Benarkah Raja – Raja Palu Berasal dari Minangkabau?

by Pramaartha Pode

Berbagai kekayaan budaya, sejarah masih tertimbun dalam catatan yang dibuat oleh Adriani doctor bahasa dari Belanda. Yang khas dari adriani adalah data sejarah yang dicatat lebih mendalam dan lengkap disbanding Kruyt sehingga bisa di temukan kisah yang menarik yang bisa saja tidak ditututrkan Kruyt.

Dalam bukunya yang terkenal The Bare’e Speaking Toradja of central celebes kisah mengenai garis keturunan Raja Palu digambarkan. Kisah ini belum tentu benar seutuhnya, namun memerlukan penelusuran sejarah lebih lanjut. Selengkapnya dituliskan kisahnya sebagai berikut:

Pada saat Datu Karama tinggal di Palu, istri Pue Nggari hamil. Ketikan anaknya lahir, Pue Nggari mengirimkan beberapa orang kepada Datu Karama dengan pertanyaan apa nama bayi ini. Datu Karama baru saja sembayang ketika utusan ini datang. Ketika datu karama selesai sembayang dia bertanya “sapa orang”?.

Para utusan menyimpulkan bahwa ini adalah nama yang diberikan untuk anak pue nggari yang baru lahir dan segera kembali, namun dalam perjalanan mereka lupa Bahasa melayu untuk kata orang dan menggantikannya dengan Bahasa Palu Taoe (tau), sehingga mereka menginformasikan kepada pue nggari anaknya harus diberi nama sapataoe (sapatau), nama yang kemudian menjadi La Pataoe sebagai anak Pue Nggari.

Kemudian suatu saat La Pataoe menjadi sakit dan pue nggari mengirimnkan pesan kepada datu Karama dengan pesan “jika engkau membuat anak saya sehat, kamu boleh menyunat dia”. Datu karama lalu mengambil air lalu berdoa. Dia lalu memberikan anak pue nggari minum. La Patau lalu sembuh dan menjadi orang islam pertama di Palu. Setelah kematian ayahnya dia pindah ke desa untuk mengembangkan Palu.

La Pataoe menikah dengan keponakannya, dan dari pernikahan ini lahir seorang anak yang namanya tidak dapat diketahui lagi. Anak ini menikah dengan ponakannya namun tidak ada seorang anakpun dari pernikahan ini.

Atas nasihat datu karama, anak la pataoe ini kemudian melakukan perjalanan ke Minangkabau dan disana menikah dengan anak perempuan seorang pemipin di Minangkabau, yang darinya dia memiliki beberapa anak.

Dia lalu kembali ke Palu..dan mendapati keluhan dari masyarakat mengenai pemimpin yang akan mati dan lalu atas persetujuan semua orang sepakat untuk membawa ke palu anak perempuan dari anak La Patau yang ada di Minangkabau.

Hal ini lalu dilakukan, dan ketika kapal tiba di palu, orang3 membuat music dari gong. Anak perempuan ini lalu menikah dengan anak laki laki kepala (raja) Kaili dan dari garis keturunan inilah raja raja di Palu diturunkan.

Dari kisah diatas maka dapat kita cermati, Adriani mencatat, Raja Raja di Palu memiliki darah Minangkabau. Sehingga perlu untuk dilacak keberadaan garis keluarga Raja Palu di Minangkabau.

Memang sulit untuk ditelusuri, karena Pue Nggari diperkirakan hidup pada abad 17 (1600-an), namun dengan berkembangnya pengetahuan apa saja menjadi mungkin.

Hal lain yang perlu diklarifikasi adalah mengenai sosok La Patau yang dalam catatan Adriani adalah anak dari Pue Nggari…apakah ini dapat diterima oleh sejarahwan Palu dan sekitarnya? Penelusuran Lebih lanjut perlu dilakukan, Tabea (*)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *