GUA LATEA

Jumat, Agustus 14th 2015. | Poso

GUA LATEA
Artikel dan foto di ambil dari berbagai sumber

Gua Latea, Makam Leluhur orang Poso
Suku Pamona, suku asli Poso, Sulawesi Tengah mempunyai kebiasaan unik saat menguburkan keluarganya yang meninggal dunia. Jenazah diletakan di dalam peti kayu yang kemudian disimpan di dalam gua hingga tinggal kerangkanya. Sisa-sisa tradisi suku Pamona ini masih bisa kita saksikan di Gua Latea, Tentena, sekitar 57 kilometer arah barat daya Kota Poso atau 267 kilometer dari Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah.

Foto Sherly Wuanya.

 

Suasana magis langsung terasa ketika kita hendak memasuki kawasan Perbukitan Peruru di mana Gua Latea berada. Konon kabarnya bahkan untuk berfoto pun kadang-kadang tidak jadi ketika dicetak. Meski terasa suasana magisnya, perasaan kita terobati dengan pemandangan alam yang indah dan hawa udara yang segar.

Gua Latea, adalah gua alam berupa bukit kapur yang usia genesisnya ditaksir tidak kurang dari 30 juta tahun silam. Gua ini digunakan sebagai kuburan suku Pamona. Leluhur orang Pamona yang juga biasanya disebut orang Poso itu, dulunya hidup di bukit-bukit, khususnya yang hidup di perbukitan Wawolembo. Sistem penguburan dengan menaruh jenazah di gua-gua itu, baru berakhir sekitar abad ke-19 Masehi, setelah para penginjil dari Belanda menyebarkan agama Kristen di wilayah ini. Gua ini pernah mengalami keruntuhan batuan sekitar lebih 2000 tahun silam.

Gua ini terdiri dari dua kamar utama. Kamar pertama terletak di kaki bukit di mana terdapat empat pasang peti jenazah dan 36 tengkorak manusia beserta rangkanya.

Lalu, kamar kedua terletak di atas bukit berisi di mana terdapat 17 pasang peti jenazah, 47 buah tengkorak dan lima buah gelang tangan.

Foto Sherly Wuanya.

 

Gua ini adalah kuburan leluhur suku Pamona. Cara penguburan zaman dulu masyarakat Pamona ini, sama seperti yang dilakukan di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Memang, menurut Yustinus Hoke (60), budayawan Pamona, berdasarkan historisnya, orang Pamona dan orang Toraja masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat.

“Karena masih ada hubungan kekerabatan itulah, sehingga beberapa tradisi nyaris sama, termasuk salah satunya adalah cara penguburan jenazah dengan menaruhnya di gua-gua,” kata Yustinus.

Menurut Budayawan Pamona ini, tata cara dan tempat penguburan juga dipengaruhi kelas sosialnya. Diduga kaum bangsawan dikuburkan di kamar utama di atas bukit di mana didapat pula gelang-gelang dari besi dan kuningan.

Selain di Latea, situs penguburan serupa juga dapat ditemukan di Gua Pamona di tepian Danau Poso dengan 12 kamar.

Seiring perkembangan zaman, kedua tempat itu kemudian menjadi lokasi wisata, bahkan seringkali menjadi tempat anak-anak bermain.

Hengki Bawias (30), warga Tentena, menceritakan bagaimana asyiknya mereka bermain dalam gua itu.

“Guanya sampai di bawah aliran Danau Poso. Kalau masuk harus bawa senter, karena setelah kamar ketiga, cahaya sudah tidak ada lagi. Makin jauh juga kita sudah susah bernapas. Tapi saat anak-anak kami suka bermain-main di dalamnya, karena menantang rasa ingin tahu kami,” tutur Hengki, yang kini sudah menjadi pendeta.

Foto Sherly Wuanya.

 

Jembatan Rusak
Gua yang merupakan pekuburan kuno ini dapat dicapai langsung dari jalan utama Kota Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso. Jaraknya hanya sekitar 2 kilometer. Sepeda motor dapat dipakai sampai kilometer pertama lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai di mulut gua.

Tapi jangan bersusah hati dulu, suara serangga hutan seperti orkestra, alrian sungai dan tipuan hawa yang segar bisa mengobati kepenatan kita.

Jalan setapak menuju gua ini sudah dibeton dan dibuat berundak-undak. Tapi tetap harus hati-hati karena jalannya agak licin karena berlumut.

Dua jembatan akan kita lewati sebelum sampai ke mulut gua. Sayang, kondisinya rusak, sehingga papan-papan kayu jembatan sudah berganti jadi pokok-pokok bambu.

“Jembatan ini pernah diperbaiki pada 1994, kemudian tidak pernah lagi sampai kayunya menjadi lapuk. Mudah-mudahan setelah ini, setelah Poso sudah aman kembali kita bisa perbaiki lagi dua jembatan menuju gua Latea,” Viktor Nggasi, seorang juru pelihara Gua Latea.

Pemerintah setempat memang agak melupakan pemeliharaan situs ini, setelah 1998-2000, hampir seluruh wilayah Kabupaten Poso dilanda konflik suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Kini, setelah masa damai tiba makam leluhur orang Poso ini kembali dikunjungi.***

Kata Kunci :

sejarah goa latea (1),sejarah goa latea ditentena (1),
tags: , ,

Berita Terkait