MAKNA TAMPO PEKUREHUA SEBAGAI “TANA PENGHARAPAN”

 NAPU secara etimologi adalah sebuah istilah yang memiliki stigma sosial yang diberikan oran pantai (Tobora) kepada orang yg hidup di pegunungan yakni berasal dari kata Naupuramo yang artinya Sudah Mati. Istilah ini muncul sebagai akibat kekalahan dalam perang.

Dalam ceritra di sebutkan bahwa cara licik yang digunakan utuk membunuh itu adalah dengan memberi racun pada sumber-sumber air minum di wilayah Timur dengan racun yang diambil dari belut berwarna putih (Mahapi Bula). Akibat kematian massif dan kekalahan itu, masyarakat yang tersisah akhirnya menyingkir ke bagian selatan lembah tersebut dan membangun pemukiman-pemukiman, seperti Kampung Habingka, Baeau, Leboni, Lengaro, Lembokumo, Malibubu. dan lainnya.

Istilah Tonapu semakin intes dipergunakan dalam perjumpaan dengan masyarakat pesisir Pantai Lembah Palu karena bersamaan dengan itu masyarakat Pegungan dari Bada hingga Napu menjadi wilayah Taklukan Kerajaan Bora. Dan akibat kekalahan itu, Orang Pegunungan ini setiap tahunnya harus membawa Upeti kepada Kerajaan Bora di Pesisir Pantai Lembah Palu.

Istilah lain yang lebih cultural nama lembah ini adalah Tampo Pekurehua. Secara etimologi diambil dari nyanyian burung KUREU. Istilah ini muncul dari ceritra rakyat tentang dua orang pemuda yang sedang berburuh di padang sekitar Peore untuk mencari hewan. Pada satu puncak bukit di di tengah padang tumbuh Pohon besar yang menjadi rumah dan tempat bersarang burung-burung. Kedua pemuda yang berburu seharian tersebut tiba di tempat itu, lalu segera burung-burung berbunyi, Kureu… Kureu. Kuureu.

Kemudian secara naluri alamiah mereka menyebut bukit dan padang sekitarnya itu dengan Kureu. Posisi Lokasi bukit itu berada di bagian Timur Peore. Dan mengikuti dialek (rasa bertutur), Kureu diberi imbuhan sehingga menjadi Pe-Kureu-a (Pekureua). Tetapi kini masyarakat lebih enak menyebutnya dengan Pekurehua.

Dari latar belakang masyarakat budaya, ketika burung Kureu berbunyi itu berarti memberi pesan. Pemuda itu memberi arti bahwa suara burung tersebut adalah sebuah tanda bahwa mereka akan mendapatkan jerih lelah mereka. Lalu segera mereka memasang jerat mereka dengan harapan bahwa mereka akan mendapatkan reseki, sesuai keyakinan budaya mereka atas menafsirkan suara burung tersebut.

Makna lain dari burung Kureu adalah ketika mereka terbang. Bila burung itu terbang melintas lembah Napu dari arah Selatan ke Utara atau Utara – Selatan, itu berarti memberi tanda bahwa ada persoalan yang terjadi dikalangan pemimpin masyarakat. Demikian bila, burung tersebut dari arah Timur ke Barat memberi pesan bahwa ada dikalangan bangsawan yang akan meninggal.

Dari uraian di atas, makna kebudayaan yang dapat dikatan adalah Napu memiliki beban sosial (stigma) dalam relasi dengan masyarakat Pantai dalam hal ini Tokaili. Napu adalah orang yang kalah. Sebuah makna yang memiliki perspektif masa lalu.
Istilah Pekurehua mungkin sedikit memiliki makna Positif yakni Nyanyian alam yang memberi sebuah Pesan Pengharapan. Dan bila diangkat dalam cita rasa kebudayaan,maknanya dapat berarti Lembah Pekurehua adalah Tana Pengharapan. Sebuah makna cultural yang memiliki perspektif masa depan.

Oleh: Meisel Adelin Ngkuno

http://meisel-adelin.blogspot.com/2012_03_01_archive.html

Facebook Comments