Sejarah Kecil Damar

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

DAMAR

Damar adalah getah yang dikumpulkan dari pohon Soga (Soga Tree) yang digunakan oleh orang orang eropa dalam usaha manufactur pengecetan dan varnish pada jaman dulu. Perdagangan diinisiasi oleh Dutch Molluccan Trading company di Sulawesi Utara.

Sumber paling banyak dari Dammar di Pulau Sulawesi adalah Lembah Sumara yang terletak disebelah utara Kerajaan Mori. Pada Tahun 1900, lebih dari 1500 orang pencari Dammar yang berasal mulai dari Lembah Bada sampai pada wilayah Barat Danau Poso (Meko dan sekitarnya) melakukan perjalanan tahunan ke Lembah Sumara untuk membawa Dammar. Seorang laki laki yang kuat dapat membawa 40 Kati (25Kg) Dammar ke pantai (3 hari kerja) dan dia akan mendapatkan upah 3 potong kain dari pedagang China yang ada di sana.

Pada tahun 1900 tersebut terdapat total 4.788.000 Kg Dammar yang diekspor dari lembah Sumara setiap tahunnya yang berharga senilai 1.915.200 Gulden pada pasar Internasional.

Perdagangan Dammar di lebah sumara dikenai pajak oleh datu ri tana of Mori, yang menerima satu potong kain dari setiap pencari Dammar di lembah sumara. Tercatat datu ri tana menerima 1500 potong kain setiap tahunnya. Kain ini digunakan kembali oleh orang pamona dalam pertukaran posintuwu dan juga untuk membayar denda yang dikenakan dalam adat mereka. Pajak yang dikenakan oleh datu ri tana ini praktis membuat kerajaan Mori menjadi sangat kuat. Praktis kesejahteraan dari 30 tahun terakhir dari abad 19 (1870-1900) telah meningkatkan kekuatan kerajaan Mori. Hal ini menyebabkan dorongan kerajaan Mori untuk melakukan ekspansi atau perluasan wilayah kerajaan ke sebelah selatan yakni ke danau Matano yang merupakan sumber utama perdagangan besi yang dikuasai oleh Kerajaan Luwu.

Makole Matano memainkan peranan yang signifikan dalam sejarah mitologi orang Mori. Masyarakat Matano secara budaya dan bahasa lebih terhubung/berkaitan dengan orang Moi daripada orang Bugis. Pada tahun 1898 Makole Matano melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Luwu dengan melakukan penyerangan ke Wotu. Walaupun sebenarnya terdapat sebuah indikasi bahwa penyerangan Makole Matano ke Wotu disarankan secara diam diam oleh kerajaan Luwu ke Makole Matano untuk menghukum Wotu yang tidak membantu Kerajaan Luwu dalam peperangan kecil yang dilakukan oleh Luwu.

Strategi diam diam Kerajaan Luwu ini menjadi boomerang bagi kerajaan Luwu, karena Makole Matano menjalin aliandi dengan kerajaan Mori. Perlawanan Makole Matano kemudian meningkatkan konflik antara kerajaan Luwu dengan kerajaan Mori secara radikal dan merubah pola alaisni di dataran tinggi.

Dalam perang antara Kerajaan Luwu dengan Kerajaan Mori ini terkenalah seseorang yang bernama Ambe Ma’a, seorang yang pandai berbahasa Pamona dan seorang pedagang Musli yang merupakan perwakilan Luwu. Ambe Ma’a berasal dari wilayah Jalaja disebelah Timur Wotu.  Ambe Ma’a memiliki pengaruh yang sangat besar di dataran tinggi Pamona

Sebagai hasil dari ekspedisi perdagangan yang dilakukannya di Pamona. Dia telah ditunjuk sebagai perantara dengan masyarakat Pamona oleh Kerajaan Luwu sebagai hukuman kepada wotu yang menolak membantu Luwu dalam peperangan.

Ambe Ma’a adalah orang yang memimpin pasukan pamona yang pada tahun 1898 menyerang USU dan menjarah Matano. Pada Tahun 1899, sebuah kekuatan dari 136 pasukan Pamona dari sebelah utara danau Poso dipesan untuk melakukan serangan pada masyarakat yang bermukim disebelah utara danau Matano untuk memutus hubungan mereka dengan Kerajaan Mori.

Strategi yang lain juga diadopsi dalam peperangan ini. Pada Tahun 1900, To Wotu berusaha untuk merebut kembali To Pada (salah satu sub etnis Pamona yang bermukim di lemabh sungai Laa melalui strategi pernikahan. Melalui pernikahan dengan Bangsawan Wotu, To wotu berharap dapat mengeksiskan kekuasaannya di wilayah To Pada. Strategi ini menemukan kegagalan, ketika Ambe Ma’a memimpin penyerangan pada tahun 1903 ke wilayah kerajaan Mori. Dia memimpin Pasukan yang terdiri dari to Pamona dan To Bada untuk menyerang To Pada

Facebook Comments