PERANG NAPU DAN SIGI

By Pramaartha Pode.

Apa yang akan dikisahkan berikut ini adalah hasil percakapan dan literasi yang dilakukan oleh Kruyt selama berada di Napu. Kruyt berkesempatan untuk mencatat sebuah peristiwa besar yaitu pertempuran antara To napu dengan To Sigi.

Awal Cerita bermula dari winua desa Mungku. Pada suatu masa terjadi konflik diantara dua anak kepala desa disitu. Penduduk desa lalu terbagi dua, sebagian mengikuti yang tua dan sebagian mengikuti yang muda. Para pengikut anak kepala desa yang muda memisahkan diri dan mendirikan desa baru. Letaknya kira-kira dua kilometer dari desa “Mungku”, di pinggir sungai Barana. Desa baru ini mereka beri nama desa “Watu Bula” yang berarti batu putih.

Bekas desa ini masih bisa terlihat dari sisa sebuah landasan batu rumah. Dekat desa “Mungku” terdapat sebuah kolam atau danau kecil yang akan mempunyai peranan dalam dua desa ini.Penduduk desa Mungku mengalami rupa-rupa gangguan dari orang-orang desa Watu Bula. Karena desanya terletak dialiran sungai bagian atas mereka hanyutkan rupa-rupa kotoran di sungai seperti kain kotor dari perempuan yang habis melahirkan, bangkai binatang mati dan lain –lain dengan tujuan agar orang desa Mungku tidak dapat menggunakan air sungai itu.

Pada suatu hari istri dari kepala desa Mungku menanak nasi dan setengah nasi sudah masak, ia menyuruh seorang budaknya memanggil kepala desa datang makan. Ketika kepala desa sudah duduk dan minta air pencuci tangan, istrinya menjawab: “apa engkau minta air? Engkau yang punya tangan penuh darah karena membunuh musuh. Kepala desa itu mendengar kata-kata istrinya menjadi malu, karena ia mengerti kata-kata itu adalah kata kata sindiran, sebab ia sebagai kepala desa tidak berbuat apa apa terhadap gangguan dari orang orang watu bula.

Ia pun tidak jadi makan. Ia bangkit berdiri ambil senjatanya dan berangkat ke watu bula. Ia berangkat lewat kolam itu, dan tiba diatas pagar orang desa watu bula. Orang-orang desa watu bula kebetulan sedang merayakan pesta korban, dan banyak dukun “Syaman” yang hadir disitu menjalankan tugasnya dipesta itu. Ketika kepala dukun perempuan itu keluar dari desa hendak buang air, dengan cepat Kepala desa Mungku yang ada di situ memotong kepala penghulu “Syaman” itu.

Dengan membawa kepala ‘syaman” itu iapun berenang lagi melewati kolam itu lalu pulang ke rumahnya. Setelah sampai kepala desa lalu kepala dukun perempuan (syaman) itu diletakkan di depan istrinya. Baru setelah itu ia minta air untuk membasuh tangan dan pergi makan, seakan akan tidak pernah terjadi apa apa.

Sementara itu, Matahari sudah mulai miring di cakrawala (hampir sore) ketika orang-orang di desa Watu Bula mengetahui apa yang telah terjadi. Kepala desa watu bula lalu berkata, itu adalah perbuatan kakak saya. Sekarang saja kita berangkat untuk membalas dendam. Semuanya lalu berangkat, juga para tamu yang datang dipesta itu ikut berangkat.

Akan tetapi mereka tidak mampu berkelahi melawan orang-orang Mungku. Karena itu orang-orang watu bula pergi meminta bantuan dari orang-orang Sigi. Mereka datang kira-kira seribu orang, mereka berkumpul di tanah datar yang disebut “Pada i Lombo” yang terletak di sebelah barat desa Winua.Disitu mereka duduk minum rokok sampai dari sudah gelap. Sangat banyak mereka menghabiskan tembakau hingga api rokoknya kelihatan dari jauh.

Maka adalah seorang anak bermain-main diatas pagar tembok tanah itu dan ia melihat dikejauhan ada api. Anak itu berkata kepada orang-orang “apa itu yang ada disana”? seperti banyak kunang-kunang di batang kayu? Orang-orang itu lalu pergi melihat. Mereka dapati bahwa seluruh tanah datar itu penuh dengan orang-orang To Sigi.

Sekarang orang-orang desa Watu Bula membuka pematang yang menahan air didalam kolam dan seluruh tanah datar digenangi air. Air itu mengalir deras melewati Pada i lambo dan menghanyutkan banyak dari orang orang To Sigi. Baru setelah air kolam abis orang0orang Sigi yang tersisa boleh berkumpul. Kepala desa Watu Bula lalu berkata “kita pergi menyerang desa “Mungku” jangan serentak berangkat. Kita berangkat dengan bertahap sdikit demi sedikit.

Jadi yang mula-mula pergi yaitu orang-orang yang bergelar “Mewire Owai” 100 orang banyaknya, Dari mereka terbunuh 50 orang, dan 50 orang kembali.

Yang Kedua golongan “Topetimbongani” 100 orang, 50 orang terbunuh, 50 orang kembali.

Yang Ketiga, golongan mepelabalo, 100 orang, 50 orang terbunuh, 50 orang kembali.

Yang Keempat,golongan mewono ngkando 100 orang, 50 orang terbunuh, 50 orang kembali.

Yang Kelima, golongan sambanibi, 100 orang, 50 orang terbunuh, 50 orang kembali.

Yang keenam, golongan yang terakhir yaitu suimaragi, 100 orang, 50 orang terbunuh, 50 orang kembali.

Orang-orang To Sigi dikalahkan dan dikejar oleh orang-orang desa Mungku. Orang-orang To Sigi berhenti istirahat disebuah hutan, tetapi disanapun mereka diserang sehingga banyak yang mati. Karena itu tempat itu dinamai Podompaa yang berarti tempat banyak orang yang mati.

Yang masih hidup melarikan diri ke hutan lain, tetapi disitu pun orang-orang banyak yang mati. Tempat itu disebut Bangka yang berarti mayat. Ditempat itu orang tidak bisa tinggal lama karena berbau mayat.Orang-orang To Sigi yang mundur itu dikejar sampai di desa “Winowunga”.

Di desa ini pengejaran tidak berhenti. To Sigi lalu mundur sampai di desa “Huku”. Namun orang-orang di desa “Huku” menghalau mereka sampai di desa Wuasa dan bahkan sampai ke wilayah Tawailia. Hanya sedikit sisa orang-orang Sigi yang kembali kekampung halaman.

Demikian salah satu pertempuran paling dahsyat yang pernah dilakukan oleh To Napu. Banyak kisah yang perlu ditelusuri mengenai cerita diatas, apakah ada hubungan antara desa winua, winowanga, huku dan wuasa yang bekerjasama menghalau To Sigi dari tanah Napu.

Apakah pada saat kisah ini terjadi Pahlawan Perang To Napu yang bernama Singkana atau Guma Ngkona ada bersama sama dengan mereka? Masih menjadi misteri. Tetapi ingatan lokal mencatat, ENAM KALI serangan dilakukan ke desa Winua (Mungku) dan masing masing berhasil dipatahkan. Kalau di bilang sedikit yang kembali, ini berarti dari 1000 yang datang kemungkinan yang balik ke Sigi sekitar 100 orang saja atau 900 orang tewas di hutan napu.Nama desa desa ini masih dapat kita temukan dalam ingatan masyarakat hari ini di Napu. Namun pelajaran yang bisa kita ambil adalah bagaimana konflik antar dua orang bersaudara dapat merubah jalannya sejarah.

Tabea

Facebook Comments

Post Author: support

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *