NARASI KEMANUSIAAN DALAM KARYA SASTRA SANG MAESTRO JUSTINUS HOKEY (Bagian 2)

Oleh: Asyer Tandapai

Narasi kemanusiaan Sang Maestro terungkap secara simbolik dalam lukisan Pesona Danau Poso yang mengekspresikan penggalan kehidupannya. Dari latar belakang kehidupan satu komunitas keluarga di Dulumai yang berabad-abad mengandalkan Danau Poso sebagai sumber hidup juga menjadi sarana memelihara persaudaraan. Danau Poso yang memiliki tanoana (jiwa) merupakan ruang ungkapan petubunaka (etika) dalam memelihara relasi harmoni sesama dan harmoni alam.
Menelusuri ruang kehidupan Justinus Hokey, selain kampung Dulumai yang menjadi tempat kelahiran, Kampung Maleku di pesisir Teluk Bone sebagai tempat masa kecil, kemudian Kampung Masani sebagai pengungsi di Pesisir Teluk Tomini juga menjadi tempat yang membentuk karakternya sebagai sosok pekerja keras dan mandiri serta empati dalam kehidupan sosial.

Sebagai mana hukum alam bahwa kehidupan masyarakat di satu daerah yang dihuni gerombolan pengungsi, kerja keras, ketekunan, ketabahan adalah etos hidup yang diharapkan dapat merubah realitas kemiskinan, penderitaan, bahkan stigma sosial sebagai pengungsi. Kampung Masani adalah sisi lain dalam ruang lukisan kemanusiaan. Sayangnya tidak ada satu karya sastra Justinus yang secara eksplisit mengangkat panorama Masani. Atau mungkin goresan pada batinnya yang terlalu membekas untuk mengingat, mempertanyakan bahkan mempersoalkan Dulumai dalam hidupnya.
Di sini kisah kehidupan Justinus menjadi lukisan bermakna yang membiaskan estetika natural sebagai hasil sentuhan mentari pagi yang menyegarkan dan terik surya membakar kulit serta seberkas sinar yang segera meredup lalu dipantulkan kembali melalui sinar rembulan yang akan memulihkan. Rotasi tata surya yang menghasilkan pagi – petang, siang dan malam adalah dentingan waktu yang semakin menyempurnakan kualitas lukisan tersebut.

Demikian lukisan batin dalam syair lagu Kasoyo Ndeme yang ditulis pada tahun 1969 dari Kampung Masani.

Kasoyo Ndeme
Ri dakasoyo ndeme, pari ndaya matowe.
Impiamo wo’u dore, kita damombeole.
Ku ode ntesaoyo, tuwu bemo tumoro
Ndakeni remo da soyo, ewa dasangkaya koro.
Ku metango ri untundano, jamo limumo yayondo
Ku me‘ode kumeboo, bemo kudonge mesono.
Jamo rionda ndopo, kupabulere mawo
Pande dana polanto, rayaku nepa dainco.

Terjemahan :
Menjelang mentari terbenam, kerinduan, gelisah.
Kapan lagi sahabat, kita akan saling menyapa.
Kadang-kadang saya mengeluh, hidup semakin berantakan
Ketika terbenamnya matahari, seperti muncul bayangan diri.
Saya menatap ke arah hulu danau,
cuman tampak awan dihembuskan angin
Saya berteriak memanggil, tidak ada jawaban
Tinggal pada ombak danau, saya tumpahkan kerinduanku
Mendengar kabar sukacita, membuat perasaanku bahagia

Syair ini ditulis di kampung Masani – Poso Pesisir. Inspirasi syair ini muncul saat menjaga air di sawah dan ketika itu ingatannya melayang ke Dulumai, kampung halaman para kerabat dan tempat bersemayam para leluhur. Syair Kasoyo Ndeme mengekspresikan pergulatan batin antara proses pencarian jati diri sebagai pribadi dan identitas yang tumbuh dalam basis kultural (keluarga) sebagaimana diungkapkannya dalam bentuk tanya “impiamo wou dore, kita da mombeole“ (kapan lagi kekasih hati (sahabat), kita dapat saling menyapa). Keberadaanya di kampung Masani bersama ibu, bapak dan kerabat tidak serta merta membuat ketenangan batinnya. Ia menyimpan kerinduan mendalam untuk membina hubungan kekeluargaan dengan sanak-saudara di Dulumai.

Sisi lain dari penggalan syair Ku ’ode nte saoyo, tuwu bemo tumoro (kadang-kadang saya mengeluh, (atas) beban yang membuat hidup susah) mengungkapkan beban hidup mendalam. Mungkin ini gambaran kehidupan sosial-ekonomi masyarakat pengungsi yang umumnya baru menata kehidupan dan sementara ketika itu (1965 – 1971) Justinus tercatat sebagai mahasiswa pada Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Manado cabang Poso.


Sang Maestro Justinus Hokey Saat Menghadiri Pernikahan di desa Bunta, di rumah Keluarga Pode – Tobogu

Sebagai anak laki-laki tertua dengan seorang adik laki-laki, ada kewajiban moral untuk membantu orang tua dengan bekerja sawah di Masani sekaligus membagi waktu untuk berkuliah di kota Poso. Jarak Masani ke Kota Poso yang harus ditempuh dengan berjalan kaki seharian atau alternatif lain menumpang pada perahu dayung menyusuri pesisir Teluk Tomini. Matanya menerawang dalam keyakinan yang pasti, sekalipun tangannya harus melukis masa depan dalam kubangan lumpur dan tapak kakinya meretas impian meyusuri jalan berbatu-berduri. Angan-angannya menembus cakrawala, sekalipun pada punggungnya tertambat pedati dan peluh yang membasahi kulitnya dalam sekejap mengering oleh sengatan mentari.
Ku metango ri untundano, jamo limumo yayondo.
Jamo ri onda ndopo, ku pabulere mawo.
mengungkapkan keutuhan penghayatan makna kehidupan pada fenomena alam Danau Poso.

Dari Pesisir Pantai di kampung Masani, Justinus menatap ke pegunungan posisi di mana Danau Poso, khususnya kampung Dulumai berada, tetapi yang terlihat hanya awan bergerak dihembuskan angin. Dan jiwanya yang rindu pada kehidupan sanak-saudara hanya dicurahkan pada ombak danau yang kiranya menepi di Dulumai untuk menyampaikan kerinduan dan kabar tentang keadaannya di Masani.

Goresan batin pada panorama alam mengandung pesan harapan untuk tetap membina, bahkan memulihkan, hubungan persaudaraan. Syair Kasoyo Ndeme (nyanyian menjelang malam) ini adalah ekspresi nurani mengenai kerinduan pada khazana kehidupan persaudaraan di Dulumai yang tidak ditemukan di Masani. Jadi ada lukisan yang berbeda mengenai kehidupan. Karena itu, pada akhir lagu yang dituliskan Pande danapolanto, rayaku nepa dainco (hatiku akan berbahagia mendengar kabar baik) adalah pengharapan terjalinnya keakraban bahkan, memulihkan wajah kekeluargaan yang suram oleh prahara rumah tangga masa silam.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *