Orang-Orang Mandar di Posso

Oleh: Pramaartha Pode

Jauh sebelum Belanda datang ke Poso pada tahun 1892, Kerajaan Mandar (Sulawesi Barat) telah lebih dulu menaklukan wilayah pantai dan muara sungai Tomasa.

Kisah mengenai ini, dapat kita temukan dari buku “De Baree Sprekende Toradjas van Midden Celebes” karya Albertus C. Kruyt dan Dr. Adriani.

Dalam buku tersebut, Kruyt dan Adriani memperkirakan pada sekitar Tahun 1840 orang-orang Mandar telah banyak berpengaruh dalam kehidupan di Poso tepatnya di kalangan To Kadombuku di muara sungai Tomasa (Saat ini desa Parigi).

Bagaimana orang-orang Mandar sampai di Kadombuku (Pandiri) dan ada berapa banyak tidak ada yang tahu lagi, namun yang pasti adalah dalam rangka penyebaran agama Islam.

Diperkirakan orang Mandar sampai di hulu sungai Tomasa dengan menyusuri sungai Poso. Dan setelah melakukan penaklukan hidup disana dan kawin mawin dengan penduduk setempat yang kemudian menjadi penguasa wilayah Radja setempat.

Belum diketahui secara pasti mengapa orang Mandar meninggalkan To Kadombuku setelah sekian puluh atau sekian ratus tahun menetap.

Namun ketika orang-orang Mandar kembali ke tanah mereka, mereka meninggalkan satu buah bendera berwarna warni dan menegaskan bahwa kalian adalah sekarang muslim dan ketika anak cucumu masih makan makanan haram (babi) maka kamu akan didenda dengan 40 orang budak.

Kakek dari papa i melempo (Gaweda alias Tadjongga) yang bernama Tampabanda adalah orang Mandar terakhir yang menjadi Kepala wilayah Kadombuku dan ini adalah kunjungan terakhir dari orang Mandar.

Tampabanda dimakamkan di bekas lipu bernama Aboki dan dalam kuburnya adalah satu satunya terdapat alquran.

Dalam perjalanan waktu, To Kadambuku terbagi dua, ada yag kembali kepada agama molamoa dan yang lainnya tetap beragama islam dan memiliki kemampuan membaca Alquran.


Makam TamPabanda

Hubungan antara orang mandar dan to Kadambuku tetap terpelihara. Hal ini dapat dibuktikan dari kisah pembangunan jalan di Ampibabo, Moutong.

Orang-orang Mandar mengajak To Kadombuku untuk bekerja disana, sehingga beberapa orang Kadombuku yang mengikuti orang Mandar bekerja di ampibabo, yang dalam kesaksian Kruyt dan Adriani, keturunannya hingga pada tahun 1912 masih saling kenal dan saling mengunjungi.

Ketika Bendera yang menjadi pertanda To Kadombuku pernah berada di bawah pengaruh Mandar tidak lagi bisa digunakan pada tahun 1895, Bendera ini kemudian dibawa ke Ampibabo dan disimpan hingga hari ini atas sepengetahuan Raja Mandar.

Setelah kedatangan Belanda 1892, pelan pelan pengaruh Mandar di Poso (Kadombuku) mulai memudar, dan ketika pemerintahan Belanda suda mulai mapan, sebagian besar orang–orang kadombuku dipindahkan ke Pandiri dan Watuawu dan hidup bersama sama dengan to Lage.

Dari kisah diatas kita bisa menlihat bagaimana pada masa lalu, di pesisir pantai Poso, sangat dipengaruhi oleh kekuatan disekitarnya.

Mapane, pada masanya berada di bawah pengaruh Kerajaan Parigi, sementara to Kadombuku telah berada di bawah pengaruh Kerajaan Mandar. Sementara itu di wilayah pedalaman, pengaruh Luwu sangat kuat melalui perantaranya Karadja Lamoesa di Pentjawu Enu, selatan Danau Poso. Pengaruh Tojo kelak akan dirasakan setelah kekuatan Kerajaan Mandar memudar di akhir abad 19.

Satu hal yang pasti adalah, keberadaan TamPobanda menunjukkan bagaimana ekspansi militer yang dilakukan Kerajaan Mandar sampai ke Poso pada abad 18, bahkan jika ditarik lebih jauh, kisah masuknya Mandar di Poso dapat diperkirakan pada abad 17.

Hal ini sejalan dengan kisah di Palu, dimana kerajaan Palu, menurut beberapa kisah lisan diturunkan dari Kerajaan Mandar.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *