Cara Menyatakan Cinta 100 Tahun Lalu di Pamona/Poso

Kamis, Agustus 13th 2015. | Sejarah

Cara Menyatakan Cinta 100 Tahun Lalu di Pamona Poso

Cara Menyatakan Cinta 100 Tahun Lalu di Pamona/Poso: CUKUP DENGAN BEKO DAN KULIT JAGUNG

Bagaimanakah lazimnya orang-orang dahulu kala menyatakan cintanya pada seorang perempuan muda (gadis)?

Pada jaman dulu biasanya dilakukan seorang pria ketika menghadiri suatu pesta untuk dimulainya penanaman padi pada sebuah perladangan padi yang di sebut pesta “Molanggo” atau dapat juga diartikan pesta makan nasi baru dari hasil petik (Panen) pertama kali disebuah perladangan.

Dalam pesta ini , seorang pria dapat memberanikan diri mengirimkan sebungkus masakan yang disebut “Beko” yakni masakan semacam lauk-pauk khusus untuk pesta dan dimasak oleh kaum laki-laki, kepada idaman hati si gadis.

Adapun jawaban atas kiriman masakan Beko ini, lazimnya baru akan terjawab pada masa penutupan perladangan setelah panen yang disebut “Eua”, artinya suatu jangka waktu orang-orang tidak sibuk diperladangan.

Pada jangka waktu yang disebut “Eua’ itulah, kebanyakan orang-orang perempuan sibuk menganyam tikar-tikar dari daun-daun pandan yang banyak terdapat dihutan rimba yang disebut “Ira naso”. Juga anyaman-anyaman tikar itu yang bahan bakunya dari batang-batang rumput yang panjang yang disebut “Tiu”. Banyak tumbuh subur dan melimpah dirawa-rawa.

Demikian terjadi, kalau sang perempuan menyukai sang pria akan mengirimkan sehelai tikar yang dianyamnya sendiri kepada sang pria sebagai balas kiriman masakan Beko yang pernah diterima kira-kira empat bulan yang silam. Dengan demikian berati “cinta” telah terbalas dengan positif.

Selanjutnya hubungan ini disampaikan kepada orang tua masing-masing untuk diketahui. Apabila ada persetujuan kedua bela pihak, maka terjadilah pernikahan.

PEREMPUAN LEBIH DULU MENYATAKAN CINTA

Dapatkah seorang Perempuan menyatakan cinta terlebih dahulu kepada seorang pria di Pamona/Posso?

DAPAT

Kadang-kadang perempuanlah yang terlebih dahulu menyatakan cintanya kepada seseorang laki-laki dengan menyediakan pembekalan didalam perjalanan, pada saat sipemuda yang berkenan dihati pergi merantau yang disebut “Mowelua”, berbentuk daun-daun jagung yang digunting-gunting sendiri sebagai kertas penggulung tembakau untuk rokok.

Apabila si pemuda ini memang dari dahulunya sudah menaruh hati kepad “sidianya” maka dari daerah perantauan (Ripowelua), pemuda ini akan segera mengirimkan beberapa bungkus gula nira (Gola) sebagai balas perasaan cinta. Kalau ini memang terjadi dapat dipastikan, bahwa hubungan cinta telah terjalin.

Adapun cara-cara atau kebiasaan demikian adalah dianggap terhormat untuk menjalin hubungan cinta menurut tradisi nenek moyang dimasa umur muda.

Kalalu zaman leluhur cukup masakan Beko balas anyaman tikar atau kulit jagung sebagai kertas rokok bersama tembakaunya balas dengan beberapa bungkus gula aren (gola) kalau tidak dibalas, ya: sampai disitu saja alias PATAH HATI.

tags: , , , , , ,

Berita Terkait