NARASI KEMANUSIAAN DALAM KARYA SASTRA SANG MAESTRO JUSTINUS HOKEY (Bagian 1)

Oleh: Asyer Tandapai

Sosok Budayawan Justinus Hokey lahir pada 10 Agustus 1945 di Dulumai, sebuah kampung yang terletak pada sisi lembah di tepian Danau Poso. Dan di kejauhan kampung mungil ini terlihat berada di atas tebing yang menambah keindahan Panorama Danau Poso. Bagi sebagian masyarakat Dulumai, mereka lebih bangga menyebut diri sebagai Tolongkea, yaitu sebuah identitas yang mengingatkan pada kemasyuran peradaban satu komunitas masa silam. Dalam literatur lisan, dituturkan bahwa secara etimologi berasal dari kata Longkei yakni sebuah istilah yang menunjuk pada kearifan bertutur (Mokayori).

Pada masa silam, Longkei mengandung makna seseorang dapat dibebaskan berdasarkan kemampuan bertutur. Legenda lain yang berhubungan dengan peradaban tersebut yakni kepercayaan komunitas bahwa leluhur mereka berasal dari lingkungan keluarga Kedatuan Luwu dan tokoh sentral dalam silsilah rumpun keluarga ini adalah Talunoe. Ingatan pada tokoh ini adalah fungsi sosialnya sebagai pendamping tokoh-tokoh masyarakat (kabosenya) pada setiap sub-komunitas Topamona yang akan menyampaikan upeti (somba) pada Datu Luwu. Menurut tradisi tutur bahwa kedua orang tua Talunoe yakni ibunya yang dipanggil Ndoi Lodangi berasal dari Baebunta (Masamba) dan ayahnya yang dipanggil I Tadipugi dari Palopo (Ware’). Mungkin sedikit yang dapat dijelaskan dari kedua tokoh adalah Tadipugi.

Berdasarkan kebiasaan di lingkungan komunitas Topamona sebagai sikap penghargaan terhadap seseorang yang telah berkeluarga akan dipanggil dengan nama lain dari nama pribadi sesungguhnya. Misalnya dari nama anak, Talasa. Berarti yang dimaksud adalah Tama (papa) Lasa. Atau dipanggil dengan identitas daerah. Besar kemungkinan panggilan terhadap I Tadipugi yang dimaksud adalah Tama (papa) I Pugi. Dalam bahasa Indonesia berarti Paman (papa) dari Bugis, sebab ugi artinya Bugis dalam dalam dialek Bugis. Asumsi ini bisa dijadikan referensi tentang asal-usul leluhur Tolongke. Pasangan suami istri meninggalkan Tana Luwu merantau (Pamona: mowelua) untuk mencari kehidupan di Tana Poso.

Kemudian mereka menetap di wilayah sisi Timur Danau Poso yang disebut Longkea. Saat meninggalkan lingkungan keluarga di Luwu, suami – istri ini membawa simbol Kedatuan yakni sepasang Kain Sinde untuk laki-laki dan perempuan. Serta satu buah Penai (parang pusaka untuk berperang) yang disebut Taguyo. Pesan yang menyertai Penai tersebut bahwa di mana dia berada tidak akan ada pertumpahan darah. Ada yang memberi interperasti pada makna ucapan tersebut bahwa Kedatuan Luwu tidak akan menyerang dimana penai itu ditegakkan. Benda Kedatuan yang telah melewati hitungan abad tersebut yakni sepasang Kain Sinde kini tetap berada di rumah salah satu keluarga generasi Talunoe di Dulumai dan Taguyo berada dalam lingkungan keluarga Patido Sigilipu. Sebagai catatan tambahan bahwa beberapa saat lalu ada delegasi dari Kedatuan yang datang mencari benda-benda tersebut dan akan ditebus dengan sejumlah nilai uang (miliyaran rupiah), tetapi kesepakatan keluarga bahwa biarlah tetap berada di Dulumai dan keberadaannya dapat dilihat sebagai simbol ikatan kekeluargaan dengan Kedatuan Luwu.

Bagi kebanyakan masyarakat di Tentena – Poso ketika mendengar kata Longkea dan Dulumai maka segera akan mengingatkan pada khazana talenta seni budaya masyarakat yang hidup di tepian Danau Poso. Dan Justinus Hokey sebagai tokoh sentral dalam narasi ini adalah titisan dari rumpun keluarga yang duduk dalam lingkaran pemelihara kebudayaan di Longkea. Sebagaimana kata bijak bahwa Buah jatuh tidak jauh dari Pohon, demikian hidupnya menjadi pewaris dari generasi sebelumnya sebagai referensi tentang banyak hal mengenai filsafat hidup masyarakat budaya Tana Poso. Justinus lahir dari pasangan suami istri Patido Sigilipu dan Yonga Modjepe yang mana kedua rumpun ini masih memiliki pertalian secara genetika dari garis keturunan Talunoe. Latar belakang keluarga yang melahirkan banyak orang-orang berbakat seni secara alamiah dari Desa Dulumai, tentunya fakta ini berhubungan dengan karakter alamiah komunitas yang memiliki kearifan tutur yang dalam bahasa budaya disebut Kayori. Demikian dapat dikatakan bahwa Justinus Hokey adalah titisan roh dunia seni dan dengan mencermati karya-karyanya menjadi alasan untuk mendapat tempat yang layak sebagai Budayawan Bernas Tana Poso.

Karya sastra sebagai ekspresi batinnya adalah sisi lain dari upaya untuk menemukan lukisan kemanusiaan. Petikan syair lagu di bawah ini yang telah dikenal di lingkungan komunitas Topamona kiranya dapat menjadi jejak untuk menelusuri proses kemanusiaan itu. Dan mengikuti budaya permisif, syair ini secara metodologis akan didekati dengan memahami sisi karakter penulisnya, Justinus Insight, yang dipadukan dengan sumber lisan mengenai kisah kehidupannya.

Katowe i Ine
I owi yaku ntongo ri kobati,
pari ndaya bekuncani.
Katowe ndaya ineku ma’ai,
bekukoto da mancili.
Japodo wa’anya Pue Makuasa,
da mangkariani ri rampelinjata.
Lawinya bemo dakukoto kojo,
da mancili o pindongo.
Terjemahan :
Saat hidup saya masih dalam ayunan,
kesusahan tidak saya rasakan.
Kasih sayang ibu yang amat mendalam,
tidak dapat saya bayar.
Hanya Tuhan yang memelihara perjalanan,
sungguh tidak dapat saya bayar.

Syair adalah inspirasi yang muncul ketika dalam pejalanan kaki dari Poso menuju Makale – Tana Torja untuk menghadiri Kongres Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) tahun 1967. Saat dalam peristrahatan di tempat persinggahan terakhir, masyarakat menyebutnya Kayulangi, untuk menuruni Lembah Tana Lembo (Mungkutana). Dalam peristrahatannya terbayang kembali kisah 20 tahun silam derita ibu yang melintas jalan itu sambil menggedongnya. Kenangan itu muncul dalam goresan syair yang diberi judul “Katowe I Ine” (Kasih Mama).

Di Kayulangi 1967, Justinus Hokey berumur sekitar 22 tahun ketika itu, berlangsung sebuah dialog batin. Dalam suasana penuh ketenangan di tengah rimba, banyak hal dipertanyakan mengenai kehidupan sesungguhnya yang sedang dan masih akan dijalani. Perjalanan ratusan kilometer dari Kota Poso hingga di Kayulangi dan masih akan berjalan sehari lagi untuk tiba di Kampung Maleku sebagai tempat persinggahan kemudian meneruskan perjalanan ke Makale – Tana Toraja. Kehidupan di tengah rimba yang dalam sehari perjalanan beruntung bila bertemu manusia. Tidak ada rumah, atau minimal pondok untuk tempat berteduh. Sebut saja saat itu, melintasi pegunungan Fenema, barisan pegunungan Takolekaju yang memisahkan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, berarti berada di kawasan tidak bertuan. Maksudnya semua kaidah dapat berlaku, termasuk Hukum Rimba.

Kondisi jalan setapak yang sebagian tertutup rumput dan terhalang oleh rintangan batang kayu yang ukuran garis tengahnya dapat melebihi 100 cm bahkan sebagian badan jalan telah tergerus air dan kini berada di dasar jurang. Melewati sisi-sisi pegunungan, pada bagian sisi kiri jalan tampak bongkahan-bongkahan batu yang menggantung pada dinding yang menghiasi gunung yang menjulang tinggi dan beberapa langkah pada sisi sebaliknya terbentang pemandangan pucuk-pucuk pohon yang berbaris indah hingga ke dasar jurang. Semua kenyataan ini menyayat hingga ke lubuk batin dan membuat tanya, bagaimana mungkin jalan ini pernah dilalui oleh seorang ibu bersama bayi dalam gendongannya 20 tahun silam? Atau kekuatan apa yang memberi keberanian untuk melintasi jalan ini?

Renungan batin di Kayulangi pada peristiwa 20 tahun silam membawanya untuk mengabadikan melalui lagu Katowe I Ine dan kiranya dapat menjadi ruang tanya untuk mendekati dialog batin tersebut. Petikan dua baris pertama dari syair
I owi yaku ntongo ri kobati, pari ndaya bekuncani.
Katowe ndaya ineku ma’ai, bekukoto da mancili.
adalah ekspresi batin pada ingatan masa kecil yakni dalam keadaan belum berdaya dan untuk hidup sepenuhnya bergantung pada kasih sayang seorang ibu. Dalam keadaan demikian, Justinus tidak mengetahui pergumulan ibunya yang memelihara dalam penderitaan menjalani kehidupan ini. Disebutkan bahwa proses hidupnya hingga tumbuh menjadi seorang manusia yang mengerti, semuanya tidak dapat dibalasnya. Hal yang menggugah bahwa syair di atas mengekspresikan sosok ibu sebagai kekuatan kehidupan. Dan kelihatannya, bahkan sudah dapat disebut sebagai karakter, dalam banyak syair lagunya perempuan atau ibu menjadi figur utama. Seperti pada syair lagu “Rumongi”, yang ditulis pada tahun 1986 berkisah tentang seorang perempuan dalam mitologi Tana Poso yang menikah dengan Lasaeo yang turun dari Langit.

Justinus Hokey menempatkan ibu sebagai figur sentral dalam seluruh kesadaran kemanusiaannya. Dan inilah yang sesungguhnya menyisahkan goresan batin dari pengalaman kehidupan sejak masa kecil. Sebuah pengalaman atas sikap seorang bapa yang meninggalkan ibunya. Peristiwa ini menghempaskannya keluar dari kesadaran lingkaran keluarga yang diharapkan sebagai ruang untuk tempat bertumbuhnya identitas.

Terentang jarak dari lingkungan keluarga yang terpandang selama ini. Di sini salah satu bagian dari makna kehidupan yang hilang sejak masa kecilnya dan ini memberi pengaruh pada perjalanan kehidupannya. Prahara tersebut selain kehancuran martabat dalam lingkungan kebudayaan yang menjadi simpul dua rumpun keluarga terpandang dan dampaknya pada pertumbuhan jiwa seorang anak yang menyisahkan luka batin. Ada garis batas yang dibentangkan atas legitimasi budaya, sehingga sebagai seorang yang totalitas hidupnya menyelami budaya Tana Poso, kelihatannya bagian ini yang meninggalkan luka batin mendalam .


Sang Maestro: Justinus Hokey

Saat teduh di Kayulangi dalam keletihan berjalan kaki melintasi lapisan-lapisan pegunugan yang membatasi Tana Poso dan Tana Luwu, Justinus larut dalam ingatannya pada peristiwa batin oleh derita ibunya yang menggendong melintasi hutan belantara pada tahun 1947 dalam jarak sekitar ratusan kilometer dan tidak ada satu buah rumahpun. Bila ada tempat berteduh yang dibuat dari tumpukan dedaunan, kemungkinan sentuhan tangan kasar gerombolan yang sedang bergerilya atau tempat berteduh gelombang pengungsi yang melarikan diri dari arena pertumpahan darah dan bermaksud mencari tempat yang aman di Tana Poso.

Tahun 1945-an hingga 1965, Tana Luwu bukan menjadi tempat yang aman. Daerah ini adalah daerah pergolakan di mana berlangsung perang saudara berlarut-larut dan menelan ribuan korban jiwa. Mungkutana, bahkan seluruh Tana Luwu, berada dalam kondisi sosial kemanusiaan yang amat memilukan. Krisis ini mengakibatkan banyak guru-guru yang yang bertugas di wilayah ini dipenjarakan, bahkan di bunuh, sebagaimana yang terjadi tahun 1946. Termasuk kakak dari ibu yang kekasih, Pdt. Umawu Modjepe yang melayani di Jemaat Maleku bersama keluarganya dan beberapa anggota jemaat disekap di tengah hutan oleh gerombolan selama beberapa waktu. Perjalanan seorang ibu bersama anak dalam gendongan melintasi hutan belantara bermaksud mencari tempat berteduh sekaligus untuk mendapatkan kasih sayang yang utuh bagi anak kekasih. Namun situasi sosial ketika itu menyatakan sebuah realitas yang lain. Jadi cukup tragis membayangkan, niat suci seorang ibu pada bayinya dengan menyingkirkannya ke wilayah yang tengah dilanda perang saudara.

Pilihan melintas deretan pegunungan Takolekaju ke daerah Mungkutana dengan maksud untuk meringankan beban pergumulan, namun sebaliknya menghadapi persoalan kemanusiaan yang lebih rumit dan beresiko. Kenyataan ini justru menjadi bagian yang membentuk kepribadian Justinus pada sensitivitas kemanusiaan. Kesadarannya cenderung berada dalam perspektif korban. Baik sebagai pengaruh perpisahan kedua orang tua, maupun pengalaman hidupnya dan terasa dalam syair-syair yang mengekspresikan batinnya. Syair lagu tentang Rumongi, yaitu kisah mitologi peradaban Poso, menarik untuk didalami melalui pertanyaan bahwa mengapa Sosok Rumongi (ibu) yang dipilih sebagai judul lagu tersebut. Mengapa bukan Lasaeo (bapak) yang turun dari langit. Mungkinkah pesan yang ingin diungkapkan bahwa pengalaman bersama ibunya dalam perspektif korban adalah upaya pembenaran jalan hidupnya berdasarkan alur mitologi Lasaeo-Rumongi.

Mitologi ini adalah kisah kehidupan satu keluarga yang menjadi peletak awal peradaban di Tana Poso. Lasaeo adalah mahluk dunia atas yang sakral (simbol kesempurnaan) yang turun ke bumi lalu bertemu dan menikah dengan Rumongi manusia bumi (simbol ketidaksempurnaan). Dalam perjalanan kehidupan, rumah tangga ini menghadapi masalah dan akhirnya Lasaeo memutuskan kembali ke komunitasnya (dunia sakral). Ketika ia kembali ke langit dengan memanjat seutas tali, Rumongi bersama anaknya berusaha mengikuti, namun tali tersebut sengaja diputuskan oleh Lasaeo sehingga Rumongi dan anaknya terjatuh ke bumi lalu menjadi batu.

Dari alur targedi kehidupan Lasaeo – Rumongi dan anak mereka, Justinus Hoeky melakukan sebuah rekonstruksi tafsir budaya atas kehidupan dirinya. Konsep tragedi yang dipahami sebagai keputusan dunia atas ditafsirkannya seolah menjadi pembenaran berdasarkan sejarah bahwa anak dan perempuan (istri) cenderung menjadi korban dalam setiap kasus perpisahan dalam satu keluarga serta retaknya kehidupan kekeluargaan. Dalam perenungannya di Kayulangi tentang kasih sayang seorang ibu hingga di usianya yang beranjak untuk mengerti kehidupan ini, Justinus Hokey menutup dialog batinnya pada satu pengakuan iman sebagaimana diungkapkan dalam syair :
Japodo wa’anya Pue Makuasa, da mangkariani ri rampelinjata.
(Hanya Tuhan Maha Kuasa, menjaga dalam perjalanan kita).
Proses perjalanan hidup sejak dari dalam rahim yang lahirnya didambahkan menjadi simpul kebahagian dalam satu keluarga yang utuh. Namun sesaat hadirnya, kebahagian itu ibarat setetes embun yang segera lenyap tatkala mentari pagi menyapa. Justinus menjalani proses kemanusiaan dari hidupannya sebagai seorang bayi tidak berdaya dalam sentuhan kasih (rikobati) seorang ibu yang amat terbatas hingga ia mengerti dan bertangung jawab pada hidup itu sendiri.

Dari daerah pertumpahan darah di Mungkutana, Tana Luwu, para pengungsi meninggalkan kampung halaman mereka, termasuk rombongan yang dipimpin oleh Pdt. Umawu Modjepe yang berhasil meloloskan diri dari sekapan gerombolan selama berbulan-bulan, dan akhirnya menetap di kampung Masani di wilayah peisisr pantai Teluk Tomini. Di tempat ini, Justinus tumbuh dalam konteks masyarakat pengungsi yang juga sebagian baru mulai membangun kekerabatan. Demikian selanjutnya, Justinus lebih banyak mendapat kemurahan dengan menjadi anggota keluarga Pdt. Umawu Modjepe yang mendapat tugas dari gereja untuk memberitakan Injil di beberapa tempat. Pada tahun 1949, ibunya bertemu dengan bapak Y. H. Hokey yang bertugas sebagai Mantri Kehutanan. Pertemuan pertama yang memberi harapan hari depan, akhirnya berujung pada kata sepakat untuk melanjutkan hidup bersama sebagai suami – istri dengan seorang anak yang mulai bertumbuh.

Dalam rumah tangga baru ini, Justinus tumbuh dan mendapat kasih sayang yang utuh dan kemudian menjadi ruang bagi hadirnya sebuah identitas. Sebagai ekspresi kebahagiaan dan penghormatan (Petubunaka), secara sadar Justinus mengabadikan nama Hokey untuk melengkapi identitasnya sebagai pribadi yang utuh berdasarkan basis kultural kekeluargaan.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *