Bas Danti Lambei

Jumat, Agustus 14th 2015. | Sejarah

BAS DANTI LAMBEI.

Bagi warga Kampung Lage (sekarang Kalurahan Lombugia), siapa yang tidak kenal Bas Danti ?. Paling tidak beliau ini diingat karena dua (2) hal ;
Pertama karena trampil dan lihai dalam membangun rumah .
Kedua, karena suka dan kuat minum alkohol sampai mabuk berat.

Entah sudah berapa puluh gedung gereja, kantor, rumah yang dibangun Bas Danti di Tana Poso, Bada, Napu sampai Mori. Pengalaman masa muda sebagai “anak magang” pada Bas Ngkai A Gin (pemilik Gedung Bioskop Nirmala Poso), ketika membangun bioskop Nirmala dan Eks GENAS (Gedung Nasional) Poso, mengajar yang bersangkutan menjadi tukang kayu. Dan menjadi kepala bas (mandor) di bawah bimbingan Bapak Bas Wantah, menjadikannya seorang perancang bangunan plus tukang batu yang handal.

Yang saya tau, Bas Danti Lambei berasal dari Lembobelala, cuma tamatan SR, karena gagal menamatkan diri di Sekolah Guru Bawah (SGB) Poso. Di masa pergolakan Permesta di Tana Poso, Bas Danti melibatkan diri jadi partisan GPST dan turut berjuang, bersama teman seperantauannya yaitu Bas Maniambo dari kampung Waraa, Bas Saiman Lagumbana yang asli Wawopada dan juga Bas Bongo asal kampung Korolama, Bas Doi dari Gontara, yang lebih mengkhususkan diri jadi tukang kayu.
Nama Bas Danti, mulai menanjak dan populer ketika berhasil membangun gedung Gereja Peniel Poso, dengan ciri khas Menara Gereja yang berbentuk Topi Khas Nenek Sihir dalam cerita Sleeping Beauty. Entah gimana, menara gereja model nenek sihir ini kemudian menjadi model dan ditiru mati-matian di kebanyakan menara gereja GKST baik di Poso dan Mori.
Dalam soal membangun gedung gereja keahlian Bas Danti (yang Protestan) hanya bisa disaingi oleh Bas Runte Tampeno (yang Pantekosta) asli berasal dari Kampung Wawopada, Mori.

Bagi saya Bas Danti adalah seorang arsitek otodidak, mungkin melebihi insinyur bangunan atau seorang arsitek tamatan perguruan tinggi.. Kalau boleh, saya pingin beri gelar DR.H.C, kepada beliau, khusus mengenai pengetahuan dan ketrampilannya dalam rancang bangunan. Perkiraan biaya bangunan, dalam waktu singkat, bisa segera dihitungnya, tanpa kalkulator atau komputer. Dan hasilnya, beda-beda tipis dengan kenyataan. Salut !.

Beliau juga seorang pimpinan yang tegas dan berani dalam memimpin tim. Tidak segan langsung memberi sanksi nyata saat itu juga, kepada tukang yang bekerja semberono atau sembarangan. Tetapi segera pula memberi pujian dan tip kepada anggota tim yang bekerja baik, tepat waktu.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana, Bas Danti, memecat di tempat, mandor pengawas yang adalah teman baiknya sejak pemuda, tanpa sungkan dan basa basi. Anehnya, malam hari, mereka berdua bisa bercanda ria sambil menikmati segelas CCM (Captikus Campur Madu), seperti siangnya tidak terjadi insiden apa-apa.
Rupanya Bas Danti bisa memilah-milah antara kehidupan kerja profesional (kedinasan) dengan kehidupan silahturahmi pribadi. Hebat.

Kadang sebagian orang tidak bisa membedakan mana urusan dinas dan mana urusan pribadi, semua campur aduk. Perselisihan di kantor dibawa ke gereja, dibawa ke mesjid, dibawa ke rumah, dibawa ke rumpun keluarga, dibawa ke kampung, dibawa kekesukuan.
Bas Danti seperti Ikan Goropa di laut saja, berenang-renang dan hidup di air asin, tetapi bisa mempertahankan rasa darah dan dagingnya tetap tawar, tanpa rasa garam. Tidak campur aduk atau terpengaruhi oleh keadaan dan situasi.
Marilah kita belajar pada Bas Danti dan Ikan Laut.

Di Era tahun 1970an, sampai 1990an, tidak begitu sulit mencari keberadaan Bas Danti. Hampir bisa dipastikan antara jam 9-10 pagi, beliau dapat diketemukan di Kios Saguer Tante Lapasila, atau di Kios TTG (Tambah-Tambah Gaji) milik Om Bode atau di Warung RW milik Tante Nongka di seputaran dekat Perampatan Tentena (kemudian menjadi komplek terminal bis tua Poso). Jam 9 -10 tersebut menurut Bas Danti adalah “waktu ba cok” atau minum pemanasan di hari itu. Menu tetap 1 gelas cap tikus, sekali teguk.
Kalau malam hari Bas Danti pasti isi absensi di TTG antara jam 20 – 22. Di kios ini bebas didiskusikan beraneka ragam topik secara dalam dan lebar. Dan akan semakin liar dan panas jika sudah meneguk dua tiga gelas CCM. Peserta diskusi bisa sangat beragam, mulai Polikarpus yang agak bebuke asal Gontara, sampai Politikus salah satu parpol papan atas di Poso. Dari peminum yang droup-out SD sampai Sarjana S1 pemalas pengangguran, mulai dosen sampai pendeta. Hal yang menarik minum di TTG bisa bon (hutang), cukup tulis di buku catatan hutang, saling jujur dan percaya dan jangan lupa bayar hari Sabtu sore atau setelah gajian kantoran, termasuk Bas Danti.

Terus terang di TTG saya pribadi (dan juga teman baik saya Heyman “Him” Larope) melatih diri dalam soal ketrampilan minum alkohol, atau sesekali menemani Bas Danti dan menuntun beliau pulang ke rumah jika agak keliwatan minum. Kadang-kadang di tahun 1980-1990an, para jejaka dan duda seakan berlomba, mengantar Bas Danti yang mabuk untuk pulang ke rumahnya. Maklum, itulah kesempatan bisa bertemu dengan putri-putri Bas Danti yang memang cantik, manis menarik. Saya tidak sempat memanfaatkan kesempatan itu, karena sudah menikah dan tidak mungkin selingkuh di kampung sendiri diantara sanak keluarga.

Yang saya salut pada Bas Danti adalah daya tahan tubuhnya, separah apapun mabuk pada malam hari, tapi sebelum memulai waktu kerja pagi, beliau tetap hadir segar bugar untuk mengarahkan para tukangnya dalam hal proses pekerjaan. Hal ini menjadi perhatian saya.
Ketika saya tanyakan, kenapa bisa begitu. Dengan enteng beliau berkata “Rahasia” dengan logat Mori Lembobelala-nya yang sangat kental. Tapi akhirnya resep rahasia itu dibuka sendiri oleh beliau ketika sedang minum dan mabuk berat bersama saya.
Intinya, adalah; ketika minum alkohol gelas pertama harus sekali teguk.Upayakan minum tidak sampai muntah dan besoknya minumlah, minuman alkohol sejenis, istilahnya “dipancing” dengan 1 gelas sloki kecil. Pasti pusing kepala semalam dan pengaruh alkohol, hilang.

Tetapi alangkah baiknya, jika tidak minum alkohol sama sekali, baik untuk kesehatan diri sendiri, baik untuk orang lain serta sangat baik untuk kehidupan yang bermartabat.

Ada istilah produk khas Bas Danti yang sangat populer seantero kota Poso ketika itu yaitu “ Tahanan ta lapas – tahanan lolos.. “.
Setelah tercerai berai karena peristiwa kerusuhan di Poso, saya tidak pernah ketemu lagi dengan Bas Danti sampai saat mendapat kabar bahwa beliau meninggal dunia di Sangira dan di makamkan di Tentena.
Saya banyak belajar dari kisah hidupnya yang sederhana. Dan merindukannya sebagai pribadi yang; tulus dan jujur serta bisa dipercaya!.
(Mohon maaf, kepada sanak keluarga almarhum Om Bas Danti Lambei, jika ada data yang keliru).

Penulis: Dimba Tumimomor; Sumber: Grup Pekitandaya (FB)

 

tags: ,

Berita Terkait