Lobo Rumah Panggung Khas Poso

Kamis, Agustus 13th 2015. | Sejarah

Lobo adalah rumah panggung khas Poso yang memanjang ke belakang dengan ukuran 10 x 12 meter. Rumah ini ditopang oleh tiang-tiang besar yang kokoh, dan tingginya 2 meter dari permukaan tanah. Pada bagian deoan sisi kiri dan kanan terdapat tangga sebagai jalan masuk ke rumah, dan kedua tangga tersebut diberi atap.

Pada bagian dalam Lobo, pada sepanjang dinding yang tingginya 2 meter terdapat bangku selebar 1 meter untuk tempat duduk sekaligus tempat tidur, sementara pojok belakang berfungsi sebagai dapur.

Dibawah atap yang terbuat dari katu (sejenis pohon??) terdapat genderan sebanyak 6 (enam) buah —- 3(tiga) sebelah kiri dan 3 (tiga) sebelah kanan—– yang berfungsi untuk mengumpulkan masyarakat jika ada sesuatu yang ingin dibicarakan bersama sama, atau situasi dalam keadaan genting.

Pada Bagian bawah lantai terdapat dua ekor buaya dengan posisi saling berhadapan. Buaya ini memiliki makna simbolis. Artinya, apabila ada seseorang menemukaan benda yang bukan miliknya harus diserahkan kepada wa’a ngkabosenya kemudian diusahakan menemukan pemiliknya. Jika benda tersebut disembunyikan, maka suatu ketika akan dimangsa buaya.

Bagi orang Poso Lobo berfungsi untuk:
1. tempat menyelesaikan masalah hukum;
2. tempat berlindung bagi wanita dan anak anak jika terjadi perang;
3. tempat upacara ritual; dan
4. tempat istirahat para musafir.

Foto dibawah ini adalah Lobo di Pandiri, Tomasa tempat Kabosenya Papa i Melempo dan Papa I Danda bermukim. Tabea

Lobo Rumah Panggung Khas Poso

tags: , , , , , , ,

Berita Terkait