Pertempuran di Benteng Wulanderi

Tiga brigade marsose bersiaga, setelah tersiar kabar penyerangan di kampung Ranoitole.

3 Agustus 1907.

Pasukan marsose tiba di Bungintimbe. Dengan nafsu yang menggebu – gebu hendak menyerang langsung ke pusat kerajaan Mori. Tapi sisa pasukan kolonial yang masih berdiam di Kolonodale memberi kabar bahwa benteng pertahanan kerajaan berpindah ke Wulanderi. Sesuai strategi, Wulanderi dijadikan benteng pertahanan terakhir, karena keberadaan benteng Matandau telah dimata – matai pasukan kolonial.

16 Agustus 1907.

Pasukan Marsose yang berjumlah 54 personil, dibawah pimpinan Kapten Krapers, bergerak menuju benteng Wulanderi. Pasukan Mori memiliki banyak benteng pertahanan sebagai strategi, mematikan sedikit demi sedikit pasukan penyerang. Ada dua benteng pertahanan yang menutupi benteng utama.

Benteng Paantobu dan benteng Duake. Krapers segera mengirim pemantau untuk melihat sejauh mana kekuatan dua benteng pertahanan tersebut. Menjelang siang, pemantau kembali, memberi kabar : “Tuan, sebaiknya kita tidak melewati benteng Paantobu. Benteng itu cukup kuat untuk mengurangi jumlah pasukan kita” terang si pemantau memberi saran. “Brengsek! Saya hanya minta laporanmu, prajurit! Bukan perintah!” sang Kapten marah karena merasa dinasehati. “Maaf, tuan. Kekuatan di benteng Duake lebih lemah dibanding benteng Paantobu. Ada jalan pintas untuk sampai ke benteng Duake, tanpa melewati benteng Paantobu” “Jalan sekarang!” perintah Krapers.

Begitu tiba di benteng Duake, pasukan Mori menyerang tiba -tiba. Mereka tumpah ruah menyambut kedatangan pasukan Marsose, menggunakan parang dan tombak. Tetapi penyerangan tersebut segera dipatahkan oleh pasukan Marsose yang sudah terlatih menggunakan senapan. Benteng Duake dimusnahkan, dibakar, dan asap membumbung tinggi, hingga kepulan asap dapat terlihat oleh pasukan di benteng Wulanderi. Malam itu juga pasukan Krapers bermalam di benteng taklukan. Mayat – mayat pasukan Mori bertiduran disana – sini. Sementara di benteng Wulanderi, raja Mori dan pasukannya sudah bersiap menyambut kedatangan Krapers. Dibentuk tiga lapis pertahanan.

17 Agustus 1907.

Hari masih pagi, Krapers dan pasukan bergerak perlahan menuju benteng Wulanderi, bermodal kemenangan di Duake. Kedatangan Krapers segera disambut pasukan Mori di garis depan. Bumm!! Tembakan meriam membuat pasukan Krapers terhenyak sebentar, dan segera membentuk posisi pertahanan. Bumm!! Sekali lagi meriam menghentak di garis depan. Tapi tembakan itu menjadi tembakan meriam terakhir pasukan Mori. Mereka tidak mahir menggunakannya. Meriam buatan Inggris yang didapatkan dari pedagang Singapura itu terlalu modern bagi pasukan Mori.

Sadar akan hal tersebut, pasukan Mori di garis depan segera menghunus parang dan menyiapkan tombak. Mereka berlari, melompat, menerjang Marsose yang sudah siaga membentuk posisi penyerangan. Genderang ditabuh. “Hio! hio!” seru mereka bersahut – sahutan. Dor! dor! satu per satu mesiu meledak dan menerjang pasukan Mori, hingga bergelimpangan. Krapers dan pasukannya bergerak maju, semakin mendesak, udara kian panas. Darah bertebaran dimana – mana. Pasukan Mori di garis kedua, juga melompat menerjang Marsose yang masih siaga dalam posisi penyerangan. Beberapa kepala Marsose terhempas ke tanah, tersabet parang. Sementara yang lain dihujam tombak. “Hio! hio!“ Posisi penyerangan yang dibentuk Marsose menyulitkan pasukan Mori. Penyerangan terbuka yang dilakukan pasukan Mori, sangat memudahkan timah panas menemui sasaran.

Melihat keadaan itu, raja Mori memekik : “Hio!” seraya melompat diiringi pasukan terakhir. Pertempuran sengit terjadi. Marsose yang berpedang maju ke depan, sementara pasukan pendukung di belakang, siaga membidik sasaran. Udara kian panas dan menyengat. Pertempuran berlangsung sampai tengah hari. Selang beberapa menit kemudian, suasana hening memenuhi benteng Wulanderi. Hanya sesekali terdengar suara mengerang, melenguh, menahan sakit. “Periksa ke dalam!” perintah Krapers pada salah seorang pasukan. “Aman, Kapten!” sebuah teriakan dari dalam.

Krapers ikut masuk ke dalam benteng. Di dalam sana, pasukan Mori bergelimpangan bersimbah darah.Di tangan mereka masih tergenggam parang, panah dan tombak. Mereka semua berseragam hitam. “Mana raja Mori?” tanya Krapers pada juru bicara kolonial, Kapitan Mahide. “Yang itu, tuan” tunjuk Kapitan Mahide pada salah satu jenazah yang terbaring di antara mayat lainnya. Seorang yang berseragam hitam dan berdestar, pada genggamannya masih terdapat parang mokoranga. Dia adalah raja Mori yang gugur bersama rakyatnya. Berita tewasnya raja dan pasukan Mori di Wulanderi segera diketahui penduduk Mori. Duka mendalam hinggap, mengisi senja di tanah Mori. Mereka kehilangan raja dan saudara – saudara mereka di medan perang. Dengan kekalahan tersebut, pihak kolonial dengan enteng memaksa seluruh penduduk kerajaan Mori agar takluk.

20 Agustus 1907.

Pihak kolonial menyatakan kerajaan Mori telah takluk dan kini berada dibawah kekuasaaan kolonial. Van Heutsz terbahak mendengar berita ini. Maka semakin lebarlah sayap kolonial dan semakin dalam pula kuku kekuasaan ditancapkan di Nusantara []

– Jogja pada November 2010 Agung Poku

Referensi : Buku Sejarah Kerajaan Mori, karya L. Pelinggomang *Daerah kekuasaan di Sulawesi Tengah selanjutnya dijadikan satu bagian pemerintahan yang disebut Afdeling Midden-Celebes, pusat pemerintahan di Donggala. Yang diangkat menjadi asisten residen adalah bekas pejabat kontrolir Onderafdeling Poso, yaitu A.J.N. Engelenberg.

Facebook Comments