MISI PEKABARAN INJIL DI TANAH POSSO

Pada awal sebelum kedatangan Belanda di Tanah Posso, diperkirakan Posso memiliki populasi sebanyak seratus ribu jiwa. Pada saat itu, Posso dianggap memiliki iklim yang baik dan tanah yg subur, akan tetapi tidak ada satupun pihak swasta atau pemerintah kolonial yang mau melakukan ekspansi ke Tanah Posso.
Mungkin dikarenakan kekuatiran mereka terhadap masyarakat Posso yg masih dianggap liar!

Namun lambat laun timbul keyakinan pihak Belanda bahwa To Posso sudah “agak jinak”, dikarenakan adanya pengaruh masuknya agama Islam di Tanah Posso, dan untuk itu pada Tahun 1887 Pemerintah Belanda mengutus Ds . Wielandt dari Minahassa guna mulai melakukan PEMETAAN awal sebelum dimulainya misi pekabaran injil di Tanah Posso.

Pada tahun 1889, diutuslah A. C. Kruyt (yang sebelumnya telah menetap selama beberapa tahun di Gorontalo) untuk memulai proses PEMBANGUNAN pos penginjilan di Tanah Posso. Kemudian setelah merasa yakin dengan rencana penginjilan di Tanah Posso, pada tahun 1892 A. C. Kruyt pindah ke Posso dan menetap Tabonga(?),

Pada awal misi pekabaran injil di Tanah Posso, Kruyt “membungkus” dengan misi kesehatan / medis. Namun, setelah banyak waktu berlalu, Kruyt merasa banyak waktu yang terbuang percuma dan misi pekabaran injil di Tana Poso tidak / belum membuahkan hasil apapun!

Kruyt menganggap misi pekabaran injil dan misi kesehatan memiliki tujuan yang mulia, tetapi To Posso (yg menurutnya rajin dan ramah) tidak tertarik atau tidak meiliki keinginan untuk menaruh perhatian pada apa yang dikerjakannya, bahkan untuk datang menimba ilmu di sekolah Minggu sekalipun (pada waktu itu sekolah proses belajar mengajar diadakan dalam satu paket sekolah Minggu)! Menurut Kruyt, kalaupun ada To Posso yang datang ke sekolah Minggu, bukan untuk maksud menimba ilmu melainkan untuk maksud yang lain! Sehingga apa bila ada To Posso bisa atau mau mengikuti proses pembelajaran di Sekolah Minggu hanya sebagai “pelengkap” dari maksud yang lain itu, atau dengan kata lain To Posso hanya secara “kebetulan” saja terlibat dalam proses belajar pada hari itu.

Pada tahun 1895 didatangkamlah seorang ahli bahasa bernama Dr Adriani , untuk memulai proses penterjemahan Alkitab ke dalam bahasa daerah yang dipergunakan oleh To Posso.
Pada awalnya, Dr Adriani menetep di pedalaman Posso untuk mempelajari bahasa Bare’e sambil terus berkomunikasi dengan Kruyt.
Dalam tahun 1896 Kruyt banyak bepergian, sehingga Dr Adriani untuk sementara menggantikan posisi Kruyt dalam misi pekabaran injil di Tanah Posso. Tetapi hingga saat itu, belum ada kemajuan apapun dalam misi pekabaran injil di Tanah Posso , selain mulai dikirimnya guru-guru injil dan orang-orang Kristen dari Minahassa ke Posso. Keadaan “minim kemajuan” tersebut ditulis Kruyt bukunya ” The Misionaris Century” (Abad Pekabaran Injil) yang diterbitkan pada tahun 1901, tetapi Kruyt juga memiliki secercah harapan akan keberhasilan misi pekabaran injil di Tanah Posso yang dituliskan dalam bukunya yang berjudul ”Cahaya akan berguna dalam kegelapan, (ketika) Fajar belum terbit di Posso! ”

 

Foto Steve R Lusikooy.

Dalam bahasa Theologisnya, Kruyt mengistilahkan kondisi “minim kemajuan” dengan istilah : “(sebagian) To Posso masih terselubungi kabut animisme”. Kruyt juga menyadari bahwa kehadiran Misionaris di tengah-tengah To Poso bias memicu pergesekan diantara mereka selaku orang asing dengan masyarakat local setempat, dan hal ini menimbulkan kecemasan di hati Krut.

Untuk itu, sebelumnya ia telah mempertimbangkan masak-masak keputusan untuk datang ke Posso dan strategi pendekatan dengan masyarakat local melalui misi kesehatan. Pada awalnya Kruyt harus membangun image bahwa Misionaris adalah orang yang bisa mengobati dan memiliki pengetahuan yang luas ( lihat artikel Dr Adriani pada Majalah ” Our Century” , September, 1908), membutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk melakukan pekerjaan ditengah-tengah masyarakat, serta membutuhkan waktu yang lama hingga bertahun-tahun hingga seorang To Posso minta untuk dibaptis!
Kurangnya pemahaman tentang karifan local setempat, Kehadiran Kruyt di Posso menjadikannya dibenci sekaligus dibutuhkan!

Terjadi perubahan besar dalam kelancaran misi pekabaran injil di Posso pada tahun 1905 ketika Pemerintah menyatakan kekuasaannya wilayah Midden Celebes pasca penaklukan Luwu, dan melakukan penanganan langsung terhadap wilayah ini.
Kemajuan tersebut dituliskan oleh Dr Adriani dalam majalah ” Our Century “, dan hal itu membuat para misionaris merasa tenang dalam melakukan pekerjaannya di tengah-tengah To Posso.

Walaupun sudah mengalami perubuhan tetap saja lebih banyak gejolak yang terjadi, dan proses pekabarin injil di Tanah Posso belum menunjukan tanda-tanda kemajuan!
Sampai Desember Pada tahun 1909 dimana ada To Posso dibaptis , dan semakin banyak Ro Posso yang meminta untuk di Baptis! Beberapa Misionaris menuliskannya pada Missionary Herald tertanggal 5 April Dalam salah satu surat pribadinya, Kruyt member judul “ Pada Natal 74 orang dibaptis” .

Ada kejadian unik pada saat Pembabtisan yang ditulis Kruyt :

” Pada malam hari pembaptisan saya mengumpulkan seluruh kota lagi, jadi sekali lagi kami harus serius untuk “mengatasi”para pemula dan membuat mereka sadar akan keseriusan janji pembaptisan. Kedua tetua berbicara kepada janji tersebut . Yang pertama berbicara kepada mereka tentang kehidupan baru yang mereka akan mulai sekarang sebagai orang Kristen , dan ia menyuruh mereka untuk “menanggalkan pakaian lama yg mereka kenakan dan mengenakan pakaian baru”.
Penatua kedua dalam sambutannya membuat pernyataan yang sangat baik dengan mengatakan bahwa pembicara sebelumnya telah berbuat salah meberikan ilustrasi tentang mengenakan gaun baru , karena sesungguhnya pembaptisan adalah perubahan hati .
Dia mengatakan bahwa pembicara sebelumnya mungkin terlalu bersemangat hingga “salah bicara” sehingga memberikan ilustrasi tentang mengganti pakain seakan-akan To Posso yang akan di baptis akan melakukan sebuah pertemuan di Belanda saja! Tapi hakikatnya adalah meninggalkan hal-hal yang buruk sehingga semua kebaikan bisa terpancar dari seorang Kristen setelah menerima Pembaptisan .Penatua kedua itu kemudian menjelaskan kepada jemaat bahwa hendaknya jemaat tidak berbuat baik hanya untuk diperlihatkan kepada misionaris dan guru, tetapi jemaat bertanggung jawab kepada sesama manusia terutama kepada Tuhan untuk kehidupan barusebagai orang Kristen. Dengan disaksikan para Kabose dan para tetua-tetua, Jemaa baru meminta dibaptis. Dengan demikian mereka mengucapkan segala tanggung jawab atas sesama manusia dan Tuhan “.

Oleh: Steve R. Lusikooy

Foto Steve R Lusikooy.

 

Facebook Comments