PADUNGKU dalam Catatan Adriani dan Alb. C. Kruyt

Padungku by Pramaartha Pode

Padungku dalam masyarakat Pamona di era modern saat ini sangat populer. Momen ini sangat ditunggu-tunggu bagi masyarakat untuk merayakan kebersamaan diantara keluarga, menghilangkan penat setalah setahun bekerja terus menerus. Dalam masa Padungku ini semua orang bersukaria…berterima kasih kepada Tuhan…karena telah memberikan berkatnya atas hasil Panen selama setahun.

Dalam tradisi barat, Padungku dapat disamakan dengan tradisi Thanksgiving yang ada di negara Eropa dan Amerika Serikat.

Namun dibalik kegiatan Padungku, mungkin masih banyak yang belum mengetahui bagaimana Padungku dilakukan pada masa lalu. Tentu akan terdapat beberapa versi atau pandangan mengenai Padungku di masa lalu. Tulisan ini mencoba menguraikan bagaimana Padungku dalam catatan Adriani dan Albertus C.Kruyt.

Upacara panen yang dikenal dengan sebutan mopadungku, diyakini oleh orang Poso bahwa apabila tidak dilakukan, maka panen berikutnya tidak akan berhasil.

H-1 sebelum Padungku:
Satu hari sebelum mopadungku sudah tampak berbagai kegiatan seperti membakar winalu, memotong kerbau dan membuat tempat upacara secara giting royong. Upacara ini diawali dengan menumbuk padi di lesung kayu oleh pria dan wanita secara bergiliran, dengan irama khusus yang disebut Montanggoli sebagai pertanda bahwa masyarakat sedang menumbuk padi baru.

Mopadungku dihadiri oleh hampir seluruh anggota masyaraakat daalam berbagai strata dan yang menjadi penanggungjawab pelaksana upacara ialag mereka yang paling luas lahannya dan hasil panen melimpah, kemudian yang diundang tidak hanya terbatas pada penduduk dalam satu kampung tetapi juga mengundang penduduk dari kampung lain, sehingga jumlah tamu sekitar 2000 – 3000 orang.

Pada umumnya tamu dari luar kampung membawa ayam, telur dan ikan yang sifatnya sukarela sebagai simbol persahabatan. Jika musim panen kurang berhasil maka mopadungku dilakukan secara sederhana dan hewan yang dipotong hanya babi atau ayam.

Ada tiga acara inti dalam mopadungku yakni:
1. mosangke;
2. mopancua; dan
3. moraego.

Mosangke adalah suatu kegiatan untuk memberi hadiah dari pemilik kepada mereka yang terlibat secara langsung dalam panen padi. Hadiah tersebut dibungkus sedemikian rupa lalu diikuti pada bagian ujung dua batang bambu yang telah ditancapkan di atas tanah. Disekitar bambu terdapat sekelompok pria dan wanita yang membentuk setengah lingkaran sambil menyanyikan beberapa lagu yang intinya menceritakan kepergian seseorang ke langit untuk menyampaikan kepada Lamoa bahwa panen raya telah selesai, sekaligus bermohon agar pada tahun berikutnya, tetap dikaruniai hasil panen yang melimpah. Selain menyanyi, pria dan wanita saling berbalas pantun.

Kegiatan ini dimulai sejak sore sampai malam dan berlangsung selama tiga hari berturut-turut.Setelah mosangke selesai, maka bantang bambu tersebut ditebang oleh pemilik sawah, kemudian membagi-bagikan hadiah yang terdiri dari 1 potong kain katun dan 7 gumpalan gula. Pada umumnya hadiah kain katun tidak diambil oleh pria, melainkan diserahkan kepada wanita.

Mopancua,adalah makan bersama, para tamu dihidangkan berbagai jenis makanan seperti daging bakar, kue waje, sirih dan winalu atau nasi bambu.

Moraego adalah tarian khas poso yang memiliki nilai ritual. Pesertanya terdiri dari pria dan wanita dengn jumlah yg sama, dan pada umumnya sudah lanjut usianya. Formasi moraego berbetuk barisan, kemudian yang berada pada deretan kedua , ketiga dan seterusnya meletakkan tangan dan siku di atas punggung orang yang ada di depan, lalu berjalan mengelilingi api yang sengaja dinyalakan agar suasana di sekitar kegiatan menjadi lebih terang dan daya tahan menjadi lebih kuat. Moraego yang berlangsug pada malam hari sampai subuh menyanyikan beberapa lagu sambil berbalas pantun antara pria dan wanita sebagai isyarat rasa syukur atas keberhasilan panen padi (*)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *