Pengayauan (Head Hunting) di Posso pada Abad XIX (Part One)

Selasa, Mei 10th 2016. | Poso, Sejarah

 

Pengayauan (Head Hunting) di Posso pada Abad XIX (Part One)

Pramaartha Pode

Budaya “Pengayauan” (memburu kepala manusia) pada masa lampau dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia seperti Kalimantan, Papua, maupun di Sulawesi. Budaya ini marak dilakukan ketika masyarakat masih belum beragama samawi alias masih memeluk agama suku. Di Posso budaya ini pernah mewarnai perilaku masyarakat sebelum agama samawi diterima dan sebelum Belanda melarang masyarakat melakukan aktivitas “Pengayauan”.

Terdapat banyak penjelasan yang ditawarkan pada masa lalu mengenai budaya pengayauan (head-hunting). Antara lain sebagaimana teori yang diajukan oleh Tylor dan Wilken yang mengatakan bahwa kepala diambil sebagai pelayanan dimana pengambilnya akan dinyatakan sebagai pemenang dalam hidup saat ini maupun di masa yang akan datang. Menurut Kruyt, kepala diambil bagi “…..kebaikan, substansi yang memberi kehidupan, dan semua alam……bergabung dalam mereka. Bagi pendekatan yang lebih fungsionalis, tidak memberikan penjelasan sebagaimana diatas tetapi mengartikan pengambilan kepala mendemonstrasikan fungsi psikologi dan sosiologi dari aktivitas. Ide bahwa perilaku pemenggalan kepala dipicu keinginan untuk merasakan pelayanan spiritual mulai kehilangan legitimasinya.  Semua pendekatan ini tidak memuaskan. Dawnon percaya terdapat penjelasan yang rasionalis disatu sisi, dan pada saat bersamaan gagal untuk memahami ritual pemenggalan kepala dalam relasinya dengan kepercayaan dan tugas sosial.

Dalam kasus di Posso, Sulawesi Tengah. Terdapat beragam motif untuk berperang, sebelum kedatangan Belanda di Posso. Argumentasi mengenai budak, kerbau,  rumpun bambu, perlakuan buruk dari anggota suku lain, kegagalan untuk membayar denda merupakan upaya yang cukup untuk memulai permusuhan. Kadang-kadang serangan yang tidak diprovokasi dibuat untuk mencuri garam, atau untuk mendapatkan kepala ketika sebuah pesta gagal untuk mendapatkan kepala dari usaha musuh mereka. Semua serangan itu tentu saja dalam kerangka membalas dendam.

Kepala selalu diambil dalam pertempuran ketika memungkinkan, tetapi prajurit seringkali mengekspresikan tujuan dari mendapatkan mereka. Sebuah kepala penting untuk mengakhiri pagi hari bagi orang yang penting (meninggalnya mokole) dan bagi penyucian Kuil (lobo).

Anak muda mengambil kepala untuk membuktikan keberanian mereka dihadapan gadis dan kadang-kadang dilakukan untuk membuktikan seseorang tidak bersalah melakukan kesalahan. Disamping itu terdapat sebuah alasan utama yakni, kesejahteraan desa dan keberhasilan tanaman sangat tergantung pada ritual pengambilan kepala.

Pertempuran seringkali mengambil bentuk permusuhan antara desa atau antara suku yang tertunda dari waktu ke waktu ketika skor diantara dua pihak dianggap masih kurang. Ketika dibutuhkan mengambil kepala bagi suatu alasan namun tidak ada alasan yang dapat dikapitaliskan, orang Posso akan selalu bertempur dengan musuh tradisional mereka di sebelah timur yakni To Kinadu. Tidak ada dalam satu tahun orang Posso tidak pergi memerangi To Kinadu, karena mereka adalah musuh tradisional orang Posso.

Pertempuran selalu dianggap sebagi cobaan berat. Jika alasannya tepat maka roh leluhur akan selalu menolong dan memberikan kemenangan namun jikalau tidak tepat makan roh leluhur akan membiarkan mereka dikalahkan. Orang Posso saat itu, dijamin untuk selalu menang melawan To Kinadu, karena berdasarkan mitos, To Kinadu pernah membunuh 2 (dua) orang Leluhur orang Poso, dan sebagai akibatnya leluhur akan memberikan kemanangan sebagi balasan atas kematian mereka. Tidak ada waktu yang tepat untuk melakukan ritual “Pengayauan”, tetapi hal ini seringkali dilakukan ketika masa penanaman padi atau pada saat maupun setelah padungku.

Peristiwa Pengayauan biasanya terdiri dari 10 (sepuluh) hingga 20 (dua puluh) orang, walaupun kadang-kadang pasukan yang lebih kecil berhimpun dari area yang lebih luas dan seringkali hanya beberapa individu akan berangkat tanpa memberitahu para tetua (kabose). Secara umum, seluruh anak muda yang memungkinkan dan pria dewasa diminta untuk berpartisipasi dan diharapkan untuk melakukan cukup sering.

Alasan untuk tidak ikut melakukan ada beberapa antara lain: takut, marah kepada rekan sekampung, keberadaan saudara di desa yang akan diserang, beberapa tanda alam maupun mimpi. Jika seluruh desa terlibat maka para tetua (kabose) akan memutuskan siapa yang akan pergi dan siapa yang akan bertahan dibelakang untuk menjaga desa.

Peristiwa pencarian kepala yang dilakukan oleh satu desa akan dipimpin oleh satu orang pemimpin (tadulako), yang akan mengarahkan seluruh operasi. Dalam grup yang lebih besar (gabungan beberapa desa) biasanya memiliki 2 (dua) orang pemimpin, satu orang yang mengarahkan pasukan secara keseluruhan dan pemimpin lainnya akan memimpin serangan secara langsung di depan.

Tadulako diperlakukan dengan penuh hormat pada saat menjalankan fungsinya dan segala sesuatunya dilakukan sesuai perintahnya. Dia bertanggungjawab bagi keselamatan seluruh pasukan yang mendukungnya dan tidak boleh makan beberapa makanan tertentu, tidak boleh melakukan beberapa perbuatan tertentu dan menggunakan kata-kata tertentu ketika berada dalam wilayah musuh.

Pasukan-Tempur-OndaeKet: Prajurit Tempur Onda’e (Taripa)

Ketika para prajurit telah siap, keberangkatan pada hari yang tepat, ditentukan oleh Tadulako (pemimpin pasukan) dan kepala desa (kabose) dengan menghitung hari yang baik dan hari yang buruk berdasarkan perhitungan tradisional.

Makanan, termasuk beras khusus digunakan untuk memerangkap jiwa (tanoana) dari musuh, disiapkan oleh wanita, yang juga memberikan pada para pria untuk menjadikan mereka berani dalam pertempuran. Kemudian diikuti serangkaian ramalan yang menentukan kesuksesan pertempuran mereka.

Priest_(Ket: Imam Perempuan Napu/Posso)

Ketika waktunya untuk berangkat  semakin dekat perhatian dipusatkan kepada seluruh tanda-tanda alam dan barang yang ada. Pada hari keberangkatan sebuah persembahan dilakukan di dalam kuil (lobo) bagi roh nenek moyang/leluhur/ancestor untuk memperkenalkan mereka dengan keluhan terhadap musuh mereka (tadea) dan untuk meminta bantuan mereka, yang apabila tidak dilakukan tidak ada kemungkinan pertempuran akan sukses.

Pada akhirnya, pendeta perempuan menampilkan upacara untuk mengamankan para prajurit sehingga mereka tidak akan menyerah dalam pertempuran mencari kepala. Setelah itu Lobo ditutup selama ekspedis mencari kepala dilakukan. Perjalanan pada umumnya akan dilakukan pada malam hari dan dimungkinkan untuk ditunda apabila terdapat beberapa alasan untuk menunggu. Namun kalau ini terjadi proses menunggu harus dilakukan diluar desa atau harus mengulang kembali ritual yang telah dilakukan.

Tidak ada baju khusus yang dikenakan, kecuali bagi beberapa pria pemberani yang menggunakan  topi pertempuran dengan dua tanduk tembaga diatasnya yang mereka kenakan dalam pertempuran untuk menarik perhatian musuh mereka. Setiap orang membawa sebuah pedang, tombak, perisai dan beberapa kadang-kadang membawa senjata.

Pasukan Tempur To PamonaKet: Pasukan Tempur Pamona dengan topi pertempuran dengan dua tanduk tembaga diatasnya yang mereka kenakan dalam pertempuran untuk menarik perhatian musuh mereka

Imam Perempuan yang berada di belakang, harus mematuhi sejumlah besar batasan dan melakukan berbagai tindakan ritual untuk memastikan keamanan dan kesuksesan para prajurit.

Selama perjalanan ke wilayah musuh, tadulako memperhatikan perilaku berbagai binatang dan burung sebagai pertanda. Perhatian dilakukan untuk menghindari aksi tertentu yang akan membocorkan kemungkinan keberhasilan. Sementara saat di teritori musuh, sebagai contoh, saat tidak ada makanan atau minuman diambil tanpa meninggalkan jejak untuk menjaga agar tidak memberikan musuh sebuah keluhan (tadea) yang dapay digunakan untuk melawan mereka.

Sekali mereka telah tiba pada satu tempat yang berjarak setengah hari perjalanan dari lokasi musuh, mereka akan membangun sebuah pondok dan mengirimkan mata mata ke depan untuk mengawasi situasi.  Tadulako juga harus menguburkan sisa telur yang ada dan hati dari ayam yang digunakan untuk meramalkan tujuan sebelum memulai ekspedisi di dalam atau dekat desa yang akan diserang dimana penduduk dipastikan dapat menginjak hati ayam ini. Hal ini dilakukan untuk memerangkap tanoana mereka. Mereka juga membuat tali khusus dari kerang untuk mendapatkan firasat berapa jumlah korban yang akan jatuh.

 

pasukan tempur_pebatoKet: Pasukan Tempur Pebato

Sekali mata mata kembali dan keputusan untuk menyerang telah dibuat, para pria menuduh satu sama lain secara imeginer berbagai kesalahan yang dibuat sehingga dapat menuntut pembayaran denda. Perselisihan ini kemudian diselesaikan oleh Tadulako yang mengatur denda yang harus dibayar untuk mereka tidak seberapa. Ketika mereka telah dibayar, tadulako akan berkata “Rumah kita jauh, namun sekaarang kita dekat bersama sama, terhubungkan satu sama lain”. Upacara ini disebut ULISI NGKORO dimana kesalahan seseorang yang dibuat menjadi baik.

Setelah tanoana dari musuh terpikat dengan beras yang telah disiapkan secara khusus untuk tujuan tersebut. Beras kemudian dimasak dan dibagi diantara para pria, yang akan mengambil bagian dalam pertempuran. Sebelum berangkat, tadulako memindahkan dua kali sekali lagi dengan kulit kerang untuk melihat jika prajurit akan sukses dan jika mereka akan kalah melawan musuh mereka.

Beberapa dari para pria, termasuk tadulako, tetap tinggal di belakang penjaga markas. Dia “mendukung” para pejuang dengan mentralizir burung yang memberi pertanda dan terus menerus bermohon kepada para dewa untuk bantuan mereka dan mengulangi tadea sambil mencolok tanah meminta mereka menyaksikan. (Bersambung….)

tags:

Berita Terkait