Cinta Yang Mengubahmu!

Paul Tillich adalah Teolog yang hidup hampir seangkatan dengan Karl Barth, kedua-duanya adalah sama-sama berasal dalam golongan Teolog Sistematiker yang sangat cerdas di era modern (ada yang menggolongkan postmodern) ini. Sekalipun ada banyak kesamaan dalam pijakan berpikir mereka (sama-samadipengaruhi filsafat eksistenisalist), tentunya terdapat pula perbedaan yang sangat mencolok dalam pribadi mereka. Karl Barth sendiri adalah pengagum musik Mozart, sedangkan Tillich adalah teolog yang juga sangat tertarik mempelajari tentang makna “cinta” secara ontologis. Sehingga Mentor dan pembimbing saya Marde Stenly Mawikere sering menggolongkan dan memberi julukan kepada Tillich “teolog cinta”. Saya sendiri belum pernah membaca langsung tulisan dari Tillich, namun dari pembacaan saya terhadap beberapa teolog terkemuka di Indonesia yang mengutip tulisan Tillich, menjadikan saya sangat tertarik dengan pola berpikir dari Tillich. Salah satu penulis dan Teolog Indonesia yang sering mengutip dari Tillich adalah Pdt, Steve Gasperz (selanjutnya SG), satu kalimat yang selalu tersimpan rapi dalam benakku adalah kalimat Tillich yang dikutip oleh SG adalah “cinta adalah penggerak kehidupan”, sehingga dari kata yang bermakna dari Tillich inilah saya ingin mencoba mengartikulasikan “kalimat manis” ini dengan pengalaman dan pemahaman saya yang masih sangat terbatas ini.

Dalam kepenulisan ini saya tidak akan membahas secara mendalam “kalimat manis” Tillich ini, hal ini bukan Karena saya malas mencari dan menafsir kalimat ini dengan pola hermeneutika yang sekarang ini berkembang bukan kepalang (contohnya hermeneutika postcolonial), namun dalam hal ini saya berusaha untuk memberikan warna tersendiri dan aksentuasi yang tentunya berbeda dengan penulis lain (saya berasal dari disiplin ilmu Teologi Praktika). Selain itu juga saya tak memungkiri bahwa literatur dan sumber saya tentang tulisan Tiilich masih sangat terbatas. Sehingga saya memulai hal ini dengan pengalaman yang saya alami ketika beberapa waktu lalu saya dalam perjalanan kembali dari sebuah desa menuju kampus, dengan menggunakan angkutan umum.

Ketika perjalanan pulang dari Desa Kendal menuju Salatiga, saya menggunakan angkutan umum yang juga biasanya digunakan orang Desa Kendal jika ingin turun ke Kota Salatiga. Ketika angkutan sudah berjalan hampir setengah perjalanan, angkutan yang saya tumpangi berhenti untuk mengangkut penumpang lain. Saya cukup kaget karena kali ini penumpang yang naik adalah 2 orang dewasa (saya yakin mereka adalah pasutri), dimana sang ibu muda sementara menggendong anak, dan maaf (1000 maaf) kedua-duanya sama-sama buta. Ketika di dalam angkutan umum, sang suami meminta tolong kepada penumpang lain dengan menggunakan bahasa Jawa nominal uang yang sementara ia pegang, hal ini dalam dugaan saya agar ia tahu berapa jumlah yang harus ia bayar ketika ia bersama isteri dan anak tiba di tempat tujuan. Kami memang turun di tempat yang sama, ketika saya sudah turun dan ingin melanjutkan perjalan selanjutnya, saya hanya menoleh beberapa waktu dan melihat sang suami menggandeng tangan sang isteri untuk menyebrang ke seberang jalan. Hal ini juga membuat saya sangat sedih, karena saya tak berfikir bahwa pada saat itu ia juga butuh pertolongan orang lain untuk menuntun mereka ditengah kepadatan kendaraan yang lalu-lalang di Kota kecil Salatiga, sehingga telat beberapa detik ada orang lain yang menolongnya dan itu bukan saya, sepanjang perjalanan saya merasakan kesedihan dan juga sempat menyalahkan diri saya yang sama sekali lalai dalam menolong pasangan suami isteri yang buta tersebut.

Namun melalui hal ini saya merenungkan sebuah pemikiran tentang makna “cinta”, benarlah bahwa cinta adalah penggerak kehidupan seperti kata Tillich. Kekuatan dari cinta itu sulit dinalar, saya juga sering menjumpai dan menemukan bahwa diluar sana ada banyak orang yang berjuang begitu kuat, larut malam, hanya untuk orang-orang yang ia cintai. Sehingga bagi saya cinta itu bukanlah sekedar kata-kata manis saja yang sedap didengar, namun cinta bisa menjadi “virus” sekaligus “benih” yang dapat membakar hati orang untuk melakukan apa saja demi orang yang dicintainya . Saya juga meyakini “cinta” adalah benih yang ditanam oleh Sang Cinta kepada setiap umatNya, dalam hal ini saya mengsejajarkan dengan teori Logos Spermaticos a la John Calvin, yang mengatakan bahwa iman adalah benih yang Tuhan tanam dalam hati manusia, demikianlah juga “cinta”.

Saya menduga, mungkin dunia ini terasa sangat gelap bagi kedua pasangan ini, namun semua itu menjadi terang ketika terang “cinta” itu menuntun mereka berjalan dan melakukan apa yang mereka lakukan setiap harinya. Ya! cintalah yang menggerakan dan membuka mata mereka dan melihat luas serta menghadapi fakta yang ada di dunia ini. Itulah makna dari kalimat Paul Tillich yang saya bisa pahami sejauh ini. Kisah ini hanyalah bersifat pembelajaran saja dan tak bisa menjadi contoh yang mutlak, karena mungkin kisah ini bisa berubah sekali waktu (siapa yang tahu? Seperti kata seorang Filsuf Yunani, bahwa setiap saat kita mengalamai perubahan). Karena saya tetap berpegang dan selalu berpikir bahwa tak ada satupun pribadi didunia ini yang memiliki cinta yang sangat dalam dan tanpa syarat kecuali Dia, ya hanya Dia Sang Prima Causa, saya memanggilnya Ia Bapa, ya Dialah Dia….Sang Cinta, Yesus Kristus, Pue Kiristu demikianlah dulu nenek moyang kami memanggilnya!

Salam cinta….

Penulis adalah Mahasiswa yang sedang “nyantri” di STAK Terpadu Salatiga.

Imbran Batelemba Bonde

Facebook Comments