. Mewa Tindoilo (Ine Mpeo) dikenal dgn kel. Ke’ayo – Tindoilo 2. Meopo Tindoilo (Ine Ntalenda) dikenal dgn. Kel. Gintoya – Tindoilo. 3. Magande Tindoilo (Papa Ntadolu) dikenal dgn Kel. Tindoilo – Dinggou. 4. Pondentje Tindoilo (Papa Mpandedikenal dgn. Kel. Tindoilo – Tosinde. 5. Benda Tindoilo (Papa Melfin), beliau seorang pendeta/pendiri Gereja Isa Almasih,Mentang dalam Jaksel.

Pada saat Belanda menjajah Indonesia dan mulai masuk ke Indonesia Timur dengan membawa misi penginjilan agama Kristen, semua orang yang tinggal di gunung-gunung perintahkan untuk turun ke lembah agar Belanda dapat mengajarkan cara bercocok tanam yang baik dan diperintahkan membuat sawah, menanam kapas, yute dan lain-lain. Hasil pertanian tersebut dibeli Belanda dengan harga murah. Namun penduduk Langgeani tidak mengindahkan perintah dari Belanda, mereka tidak ingin meninggalkan kampung halaman mereka. Mengetahui hal tersebut Belanda begitu marah dan memerintahkan masyarakat Langgeani untuk bergabung dengan suku-suku lain yang telah lebih dahulu pindah kedaerah lembah. Maka penduduk Langgeani mulai berpencar dan tinggal terpisa-pisa, ada yang memutuskan untuk pindah ke daerah Onda’e, ke desa Saemba dan desa-desa lain yang dekat dengan Langgeani.

Tinggallah sebuah keluarga kecil, yaitu keluarga Bapak Bolaluwu Tindoilo yang tidak meninggalkan Langgeani dan tetap tinggal. Pada saat itu Bapak Bolaluwu Tindoilo dipercayakan oleh orang Langgeani untuk tetap menjaga keutuhan tanah Langgeani dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya, seperti kera dan pohon sagu. Pada suatu hari Belanda datang untuk menjemput paksa keluarga kecil tersebut. Namun karena Belanda datang dengan segalah kesombongannya dan begitu rusuh, maka ketika sampai dihalaman rumah Bapak Bolaluwu Tindoilo (Ngkai Pungku) kera-kera mulai mengelilingi seluruh halaman rumah Bapak Bolaluwu Tindoilo. Belanda mulai ketakutan dan memohon kepada Bapak Bolaluwu Tindoilo untuk memerintahkan kera-kera tersebut pergi. Namun kera-kera tersebut sudah terlanjur marah dan tidak mau pergi dari halaman rumah Bapak Bolaluwu Tindoilo. Maka Bapak Bolaluwu Tindoilo berkata kepada Belanda sebaiknya kalian pulang saja dulu, nanti datang lagi dengan lebih sopan dan saya yang akan menjemput kalian sebelum memasuki halaman rumah. Setelah beberapa hari berselang datanglah Belanda untuk yang kedua kalinya ke Langgeani untuk membujuk keluarga Bapak Bolaluwu Tindoilo pindah dari Langgeani ke daerah lembah. Karena mereka datang dengan baik-baik, maka Bapak Bolaluwu Tindoilo menjemput mereka sebelum memasuki halaman rumahnya seperti yang pernah Bapak Bolaluwu Tindoilo janjikan dan para kera tidak ada lagi yang marah. Akhirnya Belanda bisa menginjakkan kaki mereka di rumah Bapak Bolaluwu Tindoilo dan mulai membujuk Bapak Bolaluwu dan istrinya untuk pindah. Dengan berat hati Bapak Bolaluwu Tindoilo dan istrinya mengiyakan permintaan Belanda. Keluarga kecil itu akhirnya meninggalkan Langgeani dan tinggal di Pape yang menurut mereka lebih dekat dari Langgeani.

Selama tinggal dan menetap di Pape, keluarga Bapak Bolaluwu Tindoilo tidak melupakan dan tetap mencintai tanah leluhurnya. Bapak Bolaluwu Tindoilo dan Istrinya masih pergi ke Langgeani untuk melihat semua yang ada disana, baik bekas kampung, kuburan tua dan semua tanaman yang ada seperti sagu. Istri Bapak Bolaluwu Tindoilo juga tidak lupa membawakan makanan untuk kera-kera Langgeani. Kera-kera tersebut selalu diberi makan oleh Istri Bapak Bolaluwu Tindoilo. Bapak Bolaluwu Tindoilo dan istrinya melakukan hal itu sampai mereka meninggal dunia. Mereka juga tidak lupa mengajarkan anak-anak dan cucunya untuk tetap menjaga dan tidak melupakan tanah leluhurnya. Karena dengan mencintai dan menjaga tanah leluhur dianggap sebagai penghormatan yang diberikan kepada para leluhur. Rasa bangga memiliki tanah leluhur dan menghormati tanah leluhur merupakan hal yang selalu ditanamkan oleh Bapak Bolaluwu Tindoilo dan istrinya kepada anak cucunya, terbukti dengan selalu menceritahkan sejarah leluhur mereka kepada anak dan cucunya.

Bukti Sejarah yang masih ada : -Sungai Pu’a Laa tempat Ndoi La’oe menjatuhkan diri -Sungai Bela tempat Ndoi La’oe dan kedua adikx mandi (permandian khusus) -Hewan peliharaan Ndoi La’oe : Nyamuk Langgeani -Pasukan perang Ndoi La’oe : Kera Langgeani -Tanaman yang pernah menjadi makanan pokok suku Langgeani : Pohon Sagu -Baju yang tidak memiliki jaitan (KABOSUNGA) peninggalan Sawerigading, ada di Lamusa sekarang dikenal dengan Korobono dan dirawat oleh Ibu Tiwi (mama Efon). -Sungai Lamusa yang merupakan salah satu saksi sumpah (MPORAPA) yang diucapkan oleh Sawerigading untuk menandai kepergiannya. -Pada jaman Ndoi Losi memimpin orang Langgeani ada tempat suku Watu Mora’a bertemu dengan suku-suku lain yang telah kembali dari acara pesta panen (PADUNGKU) dan melakukan tarian dero (MOENDE) menggunakan gelang kaki yang berat (Poende Ntoligowi). -Gunung Batu (Buyu Mpinamuya) tempat pertemuan pemangku adat dan orang-orang tua untuk membicarakan pertanian dan waktu-waktu tanam dan hal-hal penting lainnya. Tempat ini juga digunakan untuk melaksanakan ritual adat untuk memintah isin masuk didaerah Langgeani (PEPAMONGOKA). -Kubur tua masyarakat Langgeani (leluhur orang langgeani) -Bagian-bagian tanah Langgeani yaitu : Pondomu, Toba, Mongaanya, Tapa, Pantinja, Tiniti, Buyu Mpinamuya, Tomba Buya, Tabeso, Polonco, Tando Ngkuni, Mindo, Poende Ntoligowi, Tama Lepa, Tampo Iwali, Pendele, Bela, Jaya Boti, Pantoya, Tando Mbilira, Tewawence, Baeki, Pompauba Angga, Powoi Bangke, Powoi Kodi, Nggongi, Tana Maombo, Buyu Ngkulahi, Loka dan Tamungkusoro.

Penulis: Stevent Gavrilla Tindoilo

Kata Kunci :

cerita padungku (1),
tags: , , , , , ,

Berita Terkait