Manoeroe

Oleh: Abdi Pole.

Tulisan ini disadur dan diterjemahkan penuh dari buku DE WEST-TORADJA’S OP MIDDEN CELEBES DOOR ALB. C. KRUYT DEEL I 1938 tanpa ada pendapat ataupun opini tambahan dari penulis, ataupun saduran buku lainnya, hanya bermodalkan kamus bahasa belanda dan bahasa indonesia yang sudah dipelajari sehingga mengikuti gaya berbahasa dan menulis Alb. C. Kruyt namun tidak mengurangi maksud dan arti sesungguhnya. Penulis tidak memaksakan terjemahan jika rancu dalam bahasa indonesia, tetap akan menyajikannya dalam bahasa belanda. Bukan sebuah tulisan ilmiah, namun hanya keisengan dan rasa ingin tahu yang besar sehingga penulis termotivasi menerjemahkan beberapa sub bab bagian buku ini. Dengan semangat ini, semoga pembaca dapat menikmati keterbatasan penulis dalam menerjemahkan.

Buku ini terdiri dari 4 DELEN , jilid 1 ( DEEL 1), 557 halaman, bab pertama membahas LAND EN VOLK ( tanah dan orang) yang terbagi menjadi dua sub-bab, AFDEELING DONGGALA dan AFDEELING POSSO. Pada sub-bab AFDEELING POSSO , A.C. Kruyt membagi sub-bab ini lagi, rinci dari bagaimana menghubungkan antara pemukiman Toradja Timur dan pemukiman Toradja Barat (bag.126), kemudian membahas Tawailia (bag.127-141), Napoe (bag.142-188), Besoa (bag.189-207), Bada’ (bag.208-229), dan Rampi’-Leboni (bag.230-245).

Mengenai Bada’, oleh A.C. Kruyt, dibagi lagi sebagai berikut : pada bagian 208. dijelaskan mengenai jalan yang ditempuh untuk mencapai Bada’ dari Besoa, 209. gambaran umum wilayah, 210. tentang mata air panas (Warme bronnen), 211. kedatangan Pemerintah Nederlandnse Indische ( N.I.), 212. dari mana asal Bada’?, 213. orang liar dan monyet (Wilden en Apen), 214. Manoeroe’, 215. hubungan Bada’ dan Waiboenta, 216. hubungan Bada’ dan Sigi, 217. Desa-desa (Dorpen), 218. Nama desa, 219. Lingkungan sekitar desa-desa, 220. Sepe, 221. Kejatuhan Sepe, 222. Perang Bada’ dengan Koelawi, 223. Perang dengan Pada-Seko, 224. Perang dengan Rampi’, 225. Perang dengan Poso, 226. Perang dengan Kinadoe, 227. Perang dengan Dolago, 228. Konflik di antara mereka sendiri, 229. Perang dengan Waiboenta.

Saya akan melompat menerjemahkan bagian 204, kedepan akan dicari semua benang merah yang tertulis di sub bagian ini. Selanjutnya, kata ganti orang pertama kedua, saya-anda, yang tidak dalam tanda kutip percakapan, mengacu pada A.C. Kruyt sebagai penulis. Kata Keterangan waktu, sekarang-saat ini, mengacu pada saat A.C. Kruyt menulis buku ini, sebelum tahun cetak buku, 1938.

________________________________________________________________204. Manoeroe’
Tak ada satu pun tradisi dari orang-orang kelompok toradja Barat yang memiliki kejelasan mengenai kehadiran manusia mula-mula di tanah mereka, seperti To Bada’. Semua cerita yang ada tentang itu berputar pada satu entitas Manoeroe’ “yang turun dari langit”, yaitu Toraa Manoeroe’ “yang turun dari langit To Raa” (disebut demikian oleh penduduk Masamba), meskipun cerita ini mengaitkan Manoeroe’ dengan penciptaan manusia, pendapat umum yang ada adalah orang sudah lama tinggal di Bada ketika Manoeroe’ datang kesana. Dalam beberapa cerita, Manoeroe’ disebut sebagai Alatala, di lain cerita Alatala adalah istri Manoeroe’.

Cerita Manoeroe’, yang banyak mengandung ciri mitos bulan, berbeda sehubungan dengan darimana ia berasal. Ada yang mengatakan berasal dari Wotoe, dan yang lainnya dari Waiboenta. Yang pertama adalah yang paling mungkin. Dulu, orang-orang Wotoe tinggal di desa Lampenai, sebuah bukit yang terletak sedikit ke barat Moliowo di tepi sebelah kanan sungai Kalaena. Desa itu terletak di sungai Laosa, yang bermuara di sungai Pewoesoi. Lampenai had een driedubbelen wal van aarde [memiliki tiga benteng dinding tanah?]; didirikan oleh Samba Langi “yang menutupi langit”. Hal ini masih disebutkan oleh orang Wotoe, bahwa Manoeroe’ memberi kesehatan kepada masyarakat dan membuat kawanan kerbau berkembang, dikatakan juga bahwa pada masa itu mayat-mayat masih dikuburkan dalam peti kayu, sebelum beralih ke agama Islam. Guci tanah tidak ditemukan di daerah tersebut saat penggalian, Waiboenta tidak ada pada saat itu. Ketika Anak laki-laki Samba langi melihat serpihan kayu yang mengambang di sungai Kalaena, membuat dia menyadari bahwa orang-orang harus tinggal di hulu sungai itu, dan dia pergi menemui mereka, dan mereka inilah penduduk Saloe Maoge.
Tidak lama setelah itu, Lasaeo, sebutan orang Poso untuk Manoeroe’, tiba di Pangalawaa, mulut sungai Pewoesoi, sendirian dan menaiki rakit tempurung kelapa (di Bada’ dikatakan bahwa Lasaeo-Manoeroe’, yang akan saya sebut dengan nama kedua, berasal dari Waiboenta di Wotoe). Ia menikahi anak perempuan Samba Langi. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Sulawesi bagian Tengah. Karena di tengah perjalanannya tidak ditemukan air, maka ia menancapkan tombaknya ke tanah, dan mengatakan: “Jika saya benar anak Alatala, akan ada air!” Ketika dia menarik tombaknya dari tanah, air dan danau Poso muncul.

Dari Poso ia pergi ke Napoe. Di sana ia tidak menemui air untuk memandikan anaknya yang baru saja lahir, oleh karena itu , ia membuat Sungai Tawailia. Berikutnya, melalui sungai Malei ia sampai di Bada’, dimana ia membangun sebuah rumah di tempat pemimpin Bada’ngka’ia sekarang tinggal. Mengenai istri Manoeroe’, cerita bada’ mengisahkan bahwa dia berasal dari bambu di Waiboenta. Manoeroe’ memotong bambu dan membawanya untuk dijadikan bantal tidur malam hari. Dia kemudian mendengar ada yang bernyanyi dalam bambu, dia membelahnya, seseorang gadis rupawan cantik jelita keluar, dan menjadi istrinya. Berdasarkan keadaan ini, istri Manoeroe’ memperoleh nama Bate “derma” (lihat bate Manoeroe’ dalam kamus Bare’e-Nederlandsch Adriani tentang bate).

Manoeroe’ mendapat anak perempuan dari Bate, yang namanya tidak diketahui. Bate berkata kepada suaminya, “jaga anak itu, saya akan menenun”, Ketika anaknya bemain kotor, Manoeroe’ memanggil Bate untuk membersihkannya. Dengan berat hati Bate datang untuk membersihkannya, dan ketika sudah selesai, dia berkata: “Anda memanggil saya untuk membersihkan anak itu, namun sekarang saya tidak lagi ingin tinggal di sini!”. Bate melompat ke atap rumah dan terbang ke langit. Manoeroe’ kemudian menikahi seorang budak, yang dengannya dia melakukan perjalanan ke Danau Poso. Wanita ini disebut Tolino “penghuni bumi”.

Menurut cerita lain, di Napoe, Manoeroe’ bertemu dan menikahi istrinya, Alatala, yang dia tinggalkan saat berpergian ke Bada’. Ketika anaknya lahir, sang ayah tidak segera datang untuk melihatnya, Alatala memanjat pohon anggur yang menuju ke langit, setelah itu memotong tangkainya; yang jatuh ke bumi dan menjadi bukit Tamungkoe Molo (To Napoe tidak tahu apa-apa tentang cerita semacam itu, mereka memiliki cerita yang berbeda tentang gunung kecil itu, seperti yang telah kita lihat).

Manoeroe’ pergi ke Waiboenta dan pergi ke pantai. Di sana dia berteriak minta tolong, agar bisa mengikuti Alatala ke langit. Lalu datang seekor ikan besar, Tolengko boeloi, menyuruh Manoeroe’ untuk duduk di lehernya. Begitu Manoeroe’ duduk, ikan itu terangkat ke atas oleh kibasan ekornya, dan membawa Manoeroe’ ke langit. Waiboenta berarti “sungai boenta (Sloetia Minahassae)”. Di Loewoe’,disebut Baeboenta: karena diluar sana kebanyakan orang-orang berbicara tentang Waiboenta, saya tidak menggunakan nama ini.

Apa yang terjadi pada putrinya di Napoe tidak diceritakan. Dalam cerita Poso tentang Lasaeo, orang naik ke langit melalui pohon anggur (Adriani-Kruyt 1, II, 23-24). Woensdregt bercerita tentang kisah ini, bahwa Manoeroe’, kembali ke langit sementara Alatala mengikuti pelangi (Woensdregt 1, 5 e.v.). Anak mereka, seorang putra, bernama Boenta, tetap tinggal di Waiboenta, dijaga dan dididik oleh Baloilo. Cerita lain menunjukkan bahwa Manoeroe’ melakukan perjalanan pertamanya ke Sulawesi bagian Tengah, dan setelah tiba di Waiboenta, ia baru menikahi gadis yang berasal dari bambu (Woensdregt 1, 42, 43).

Ruang lingkup dari cerita-cerita tentang istri-istri Manoeroe’ jelas: mereka ingin menunjukkan bahwa pemimpin Bada’, yang sama-sama keturunan Manoeroe’, sebagai Mokole (Raja) dari Waiboenta, toch de minderen zijn van den laatste, omdat zij zijn voortgekomen uit de verbintenis van Manoeroe’ met een mensch [namun keturunannya adalah yang terakhir, karena mereka adalah hasil dari komitmen Manoeroe’ sebagai seorang pria?] sedangkan pemimpin Waiboenta adalah keturunan dua entitas langit.

Ketika Manoeroe’ tinggal di Bada’ngka’ia untuk sementara waktu, dia pindah ke Waiboenta, membiarkan istrinya Tolino hamil. Dia mengucapkan selamat tinggal dan berkata kepadanya: “Jika anda melahirkan, kirimi saya pesan”. Ketika dia tiba di sebuah tempat bernama Tokoeni, dia diberitahu bahwa istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan, kemudian Manoeroe’ berkata: “Daerah ini akan disebut Bada”. Koeni, kunyit, kuning. Bahasa Rampi’, Bahasa Toradja lainnya, Bahasa bada’: bada’. Manoeroe’ juga memberi nama berbagai tempat, seperti Leboni, karena dia pernah berada di sana di bawah pohon leboni (Ficus leucantatoma); Hoelakoe’, karena dia telah membunuh seekor hoelakoe’, palmmarter [dipukul dengan telapak tangan?],di tempat itu, dll. Tolino memiliki lebih banyak anak, dan menjadi pemimpin tiap suku di Bada’. Manoeroe’ juga pergi ke Sigi dan Koelawi, dimana dia juga memberikan anak kepada generasi penerus disana. Anak perempuan

Tolino menikahi seorang budak tanpa membayar mahar, zoodat de kinderen geheel van de moeder, en dus vorstenkinderen waren [sehingga anak-anak sepenuhnya menjadi hak ibu, hingga nenek moyang?]. Tolino akhirnya naik ke langit, Dengan demikian, dia menggulingkan sebuah mangkuk batu, kalamba, yang telah berfungsi sebagai bak mandi anak-anaknya; dit vat ligt nog op zijn zijde [?]. di Waiboenta, ketika Manoeroe’ mendengar bahwa Tolino telah pergi naik ke langit, dia kembali ke Bada’, dan mendirikan sebuah patung batu. Dia berkata kepada anak-anaknya: “Sekarang ibumu sudah tiada lagi, dan itulah sebabnya saya mendirikan ini. Jika ada penyakit menular, datanglah berdoa di sini; potonglah seekor kerbau putih, dan lepaskan seekor ayam putih; bawalah nasi jika ingin bertanya, dan potonglah kerbau putih dan ayam putih.” Inilah patung batu di sebelah tenggara dari Bada’ngka’ia di tepi kanan Sungai Malei. Patung batu ini menyandang nama, Watu molindo “batu dengan wajah”, selanjutnya dibahas pada II,96.

Ketika Tolino mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anaknya, dia mengatakan kepada mereka: “Jika ayahmu meninggal di Waiboenta, bawakan dua kerbau, satu putih dan satu hitam; yang pertama sebagai pertanda kamu muslim; yang kedua sebagai pertanda kamu kafir”. Apa artinya ini tidak jelas dan tidak ada yang tahu arti kata-kata ini. Saat itu tidak ada yang menyebutkan Islam. Keluarga utama pemimpin Waiboenta tidak makan daging kerbau putih, yang sama dengan bangsawan Boegis lainnya. Alasan yang diberikan untuk ini adalah bahwa menurut tradisi di Waiboenta, Manoeroe’ hadir di sana, menunggangi dengan seekor kerbau putih, itulah mengapa dilarang memakan daging hewan tersebut. Di atas kerbau ada lapisan daun pakis, pakoe, diletakkan sebagai pelana; Untuk melindungi dirinya dari sinar matahari, Manoeroe’ menggunakan daun kamasi. Itulah sebabnya dilarang bagi keturunan keluarga bangsawan untuk memakan kedua tanaman ini sebagai sayuran. Ditambahkan larangan memakan rebung, karena istri Manoeroe’ berasal dari batang bambu.

Ada berbagai variasi tradisi ini, yang saya tidak masuk lebih jauh (lihat Woensdregt 1, 6, 42, 43, 44, 45). Namun, penting untuk berbagi ini dengan Anda, yang diceritakan tentang Manoeroe’ di Waiboenta.

Kawasan Waiboenta sudah dihuni saat Manoeroe’ tiba di sana. Permukiman utamanya adalah Sasa, tempat yang masih dihuni. Desa ini sekitar 6 KM dari utara Waiboenta sekarang. Selanjutnya, ada permukiman Baloli, Rompoe, Kapoeli (dekat Tirowali), dan Tikala (tidak jauh di atas Barobo); Dua yang terakhir sekarang dikosongkan. Orang-orang di wilayah ini memiliki bahasa mereka sendiri, yang bagaimanapun hanya umum digunakan di Sasa. Di tempat lain sebagian menggunakan bahasa To Raa (Masamba) atau bahasa boegis.
Sasa terletak di tepi kiri sungai Tanoesoe. Sebelumnya terletak di tepi yang berlawanan, tapi setelah anak pimpinan mereka dilarikan oleh to Rampi’, mereka kembali ke tempat semula. Pada titik ini sungai Tanoesoe bergabung dengan anak sungai di sebelah kirinya, Pasoesoang.

Di Sasa itulah Manoeroe’ muncul, duduk di atas seekor kerbau putih, di atasnya lapisan pakis diletakkan sebagai pelana. Ceritanya mengatakan bahwa dia berasal dari Koemamboe, sebuah sungai kecil di sisi Utara Danau Poso, dekat dengan Pamona, yang merupakan titik dimana Toradjan telah menyebar ke Sulawesi. Dari Koemamboe dia pergi ke Mori. lalu ke mulut Sungai Poso lalu ke Parigi, Sigi, Napoe dan Bada’.

Sebelum tiba di Sasa, Baloilo (gelar yang masih digunakan di Waiboenta) memerintahkan seorang anak laki-laki untuk mendapatkan bambu dari jenis yang disebut oppo di Poso peringi, di Waiboenta. Ketika anak itu memotong bambu, sebuah suara memanggil keluar dari tangkai: “Berhati-hatilah jangan sampai menyentuh saya!” Anak laki-laki itu pulang ke rumah dengan ketakutan dan memberi tahu Baloilo apa yang telah terjadi padanya. Kemudian Baloilo memasukkan nasi ke dalam keranjang, saguer di bambu, menangkap seekor ayam putih, dan dengan semua ini ia pergi ke lokasi bambu. Di sana, dia mengikat ayam, menaburkan beras di pangkal batangnya, menuangkan saguer, dan baru kemudian dia memotong bagian bambu dimana suara itu datang. Sambil pulang, ia meletakkan sebatang bambu itu di atas piring, djarawata, dan menaburkan santan di atasnya, setelah itu ia menggantungkan tirai di sekeliling piring. Setelah tiga malam aroma yang menyenangkan menyebar di rumah, dan saat Baloilo mendorong tirai, dia melihat seorang gadis cantik yang muncul dari bambu. Gadis itu berkata kepada Baloilo: “Jangan terlalu jauh dari rumah, karena seseorang akan mendatangi saya”.
Baloilo terus berburu, dan saat dia pergi, Manoeroe’ datang menunggangi kerbaunya. Dia berjalan mengelilingi rumah, dan ingin naik ke lantai atas, tapi istri Baloilo menangis, “Jangan ke atas, karena saya sakit perut, apakah Anda tidak melihat semua kotoran itu?” Kemudian Manoeroe’ menanam bunga di halaman, dan meminta istri Baloilo untuk melihat siapa yang memetik bunganya, karena siapa yang melakukan ini pasti menjadi istrinya.

Dia kembali setelah tiga malam. dan melihat bahwa bunganya telah dipetik. Dia bertanya kepada Baloilo yang telah melakukan ini, tapi dia tidak tahu. Lalu Manoeroe masuk ke dalam rumah dan menemukan We Lele Aloeng, gadis yang berasal dari bambu itu. Istri Baloilo datang untuk memberi tahu suaminya bahwa ada seseorang dengan anak asuh mereka. Baloilo menjawab bahwa dia tahu sebelumnya ia akan datang, dan pemuda tersebut ditakdirkan untuk menjadi suami We Lele Aloeng. Untuk saat ini, Manoeroe’ akan tinggal bersama Baloilo.

Tak lama kemudian, Manoeroe’ menetap di Sabang “terlihat”, sebuah bukit yang dekat dengan Sungai Rongkong. Dalam pembangunan jalan raya Palopo-Masamba, sebagian dari bukit ini telah digali. Dia pertama kali meletakkan sebidang tanah di sana. Baloilo berkata kepada Manoeroe’: “tanah itu terlalu besar, Anda tidak bisa hanya mengolahnya”. Setelah tujuh hari keduanya kembali ke sana, dan Baloilo melihat dengan penuh takjub keheranan sebuah rumah besar yang penuh dengan orang; yang kesemuanya berasal dari langit. Orang-orang langit dipimpin oleh Radjin, Mal.”rajin”. kerbau milik Baloilo ketakutan,liar, dan mati saat melihat rumah indah nan megah ini. Tapi Manoeroe’ menghidupkannya lagi, dengan memercikkan air basuhan rambutnya.

Manoeroe’ berkata kepada Baloilo: “Ukur rumah ini, karena akan hilang lagi, dan kemudian rumah yang sama akan dibangun”. Baloilo memenuhi tugas ini, dan ketika ia selesai mengukur, rumah tersebut lenyap, namun orang-orang itu tetap tinggal. Diinstruksikan untuk membangun rumah di Sabang dalam tujuh hari di tempat dimana rumah langit itu berdiri. Saat Manoeroe’ datang untuk melihat, setelah tujuh hari, rumah itu sudah jadi. Diberi nama Salaso (“Kediaman Bangsawan”); panjangnya adalah tiga belas depa.

Manoeroe’ dan istrinya tinggal di rumah ini, dan putra mereka, Laradja, lahir. Kemudian terjadi, apa yang telah dicerita berulang kali: Manoeroe’ tidak senang, karena istrinya memerintahkannya untuk membersihkan kotoran anak tersebut. Karena itu dia kembali ke Koemamboe di danau Poso. Setibanya di Koemamboe, dia berkata: “Jika saya benar-benar dari langit, saya akan diberi sarana untuk kembali ke sana.” Kemudian, pohon anggur (Poso: waloegai; Waiboenta: bambaloe) diturunkan, dan kemuadian dia naik ke atas. Tiba di surga, ia memotong pohon anggur, yang jatuh dan berubah menjadi batu; Inilah bukit Tamoengkoe mBaloegai (bandingkan Adriani dan Kruyt 1, I, 23-24).

Sementara itu, istri Manoeroe tidak tahu apa-apa tentang kepergian suaminya. Kembalinya ke rumah, dia bertanya kepada para budak, “Di mana Manoeroe’?” Jawab mereka: “Ia telah pergi”. Kemudian We Lele aloeng menidurkan anaknya, dan menyerahkannya ke Baloilo, setelah itu dia mengikuti suaminya. Ketika dia tiba di Koemamboe, pohon anggur telah jatuh ke bawah. Dia kemudian berkata: “Jika saya benar-benar berasal dari langit, akan ada jalan untuk naik.” Kemudian pelangi muncul dan dia menyusurinya sepanjang samudera.

Anak itu tidak berhenti menangis setelah kepergian ibunya. We Lele Aloeng mendengar dari langit, kemudian dia kembali ke bumi untuk mengajar Baloilo membuat buaian. Dia bernyanyi:

Moimodo tamai asanamo

Motereki merima ngkatoeiwoea

Toilangi peantoi kamai (Tuan langit lihat kami disini)

Tomerande pedongeika naoe (Tuan langit dengarkan kami di bawah sini)

Iamo tatoentoeni tomai

Gaoe nami ke i djoroe toeona (biarlah kebiasaan ini terus hidup)

Setelah itu We Lele aloeng kembali ke langit.

Istri putra Manoeroe’, Laradja, berasal dari pohon. Dua bangsawan tinggal di Sabang berturut-turut. Yang ketiga pindah ke Pinanto, sebuah tempat disebelah timur laut dari Waiboenta saat ini. Dua pangeran juga tinggal di sana berturut-turut; Yang kelima mendirikan desa Waiboenta.

Datoe pertama dari Loewoe, yang dikenal dengan sebutan Datoe Baloeboe (baloeboe “guci gerabah”), adalah putra Laradja. Datoe Baloeboe ini menikahi Opoe Naarawa, cucu Sawerigading. Putri ini pertama kali tinggal di Tjerekang, pindah dari sana ke Walo dekat Djampoe, dan kemudian ke Patima, di mana dia menikahi Datoe Baloeboe. anak laki-laki mereka pindah ke Malangke, dekat dengan laut; dia dikenal dengan nama Pata Matindo (matinro) i Malangke “yang meninggal di Malangke”. Kemudian Datoe pindah ke Palopo (lihat A. C. dan J. Kruyt, 1, 678, 679).

Waiboenta pastilah tempat yang kuat. Kecemburuan pangeran Palopo terhadap Waiboenta membuat ia memimpin pasukan pertama kali untuk menyerang Waiboenta. Tujuh kali tempat ini harus dikepung oleh Palopo, tanpa bisa dikuasai. Kedelapan kalinya diserang oleh Pemerintah NI pada tahun 1905, dan menyerah.

Datoe Matano adalah adik Manoeroe’. Keduanya memiliki pot bersama, potnya disimpan di Matano, tutupnya di Waiboenta. Pangeran Matano juga memiliki seekor burung beo emas, sisir emas dan kura-kura emas.

Di Waiboenta disimpan tujuh helai rambut Manoeroe’, yang panjangnya tujuh depa. Potongan kuku jarinya dibagi disemua daerah yang pernah dia kunjungi; kuku jari kelingking tangan kanan jatuh di Boelili, dari jari manis ke Besoa, dari jari tengah ke Napoe, dari jari telunjuk ke Rano Poso. Bada’ngka’ia mendapat kuku jempol kanan. Kuku tangan kiri dibagikan ke Banasoe’, Koelawi dan daerah lainnya di lingkungan itu. Perhatikan, bahwa di Napoe dan Besoa tidak ada cerita tentang Manoeroe’.

Facebook Comments

Kata Kunci :

manoeroe (1),

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *