Kisah Tenggelamnya Geolog Fennema di Danau Poso

Rabu, Mei 4th 2016. | Poso, Sejarah

 

Kisah Hidup dan Pekerjaan Fennema.

Fennema adalah seorang Geolog Belanda. Dalam catatan Verbeek 1903: Levensbericht van Reinder Fennema yang dikutip buku IAGI 1975, Fennema terlahir di Sneek, Friesland, Belanda, 21 Oktober 1849. Ia masuk sekolah politeknik pertambangan di Delft. Pada masa itu, ia lebih banyak studi dan magang dalam eksplorasi mineral, seperti di Jerman, Inggris dan Skotlandia. Studinya berlanjut ke Mijnakademie Clausthal, Pegunungan Hartz, Jerman, sebelum kemudian lulus ujian C di Delft 1872. Setahun kemudian ia mulai bekerja di banyak tempat di Eropa dan mulai bertugas di Jakarta pada April 1874 dengan diangkat sebagai insinyur kelas 3.

Ia sempat membantu R.D.M. Verbeek (geolog yang kemudian terkenal dengan penyelidikannya atas letusan Krakatau 1883) dalam pemetaan geologi Sumatra Barat. Rupanya Fennema dapat dikatakan sebagai seorang ahli hidrogeologi pertama di Indonesia dengan menyandang insinyur kelas 2. Eksplorasi air tanah dengan pengeboran ia lakukan di Jakarta dan Jawa Tengah 1878; Surabaya, Pasuruan, Lasem dan Rembang 1879; dan Gombong 1880, serta beberapa tahun kemudian di Medan 1886. Pada 1880 dengan teman mahasiswanya Hooze, dan Verbeen melakukan eksplorasi emas di Jasinga, Banten. Namun bulan September 1880 ia ditugaskan ke Bengkulu untuk eksplorasi batubara. Rupanya tugas di Bengkulu sangat berat. Fennema sakit dan mengambil cuti kembali ke Belanda selama dua setengah tahun berikutnya. Sudah suratan nasibnya ia tidak menjadi saksi letusan Krakatau 27 Agustus 1883 yang kemudian mencuatkan nama seniornya, Verbeek.

Oktober 1884, ia kembali ke Indonesia dan bekerja di Ijo, Pegunungan Karst Karangbolong, untuk kemudian ke Priangan. Januari 1885 ia diangkat menjadi insinyur kelas 1. Tahun itu juga pada bulan November, ia menikah dengan E. de Bruine. Pada 1886 ia ditugasi untuk studi kelayakan Langkat dalam bidang migas dan 1888 kembali bersama Verbeek menyusun Peta Geologi Jawa dan Madura.

Fennema diangkat menjadi insinyur kepala pada November 1893 dan tugas pertamanya sebagai insinyur kepala adalah penyelidikan G. Galunggung yang meletus 18 – 19 Oktober 1893. Setelah cuti di Belanda, ia kembali diangkat sebagai insinyur kepala pada 1896 untuk banyak tugas eksplorasi mineral di Sulawesi.

Fennema_danau_Poso

Tenggelamnya Fennema di Danau Poso.

Kisah tenggelamnya Fennema setidaknya ditulis dalam surat kabar Belanda yang terbit pada tahun Januari 1898 atau 2 (dua) bulan setelah kematiannya.

Dalam surat kabar ini dikisahkan, Bahwa terdapat laporan perjalanan ke danau Poso oleh Tuan Fennema, yang direncanakan merupakan perjalanan terakhirnya di Sulawesi Tengah.

Fennema bersama sama dengan Tuan Corte, Tuan Wetering, Tuan Van Rhijn, Tuan Gallas dan Tuan Kruyt menjalankan tugas penelitian mengenai pengaruh Kerajaan Luwu di Sulawesi Tengah dan sekaligus melakukan geological di wilayah sulawesi tengah secara lebih detail.

Pada Tanggal 26 November 1898, dicatat rombongan berkemah di Landea (kemungkinan Landeandopo) disebelah selatan danau Posso.

Tuan Fennema, Tuan Corte, Tuan Wetering, dan Tuan Van Rhijn telah menyelesaikan pekerjaan mereka di Pentjawoe Enoe (Lipu aristokrat Lamoesa/diatas desa Korobono saat ini), dan berniat untuk segera kembali. Namun Kapten Gallas, berpendapat masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada hari berikutnya.

Dengan demikian Tuan Van Wetering, Tuan Van Rhijn dan Kruyt dengan menggunakan rakit (perahu) berlayar ke Peura dan meninggalkan Tuan Fennema dan Tuan Corte untuk berlayar bersama dengan 4 orang Minahasa yang menjadi kuli mereka ke arah selatan-barat. Juru mudi mereka berasal Tondano dan sangat berpengalaman dengan pekerjaannya.

Menjelang Sore, Tuan Fennema dan Tuan Corte beranjak menuju Peura. Perjalanan dilakukan dengan sangat hati-hati, bahkan Fennema sempat mengingatkan agar perahu tidak terlalu lambat karena berlayar di sore hari sangat berbahaya.

Setengah perjalanan ke Peura, saat itu cuaca di danau sangat indah dan permukaan air sangat bening seperti cermin. Tiba-tiba dari Utara datang badai yang langsung mengubah suasana danau, dan memukul perahu dengan tiba tiba sehingga memutarkan perahu. Semuanya hilang termasuk dayung yang digunakan dan tuan Fennema, tuan Corte dan 4 (empat) orang awak minahasa berpegang erat dalam perahu itu. Tuan Fennema berada di buritan sementara Tuan Corte berada diujung perahu. Dalam keadaan seperti ini, badai tidak berhenti dan malahan semakin meningkat sehingga gelombang air danau kembali menerpa perahu yang digunakan.

Serangan badai ini berlangsung selama berjam-jam dan memaksa penumpang bertahan menghadapi badai. Akhirnya pada sekitar jam 6 sore, danau kembali tenang. Namun tiba-tina dari arah selatan datang angin keras yang disertasi dengan hujan sehingga membuat layar melayang ke utara. Situasi ini diperburuk oleh insiden kegelapan sehingga seluruh penumpang tidak dapat bebas melihat dan hanya bisa berdoa masing-masing. Pada sekitar pukul 8 malam diantara cuaca yang hitam pekat dan angin yang menderu-deru, Tuan Corte mendengar teriakan kata “Tolong” dari Tuan Fennema, Tuan Corte coba menjulurkan bambu, namun tidak dapat diraih oleh Tuan Fennema dan tidak berpegangan lagi pada perahu. Mereka hanya dapat pasrah, mengingat tenaga mereka yang sama sama lemah dan hanya sanggup untuk berpegangan di badan perahu selama lebih dari lima jam dalam suhu air yang sangat dingin.

Tuan Corte dan awak yang tersisa terus bertahan. Dua jam kemudian, cuaca membaik. Susah payah mereka membalikkan perahunya. Dengan sisa-sia tenaga, satu per satu naik ke perahu.  Saat matahari subuh menyingsing, barulah mereka tahu bahwa pantai barat ternyata tidak begitu jauh. Dan pada 28 November 1898 pada pukul setengah sembilan pagi mereka tiba di desa Gontora. Mereka dijamu oleh kabose Gontora dengan penuh kasih dan segera membuatkan mereka air panas dan memberi makan.

Masyarakat segera menolong dan kembali mencoba mencari Fennema. Namun sia-sia. Tubuh Fennema hilang ditelan kedalaman Danau Poso, bersama segala peralatan eksplorasi geologi dan contoh-contoh batuan yang dikumpulkannya.

Demikianlah kisah tenggelamnya Tuan Fennema yang tenggelam ketidak sedang melakukan perjalanan ke Peura.

 

Arti Penting Fennema Bagi Belanda.

Bagi Pemerintah Hindia Belanda, jasa Fennema  sang insinyur kepala itu begitu dihargai. Selain di Tentena, satu prasasti juga terpajang di Museum Geologi Bandung:

aan

de gedachtenis

van

den hoofdingenieur van het mijnwezen

in Nederlandsch Indie

REINDER FENNEMA

den trouwe vriend

den edelan mensch

den bescheided geleerde

(Mengenang insinyur kepala pada Jawatan Pertambangan di Hindia Belanda REINDER FENNEMA, kawan yang setia, manusia yang mulia, sarjana yang rendah hati).

Pramaartha Pode

tags: , , , ,

Berita Terkait