LEGENDA DI SEPUTARAN DANAU POSO

LEGENDA DI SEPUTARAN DANAU POSO
Oleh: Pramaartha Pode

Sumber dari legenda dituturkan dibawah ini diambil penulis dari Buku Karya Adriani, yang berjudul De Baree Sprekendre Van Midden Celebes. Adriani sebagai ahli bahasa dari Belanda, hidup sangat erat dengan masyarapat Pamona pada masa lalu, fasih bercakap cakap dalam bahasa Pamona, sehingga mampu mencatat beragam Legenda yang hidup di kalangan masyarakat Pamona. Dalam tulisan ini akan diuraikan 4 (empat) legenda yang dicatat oleh Adriani, yaitu (1) Legenda di Tanjung Oedoena; (2) Legenda dari Tando mbisa; (3) Legendari dari Doeloemai; dan (4) Legenda dari Doemalanga.

1.Legenda di Tanjung Oedoena
Terdapat banyak Legenda yang ada di sekitar Danau Poso. Dalam kisah pertama terjadi di Tanjung Oedoena (uduna), di barat danau Poso, diperkirakan nama desa pada masa dulu. Dikisahkan hiduplah seorang gadis cantik yang tinggal di sana, dan seorang pria dari Longkea ingin meminangnya. Gadis itu setuju untuk dinikahi lelaki itu, namun ada syarat yang harus dipenuhi, yakni sang pria harus mampu membuat sawah untuknya dalam satu malam.

Pria dari Longkea ini berhasil memenuhi persyaratan yang diminta sang gadis cantik dari Tanjung Oedoena. Namun sang gadis cantik tidak puas dan menuntut agar sang pria dari Longke mengambil air dari danau dengan topi matahari, di sepanjang lereng curam Pada-marari. Pria itu berhasil melakukan hal ini juga, tetapi ketika dia muncul dengan terengah-engah, sang gadis memberinya minuman dari tempat dia memasak buah oela dan sekam padi. Dan setelah meminum pemberian sang gadis cantik, pria dari Longkea meninggal.

Ketika pria itu tidak kembali ke desanya sendiri setelah beberapa saat, rekan-rekan sukunya menjadi gelisah dan beberapa dari mereka keluar untuk menyelidikinya. Dari hasil penyelidikan, para utusan mengetahui bahwa orang-orang sedang mendiskusikan pembunuhan itu dan sedang bergembira karenanya. Mereka kembali ke Longkea, dan beberapa saat kemudian desa Tanjung Oedoena yang kejam diserang dan dihancurkan.

2.Legenda dari Tando-mbisa
Kisah serupa dihubungkan dengan Tando-mbisa di pantai timur. Seorang pria dari daerah ini telah menetapkan pikirannya pada seorang gadis; sebagai syarat untuk menikah, ia meminta agar calon pengantin harus berenang dari Tando-mbisa ke Tolambo dan kembali. Dia melakukan ini, tetapi gadis itu menolak untuk menikahinya. Kemudian keduanya sepakat untuk melempar diri dari tebing curam ke danau. Wanita itu membiarkan dirinya jatuh ke batu yang terletak di Danau, dan sebagai hasilnya dia hancur berkeping-keping; pria itu keluar hidup-hidup.

3.Legendari dari Doeloemai.
Pada puncak Tanjung Doeloemai di pantai timur, terdapat batu putih yang terletak di bawah air dan menyandang nama Watoe-molanto, “batu apung”; batu itu menempelkan dua lengan ke atas; itu dianggap sebagai roh air (torandaoee). Di masa lalu batu ini seharusnya melayang; pada waktu itu, dikatakan, ia memiliki [bentuk] topi matahari dengan batang di atasnya. Batu itu bergerak sendiri ke suatu tempat antara Doeloemai dan Pada-marari (artinya, antara pantai timur dan pantai barat); di sisi yang terakhir ada seorang istri. Di kemudian hari batu itu tumbuh akar, dan permukaan bulat berubah menjadi dua lengan. Setiap kali sebuah kapal melewati tempat ini pada malam hari, kedua lengan itu menghentikannya, demikian kata legenda.

4.Legenda dari Doemalanga
Di pantai barat dekat Tanjung Doemalanga, sebongkah batu besar keluar dari air. Ini disebut Poee-goti. Dikatakan bahwa dulunya seorang manusia, seorang wanita, yang berubah menjadi batu ketika dia sedang memandikan anaknya di danau. Transformasi ini seharusnya terjadi pada saat ketika dia menarik sarung ke puncak kepalanya untuk menariknya ke atas tubuhnya. Nasib ini seharusnya datang padanya karena dia tidak mendengarkan peringatan untuk tidak memandikan anaknya.

Legenda yang diceritakan turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya tentu saja merupakan sebuah ingatan kolektif dari suatu masyarakat. Kisah itu diceritakan untuk mengingat sebuah peristiwa bersejarah di masa lalu ataupun menandai sebuah tempat yang suci ataupun berbahaya untuk dilalui. Dari kisah di masa lalu ini kita belajar untuk menata masa depan.

Facebook Comments

2 thoughts on “LEGENDA DI SEPUTARAN DANAU POSO”

  • Tando Ngkasa

    November 4, 2018 at 9:04 am

    Terima Kasih Ferry Moweno sudah berbagi cerita kelarga di sini….

    Reply
  • Ferry Moweno

    November 3, 2018 at 2:54 am

    Kisah Batu Armokila dan Armojaa dari Palande
    Oleh Ferry Moweno Pelodu, S.Th

    Bangsa Indonesia memiliki beragam suku bangsa, bahasa serta budaya dan setiap suku yang ada, memiliki cerita dan sejarah yang berbeda-beda. Suku Pamona salah satunya suku yang ada di bangsa ini, memiliki banyak cerita sejak masa lalu dan menarik untuk dipelajari dan sangat bermanfaat untuk diketahui oleh generasi sekarang ini sebagai catatan sejarah nenek moyang.
    Dari sekian banyak kisah nenek moyang Suku Pamona, kisah batu kembar dari Tana Palande merupakan salah satu kisah yang mungkin belum pernah didengar oleh banyak orang dan hanya diketahui oleh segelintir orang di masa lalu.
    Ketika nene toko (nenek buyut) saya masih hidup, beliau memiliki dua orang anak yang dilahirkan secara normal. Anak yang pertama bernama Arloji Moweno atau yang sering disapa oleh banyak orang dengan panggilan ngkai Endo/ papa Yonto (alm). Beliau memiliki tiga orang anak dari istri pertama, yakni Yonto Moweno/papa Endo (alm), Yopi Moweno dan Yotan Moweno. Setelah istri pertama meninggal, beliau menikah lagi dan memiliki dua orang anak yakni Yones Moweno dan Yanus Moweno. Sementara itu, anak kedua dari nene toko adalah Ardonci Moweno atau yang selalu disapa dengan papa Sudi atau ngkai Endang atau ngkai gandalari (alm). Beliau memiliki dua orang anak yakni Sudirman Moweno/papa Endang dan Nurdin Moweno/papa Obet. Kedua ngkai (kakek) ini dikenal orang sebagai topopakuli yang sangat hebat (tukang obat), selain itu juga, mereka memiliki kesaktian yang mumpuni.
    Setahun setelah melahirkan anak keduanya, nene toko kembali hamil lagi. Tidak ada tanda-tanda yang menyiratkan keanehan dalam masa kehamilan beliau yang ketiga kali ini. Beliau hamil layaknya perempuan yang hamil biasanya. Setelah tiba waktunya untuk melahirkan, barulah terjadi hal yang aneh, karena ternyata selama Sembilan bulan hamil, beliau bukannya melahirkan manusia, tetapi hanya dua buah benda berupa batu. Batu yang keluar (dilahirkan?) tersebut yang pertama keluar berwarna hitam dan selanjutnya berwarna putih dan anehnya lagi, kedua batu tersebut berdenyut. Malam harinya, nene toko bermimpi jika nantinya batu tersebut akan berubah menjadi manusia yang tidak bisa terlihat oleh mata manusia. Selanjutnya, pada malam berikutnya, batu yang tadinya berdenyut, berubah menjadi keras dan tidak berdenyut lagi. Selanjutnya pada malam ketiga, beliau bermimpi lagi dan diperintahkan untuk meletakkan batu tersebut kedalam bingka lora dialas dengan kain hitam dan diletakkan bersama pinang, daun sirih, buah sirih dan kapur sirih dan harus diantar ke danau Poso tepatnya di Bancea, agar nantinya batu tersebut benar-benar berubah menjadi manusia.
    Dua hari setelah nene toko bermimpi, maka diaturlah semua persiapan sesuai mimpi dan dibuat semacam pepamongoka kemudian dilepas di Danau Bancea, tepatnya di Mekakore. Tiga minggu setelah pepamongoka dan dilepas di Danau Bancea, dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar saat nene toko sedang berada di kebun, beliau dikejutkan dengan kilat dan hujan rintik-rintik, padahal saat itu tidak ada tanda-tanda hujan. Ketika kilat dan hujan berhenti, berdirilah sosok seorang laki-laki di samping nenek dan berkata, sayalah anak ibu yang ibu lepas di Danau Bancea lalu beliau menyerahkan batu berwarna hitam dan berkata, “ini batu yang waktu itu mama lepas di danau, dan batu ini mama pegang” Itulah sebabnya nene toko menamainya Armokila, karena kedatangannya didahului kilat. Menurut kesaksian beberapa orang yang juga pernah ditemui ngkai Armokila, beliau datang didahului kilat dan hujan gerimis.
    Pada hari yang sama tepat ntongombengi (jam 12 malam) nenek dikejutkan lagi oleh kedatangan sosok wanita dan mengaku kalau dialah anak yang semula berbentuk batu yang telah dilepas di Danau Bancea dan sama seperti ngkai Armokila, beliau juga menyerahkan batu yang berwarna putih kepada nene toko. Lalu nenek menamai beliau Armojaa karena kedatangannya pada jam tertentu saat tengah malam.
    Pada malam berikutnya ngkai toko bermimpi jika kedua anaknya tersebut akan tinggal dan menetap di Watu Mora’a dan mereka berdua akan sesekali datang menjenguk ngkai dan nene toko. Demikianlah terjadi sesuai mimpi dan setiap seminggu sekali mereka berdua datang menjenguk ngkai dan nene toko.
    Beberapa tahun berlalu saat ngkai Armokila dan nene Armojaa, mereka mengatakan bahwa mereka datang berpamitan karena akan pindah ke salah satu tempat di Bancea yang disebut Puse ndano. Ngkai Armokila dan nene Armojaa tidaklah lama tinggal menetap di Puse Ndano. Mereka tinggal di sana hanya kurang lebih 3 tahun dan selanjutnya pindah ke uwe ntira sampai sekarang. Uwe ntira sendiri dikenal oleh masyarakat Palu dan sekitarnya kota Gaib yang memiliki bangunan dengan cat berwarna kuning.
    Saat sekolah di Palu, saya tinggal bersama dengan om/paman yang bernama bapak Bente Mosa’u, menurut beliau, seringkali nene dan ngkai (Armokila dan Armojaa) datang mengunjungi saya tanpa saya sadari. “Ketika mereka menjenguk, kamu pasti tidur mati, sekalipun dibangunkan dengan air, kamu tidak akan terbangun” demikian penuturan papa ade Bente kepada saya. Diantara kami, kakak sayalah (Endang Moweno) yang paling sering dikunjungi dan melihat ngkai Armokila dan nene Armojaa, karena kebetulan sedari kecil dia tinggal di Gandalari bersama kakek/ngkai Ardonci Moweno.
    Ketika ngkai dan nene toko meninggal, kedua batu tersebut diberikan kepada ngkai Ardonci Moweno/ngkai Endang untuk disimpan. Selanjutnya pada tahun 1997 sesaat sebelum ngkai Endang meninggal dunia, kedua batu tersebut diberikan kepada anaknya yang kedua, yakni bapak Nurdin Moweno/papa Obet dan sampai saat ini, batu tersebut masih disimpan sesuai permintaan ngkai Armokila dan nene Armojaa agar batu tersebut jangan sampai hilang.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*

Call Now Button