Dongalemba

Buaya dalam kehidupan masyarakat Pamona 120 tahun yang lalu sangat penting. Masyarakat hidupa bersama buaya di seputaran danau poso.

Kruyt dalam tulisannya “De Krokodil In Het Leven Van de Posoers”, memberikan kesaksian akan hal itu. Pernah suatu waktu kruyt ketika memasuki sungai kodina bertemu dengan seekor buaya yang sangat besar. Sontak seluruh isi perahu menjadi sangat terkejut, tetapi sang kaptain yang mengemudikan perahu berlaku tenang. Sambil berlutut dan bersikap hormat, tangan kanan di taruh di sebelah kiri berkata “kakek, maaf kalau kami menganggu tidurmu, mohon pergi dengan tenang”. Buaya pun berlalu dengan tenang dan tidak menganggu Kruyt dan perahunya.

Menurut Kruyt masyarakat Pamona sangat percaya bahwa seorang wanita dapat melahirkan buaya. Kruyt mengatakan (halaman 8) “seumur hidup saya saya sudah bertemu dengan tiga orang di Pamona yang memiliki saudara kembar buaya”.

Salah satunya adalah kepala desa Boe yang berjarak 4 km dari pendolo. Beberapa orang tua bercerita kepada saya bahwa “Pada waktu ia lahir ia membawakan ibunya buaya kecil”. Pada awalnya mereka masih menaruh pada mangkuk kecil, ketika buaya tersebut semakin besar mereka menaruhnya pada palung babi yang diisi penuh dengan air dan kemudian ditaruh di perahu yang diisi dengan air, ketika buaya tersebut semakin besar, mereka melepasnya ke danau.

Buaya tersebut membuktikan bahwa dia merupakan bagian dari keluarga dengan memberikan pelayanan yang sangat luar biasa. Ketika orangtuanya atau saudara kembarnya ingin merayakan pesta kurban atau pesta di lapangan dimana setiap keluarga membawa makanan masing masing, maka keluarga akan pergi ke danau dan berkata “boetoe, besok kita akan mengadakan upacara pengorbanan”.

Keesokan harinya, pasti telah tersedia rusa atau babi hutan yang dibunuh oleh boetoe dan disimpan disana.

Tetapi menurut saudara kembarnya yang adalah kepala desa di boe waktu itu mengatakan, hal ini tidak berlangsung lama, karena setalah pasukan belanda masuk dan menembaki buaya tersebut, mereka mulai jarang menampakkan diri”.

Pertanyaan kemudian yang muncul adalah siapa kepala desa yang dimaksud yang memiliki saudara kembar buaya tersebut?

Untuk menjwab pertanyaan ini, dilakukan krosscheck data terhadap saudara Jenly Bonde, yang banyak mengetahui kisah tersebut. Saudara jenly bonde menjelaskan bahwa saudara kalau betul setting cerita tersebut ada di Boe, maka sesungguhnya kisah tersebut adalah miliki keluarga Dongalemba.

Karena kepala desa Boe yang dimaksud oleh Kruyt adalah ngkai Dongalemba. ngkai Dongalemba sebelum menjabat sebagai kepala desa boe adalah sekretaris desa boe mendampingi Pamannya Sira Ngkai Lanti (Tamembue). Setelah ngkai Lanti menjabat sebagai witi mokole di Tentena, ngkai Dongalemba menjadi kepala desa (istri beliau adalah sepupu dari Istri ngkai Lanti yang bernama nene Meawa Siwasipa (Pomelinja).

Walaupun begitu, kisah lahirnya buaya itu terjadi di bancea (binowoi).

Ngkai Dongalemba sesungguhnya merupakan turunan dari ngkai Dongalemba Tokoh. Kakeknya adalah seorang saudagar dari parigi yang bernama Ngkai Manasigi yang menikah di Bancea. Dari pernikahan tersbut lahir 5 (lima orang) anak, 2 anak laki laki dan 3 (tiga) anak perempuan. Anak laki laki ngkai Manasigi bernama Tuwunjaki dan Dongalemba.

Hingga hari ini belum ditemukan bukti apakah Fam Tuwuntjaki di Poso saat ini adalah bersaudara kandung dengan Fam Dongalemba. Tetapi kalau berdasarkan sejarah keluarga Dongalemba mereka sesungguhnya bersaudara kandung.

Foto dibawah ini adalah foto buaya yang adalah saudara kembar ngkai Dongalemba yang sering dipanggil Boetoe.Dikirim langsung dari Belanda. Tabea

saudara kembar ngkai Dongalemba

Facebook Comments

Call Now Button