Pesumbo’o

Senin, Agustus 10th 2015. | Sejarah

Pada jaman dulu di Pamona terdapat sebuah perilaku yang dinamakan Pesumbo’o. Pesumbo’o dilakukan ketika salah satu pihak dalam satu perkara menuntut dari pihak lain pembayaran denda yang terlalu berat, sementara pihak yang dituntut lebih lemah dan walaupun dengan cara peperangan pasti akan kalah jua.

Jikalau ini yang terjadi maka, istri-istri dari beberapa orang terkemuka dari pihak yang dituntut dan pasti kalah itu akan bersolek, lalu menaruh bakul berisi sedikit beras dan beberapa butir telur di atas kepalanya dan pergi menghadap penagih untuk meminta PENGURANGAN HUKUMAN yang dikenakan itu.

Menghadapi rombongan semacam itu tidak seorang Poso pun yang akan tega mempertahankan denda itu. Hal yang menarik bagi saya adalah kenapa media beras dan telur dipilih oleh nenek moyang untuk dijadikan sarana dalam melakukan Pesumbo’o.

Menurut pendapat pribadi saya (sekali lagi tafsiran pribadi saya): Dipilihnya media beras dan telur dalam praktek Pesumbo’o merupakan sebuah perlambangan dalam kehidupan. Bahwa beras dan telur merupakan perlambangan campur tangan Pue mPalaburu, sesuatu yang menghidupi masyarakat Pamona oleh karena itu menolak permintaan sekelompok masyarakat yang membawa beras dan telur berarti akan mendatangkan malapetaka karena orang yang menuntut tadi akan mengalami kekeringan, gagal panen atau bahkan akan malapetaka, oleh karena itu tidak ada seorang Poso pun yang akan tega mempertahankan denda itu.

Demikianlah keseimbangan dalam kehidupan manusia di Poso dalam tradisi agama suku mereka, Ada yang membatasi perilaku mereka, hal yang sangat ironis ketika dikontraskan dengan jaman modern saat ini.

Saya melihat saat ini di Indonesia (bukan kejadia di Poso). Saat ini banyak orang merasa kaya, punya banyak uang karena kekuatannya sendiri, karena bekerja di perusahaan besar, karena bekerja di institusi besar, dengan gaji yang cukup KEMUDIAN memaksakan kehendak kepada “PIHAK LAIN”, ketika pihak lain meminta keringanan atau dispensasi atau apalah untuk suatu masalah kadang kadang “Pihak yang kaya atau berkuasa” masih akan tetap tega kepada sesamanya.

Agaknya masyarakat Indonesia perlu belajar dari Budaya Pamona, bagaimana hidup bersama dalam keseimbangan. Tabea

tags: , , , , ,

Berita Terkait