Luwu dan Pamona

Senin, Agustus 10th 2015. | Sejarah

Istana Datu Luwu

Luwu bukan suku itu adalah thesis yang dikemukakan oleh bapak Nawawi S Kilat Part II dalam berbagai postingannya. Menurut beliau Luwu tidak bisa dikategorikan sebagai suku karena penyokong Luwu adalah 12 etnis berbeda yang menyatu dalam kedatuan Luwu. Luwu adalah Kerajaan/Kedatuan yang dipimpin oleh seorang Datu.

Pamona adalah salah satu suku/etnis penyokong Kedatuan Luwu. Bahkan sedari awal ketika pusat Kedatuan Luwu masih ada di Wotu, Pamona sudah menjadi bagian dari kedatuan ini, karena etnis Pamona juga bermukim di wilayah Wotu. (Orang Pamona saat ini menyangka Pamona hanyalah Tentena saja atau Pendolo saja, padahal ketika berbicara Pamona, Wotu adalah wilayah Pamona juga).

Pemahaman bahwa pamona adalah penyokong kedatuan luwu adalah sebuah pemahaman dari abad 19 dan berkembang sampai abad 21 saat ini. Padahal kalau kita mau melihat lebih jauh ke belakang hubungan antara Pamona dan Luwu bukan saja sebatas penyokong kedatuan tetapi sesungguhnya antara cikal bakal Datu Luwu dan Datu Pamona/Karaja Lamusa bersaudara kandung

Cerita soal ini ditemukan setidaknya dalam 2 (dua) kisah:
Pertama, dalam legenda masyarakat To Langgeani, yang mengisahkan bahwa Datu Luwu asal usulnya berasal dari Langgeani yang bersaudara dengan Karaja Lamusa di Tando ngKasa. Langgeani saat ini sudah punah dan keturunannya menyebar di wilayah Palande, mulai dari masewe sampai dengan singkona.

Kedua, Dalam buku sejarah terbitan p & K sulawesi tengah tahun 1985 disebutkan kalau Datu Luwu bersaudara kandung dengan Datu Pamona dan Raja Sigi. Mereka adalah pendatang dari luar yang kemudian diangkat menjadi Raja.

Pembuktian akan kisah diatas menjadi sulit karena tidak ada bukti yang kuat untuk mengklaim cerita diatas. Yang tersisa adalah sebuah ingatan bahwa antara Luwu dan Pamona sejatinya bersaudara.

Dalam sejarah modern tentang Luwu dan Pamona khususnya sejarah pada abad 19 kita diajarkan bahwa pamona, wotu dan luwu adalah sebuah kesatuan. Luwu apabila ada keperluan ke Pamona akan mengurusnya melalui wotu dan sebaliknya Pamona apabila ada keperluan akan mengurusnya melalui Wotu. Semuanya sederajat dan saling menyokong.

Dalam pemerintahannya Kedatuan Luwu dipimpin oleh seorang Datu atau Raja (dalam terminologi barat). Datu memimpin Kedatuan/Kerajaan dibantu oleh 5 (lima) orang sepupu terdekat dalam satu dewan adat yang disebut Pakatenni adae. Salah seorang anggota dari dewan adat in adalah putra mahkota.

Datu Luwu dibantu oleh 12 atau 16 orang Macoa yang bertanggungjawab atas 12 etnis penyokong Luwu. Macoa dipimpin oleh seorang Opu atau arung.

Pamona dimasukkan dibawah distrik Wotu. Distrik ini dipimpin oleh Opu Mencara Oge (Sepupu Datu Luwu).

Opu memerintah melalui Matoa Bawa lipu (dia yang membawahi kampung2).

Matoa Bawa Lipu dibantu oleh 2 (dua) Paramata, yakni Paramata Laiwonu dan Paramata Rompo.

Dibawah Paramata Rompo terdapat Ampu Lembah (kepala lembah Pamon yang menguasai Pamona.

Dalam hubungannya ke Pamona, Ampu Lembah hanya berhubungan dengan seorang Karaja yang disebut Karaja Lamusa. Dengan gelar Mokole Tongko (Tongko berarti penghubung). Setiap tahun upeti dari daratan Pamona diserahkan kepada Karaja Lamusa dan Karaja Lamusa mengantarkan kepada Ampu Lemba.

Dalam ingatan masyarakat Ampu Lemba ini berdiam di desa jelaja di Wotu. Dalam sebuah kisah pada abad 18, Ampu Lemba dipercayai menikah dengan seorang putri Pamona dan kemudian menurunkan beberapa keluarga antara lain keluarga Dongalemba, Tadale dan Tobogu di Lamusa dan Puumboto dan Bantjea.

Kata Kunci :

Kerajaan wotu (1),suku mori yang ada di luwu (1),
tags: , , , ,

Berita Terkait