Catatan Perjalanan Alb. C. Kruyt ke Tomasa (Pandiri) dan Mapane Tahun 1892

Jumat, September 4th 2015. | Poso, Sejarah

April – Mei 1892: Perjalanan awal Kruyt ke Tomasa dan Mapane.

Tiba di Posso tahun 1892, Albertus C. Kruyt tidak berpangku tangan. Tetapi langsung melakukan penjajakan ke pedalaman.

Demikianlah pada tanggal 26 april 1892 Kruyt melakukan perjalanan menuju Tomasa. Perjalanan tidak dilakukan melalui darat karena sarana transportasi saat itu adalah melalui sungai.

Untuk melakukan perjalanan tersebut kruyt harus membayar 2 Gulden bagi 4 orang alfuru tukang perahu dan seorang Burahima (nama orang atau jabatan??) sebagai kepala perahu. Demikianlah merekaa berangkat menuju Tomasa suatu hari di tanggal 26 april. Total 5 orang bersama sama dengan Kruyt.

Daerah yang ditemui pertama adalah daerah sayo, kemudian lipu pabujuwa, lalu lipu Ranoewu (Rano=air), kemudian lipu Rano-Nontji (sekarang Ranononcu), uwetjanenga (uwe=air) dan tiba di Lebano dekat Tomasa. Setelah itu rombongan meneruskan perjalanan menuju Batu-Awu (sekarang kita kenal dengan nama Watuawu), dan bermalam di rumah milik Talasa. Di sini kruyt sempat mengambil pepaya milik Talasa tetapi tanpa Izin karena Talasa sedang berada di Tomasa.

27 April 1892.
Kruyt melanjutkan perjalanan menuju Tomasa, Tiba di persimpangan antara sungai Tomasa dan sungai Posso, rombongan tidak berapa lama kemudian tiba di Tomasa. Menurut Kruyt terdapat sebuah bukit dan diatas bukit tersebut terdapat 2 (dua) buah rumah. Satu rumah Kabose papa i Danda dan rumah yang satu adalah milik papa i melempo. Talasa ternyata sudah ada di rumah papa i Melempo.

Hal ini wajar karena Talasa adalah keponakan dari papa i Melempo. Menurut Kruyt pada tahun 1892 Talasa diperkirakan berusia 22 Tahun sementara Papa i Melempo sudah berusia 40 tahun. Usia papa i danda tidak disebutkan.

Tomasa menurut Kruyt memiliki banyak sawah dan pada umumnya Kabose tidak turun ke sawah karena sudah ada yang mengerjakan. Kabose melakukan kontrol antara jam 9 pagi hingga jam 10 pagi.

Saat tiba, Kruyt diceritakan sebuah peristiwa bahwasanya baru sebulan yang lalu alias bulan maret 1892, Tomasa diserang oleh pasukan Napu sebanyak 300 orang, dan Tomasa berhasil mempertahankan kampungnya hanya dengan 20 orang. Papa i melempo mengatakan total 8 orang Napu tewas dalam pertempuran tersebut.

Kruyt kemudian nginap di rumah papa i melempo di Tomasa. Sejatinya papa i danda adalah kabose dari Kalingoa.

Dari Tomasa, Kruyt melanjutkan perjalanan menuju lipu Kawadi, disini terdapat saudara perempuan Talasa yang sangat jago dalam menyembuhkan orang sakit.

Dari Kawadi Kruyt bersikeras melakukan perjalanan menuju lipu Taliboi. Lipu Taliboi dikuasai oleh Kabose Oelik, salah seorang kabose yang menandatangani korte verklaring dengan Belanda tahun 1888. Hanya saja Kruyt tidak berjumpa dengan Kabose Oelik karena sedang melakukan perjalanan ke tempat lain karena ada kerabat yang meninggal dunia.

Dari Taliboi, Kruyt melakukan perjalanan ke Imboe, dan disana berjumpa dengan papa i danda dan papa i melempo. Disana juga Kruyt baru mengetahui kalau Talasa memiliki 2 (dua) orang istri.

Menurut Kruyt Kampung Imboe berada di lembah dan bukan di bukit hanya rumah kabose dan Lobo yang berada di bukit. Hari itu juga kruyt kembali ke Tomasa, namun sempat terluka karena air sungai tomasa yang sangat deras dan beliau terkena sabetan tombak di kakinya.

Sabtu, 30 april 1892,
Kruyt beristirahat total di rumah papa i melempo, karena kakinya yang masih sakit akibat terluka kena tombak dari perjalanan sebelumnya ke Imbu. Kruyt mencatat kalau hari itu dia dikunjungi oleh papa i Danda yang meminta obat rheumatik kepada Kruyt. Kruyt juga bercakap cakap dengan Talasa, dan Talasa sangat terkejut ketika mengetahui kalau di tempat asal kruyt ada lipu yang penduduknya berjumla 200.000 orang. Talasa juga baanyak bertanya soal perbedaan antara Inggris dan Belanda.

1 mei 1892
Kruyt meninggalkan Tomasa dan melanjutkan perjalanan ke mapane. Kurang lebih 2 (dua) jam ditemuh dari Tomasa hingga tiba di mapane.
Mapane merupakan tempat tinggal orang bugis, parigi dan pendatang. Setidaknya menurut Kruyt terdapat 6 (enam) rumah pendatang yakni 2 rumah orang China, 3 rumah orang Minahasa dan 2 (dua) rumah orang Arab.

Disamping itu terdapat penduduk Mapane, kurang lebih 15 rumah. Dan yang paling besar dan paling Indah terletak di puncak bukit adalah rumah pemimpin Mapane yang bernama papa i Piti. Papa i Piti ternyata adalah saudara kandung Raja Parigi yang bernama papa i Laiz Tjado.

Kalau kita hubungkan dengan kenyataan bahwa Ngkai Bengka menikah dengan putri raja Parigi, dapat dikatakan bahwa ngkai Bengka (penguasa Onda’e) juga beripar dengan papa i Piti di Mapane.

Sehari harinya di Mapane, Kruyt tinggal di rumah orang China yang bernama Si Boeng Ke. Kruyt sering kali menginap di rumah Si Boeng Ke.

Demikianlah kisa Kruyt ke Tomasa dan Mapane. Tabea

Kata Kunci :

Lipu pandiri (1),
tags: , , , , ,

Berita Terkait