MENGHADAPI EKSPEDISI TENTARA BELANDA DALAM PERANG LAMBA (1903)

Minggu, Agustus 23rd 2015. | Poso, Sejarah

Di lingkungan orang-orang tua pemerhati sejarah leluhur Topekurehua, hampir terlupakan sejarah yang sangat penting mengenai ekspedisi pasukan tentara Belanda pertama ke Tampo Pekurehua. Secara garis besarnya persoalannya diawali dari tindakan sekelompok orang Napu yang gemar melakukan penyerangan-penyerang sporadis ke wilayah Poso yang dipimpin oleh Umana Baturu (Kareba). Kelihatannya kelompok yang dipimpin oleh Kareba ini dapat dikatakan tidak memiliki hubungan dengan garis kebijakan kepemimpinan pasukan yang dipimpin oleh Ama (Umana Soli). Sebut saja bahwa kepemimpinan Umana Baturu yang bermukim di Wuasa adalah kelompok yang melakukan penjarahan dan penyerangan sporadis serta berjalan sendiri yang berada di luar pengetahuan umana Soli di lamba.

Sekitar tahun 1903, Umana Baturu melakukan perampokan sekaligus membakar gudang perbekalan Pemerintah Hindia Belanda di Mapane (Poso). Atas insiden ini, beberapa orang (sekitar 9 orang) ditangkap dan dipenjarakan di Mapane termasuk pemimpinnya. Namun beberapa saat kemudian mereka berhasil melarikan diri dari tahanan dan menyembunyikan diri di perkampungan Wuasa.
(Perlu menjadi perhatian mengenai sejarah kritis bahwa tindakan Umana Baturu membakar gudang perbekalan di mapane oleh penulis sejarah Kaili menyebut sebagai perintah dari Tadulako Kalili. Pesan ideologis yang ingin dikatakan oleh penulis sejarah bahwa seluruh tindakan orang Napu terhadap penyerangan-penyerangan ke Poso adalah perintah dari penguasa Kalili sebagai konsekuensi sebagai daerah taklukan). Catatan selanjutnya bahwa kebiasaan Tonapu mengayau ke wilayah Poso sekaligus bermotifkan kepentingan ekonomi (perampokan terutama hasil ladang), dan ini kebiasaan yang tidak memiliki hubungan struktural dengan kerajaan Bora. Artinya Mengayau dan Perampokan ke wilayah Poso bukan atas perintah Kerajaan Bora.

Pelarian para tahanan tersebut, diikuti dengan pengejaran oleh Tentara Belanda yang dipimpin oleh Letnan Voskuil ke wilayah Napu melalui jalan dari Pinedapa yang baru 1 tahun sebelumnya di buka(1902). Saat tentara Belanda tiba di lembah Pekurehua untuk menangkap umana Baturu dan anak buahnya, tentara langsung menuju ke Lamba yang menjadi pusat kekuasaan, (sementara kelompok yang akan ditangkap bersembunyi di Wuasa). Konsekuensinya, Belanda langsung berhadapan dengan Umana Soli yang tidak mengetahui persoalan.
Menghadapi karakter kepahlawanan Umana Soli yang tidak mengenal kata menyerah, sehingga ia memilih melawan dari pada memenuhi permintaan Belanda untuk menyerahkan Umana Baturu dan kawan-kawannya. Dalam perang di Lamba, masih terlalu tangguh kekuatan budaya yang dimiliki oleh Ama dan pasukannya sehinga tentara Belanda yang sekalipun telah memakai persenjataan modern praktis tidak dapat menaklukkan umana Soli. Letnan Voskuil tidak berhasil menerobos benteng pertahanan di lamba sekalipun hanya terbuat dari rumpun-rumpun bambu. Tentara-tentara Belanda berhari-hari mengepung mengepung benteng pertahanan tersebut dengan sekali-kali melakukan tembakan senapan mesin yang diarakan secara membabi buta tampa sasaran yang jelas.

Setelah cukup lama tidak lagi terdengan suara tembakan dan diperkirakan tidak ada lagi tentara Belanda di sekitar benteng, Umana Soli meminta anaknya tertua (Soli) untuk mengamati situasi di luar. Sayangnya Tentara Belanda masih mengawasi benteng tersebut berhasil menangkap Soli lalu membawanya ke Poso. Dari Poso, Soli ditawan ke Manado untuk diperlihatkan kepada Gubernemen. Dan Soli tetap dalam pengasingan di Manado hingga akhir hayatnya.

Salam dalam Persaudaraan
Asyer Tandapai

tags: , , , ,

Berita Terkait