Asal usul Lipu Pandiri

Jumat, Agustus 14th 2015. | Sejarah

LIPU PANDIRI
Oleh: Dimba Tumimomor

Sumber: FB Grup Pekitandaya.

Dalam catatan awal perjalanan DR Kruyt maupun DR Adriani menyusur ke hulu DAS Poso dan kemudian memasuki muara (Baba Koro nTomasa) Sungai Tomasa, belum diketemukan nama kampung atau Lipu Pandiri. Yang ada ada adalah kelompok pemukim kecil To Lage yang berdiam di dataran kecil sekitar Buyu Kalingua di tepian Sungai Tomasa. Kelompok To Lage ini adalah pecahan migrasi To Lage yang berasal dari Tamungku Rede, salah satu puncak dari Buyu Lebanu arah Barat Laut.
Dari catatan DR. Walter Kaundern yang menulis mengenai pola migrasi suku-suku di Sulawesi Tengah, yang juga banyak mengacu pada tulisan Kruyt dan Adriani, To Lage atas “perintah”pemerintah kolonial Belanda mulai membangun perkampungan di sepanjang jalan “Trans Sulawesi” (antara Malei-Poso dan Poso Pandiri-Kuku) . Jalan rintis trans Sulawesi ketika itu dibangun dari Poso ke Ampana, Poso ke arah Tentena-Pendolo sampai ke Tida nTana (batas Sulawesi Tengah dan Selatan) dan terus ke Palopo dan Makasar.

Situasi politik lokal, sosial budaya ekonomi di Tana Poso ketika itu (sampai awal 1900an), masih terjadi “perang-perangan” antar suku yang lebih didasari alasan perampokan hasil bumi (lebih pada alasan ekonomi daripada politik). To Lage yang bersahabat dengan To Parigi berulang kali harus menghadapi serangan dari Napu bersekutu dengan To Pebato yang bermukim di antara DAS Sungai Poso di DAS Sungai Puna. To Pebato mungkin dengan alasan prakmatis “terpaksa” menyediakan tanahnya (dirinya) menjadi tempat transit bagi To Napu yang akan menyerang Lage sampai ke Onda’e.

Kemudian pemerintah Belanda dan juga Zendeling (gereja) melarang praktek perang-perang (mengayau dan merampok) tersebut. Di Tana Poso, penduduk yang bermukim di pedalaman pengunungan “dipaksa” turun dan berkampung di ruas-ruas jalan yang dilewati “trans Sulawesi”.
To Lage yang berasal dari hulu DAS sungai Malei dan Toyado, turun dan membangun kampung di Malei – Tongko – Toyado – Bategencu – Sepe – Silanca dan Tagolu. Sebagian membuat kampung di Maliuko dan Sayo, Tasiraya dan Madale serta kampung Parigi-Lawanga. Umumnya perkampungan di bangun di tempat yang ada sungai atau mata air yang tidak kering di musim kemarau.
Sedangkan To Lage yang berasal dari dataran Timur dan Selatan Buyu Lebanu dan Tamunku Rede, turun bermukim di Maliwuko, Tagolu, Watuawu. Dengan alasan tidak punya mata air atau sungai yang cukup, maka sebagian To Lage yang membuka kebun di antara Tagolu dan Watuawu, kemudian membuat kampung di seberang Sungai Poso di Tambaro dan Kagila. Kampung Tambaro ini kemudian dipindahkan ke ruas jalan trans Sulawesi oleh Sira Ngkai Molindo ketika beliau jadi Kepala Distrik di Lage. Kagila kemudian sebagian menjadi kampung Lembomawo dan Rano Noncu.
To Lage yang berada di DAS Sungai Tomasa, sebagian bergabung membuat kampung di Kuku dan sebagian atas bantuan pemerintah kolonal Belanda membuat perkampungan di tepian Sungai Tomasa yang dikemudian hari di namakan Lipu Pandiri.

Lipu Pandiri di bangun oleh Belanda sebagai kampung percontohan yang diharapkan menjadi TELADAN bagi kampung-kampung yang lain. PANDIRI sendiri berarti TELADAN.
Mengapa sampai dinamakan PANDIRI ?. Karena khusus di kampung ini, Belanda berniat untuk menyatukan dalam proses asimilasi-pembauran antara dua sub suku Poso yang dulunya selalu diliputi “perang dingin” yaitu antara To Lage dan To Pebato. Di Lipu Pandiri inilah disatukan antara To Lage yang berasal dari DAS sungai Tomasa dengan To Pebato yang mendiami antara DAS sungai Poso dan Puna. Karena sudah satu kampung otomatis banyak terjadi perkawinan silang antara kedua sub suku ini.
Lipu Pandiri di bangun diantara batas-batas alam, sebelah Utara dengan Lari nDataso, sebelah Selatan sampai di Buyu mPoa, sebelah Timur di Tana Tagai dan sebelah Barat di Baba nTambualo dan Baba nTomasa.
Dengan demikian lokasi perkampungan lama di Buyu Kalingua menjadi semacam pusat perkampungan. Karena Buyu Kalingua sejak dahulu dianggap sebagai “pusat” mistik, maka lereng bukit kecil tersebut sampai kini tetap tidak dihuni, ditabukan untuk di jadikan pemukiman penduduk.
Kalingua sendiri bermakna tempat orang menjadi nanar, kehilangan orientasi waktu dan tempat, bahkan beberapa kejadian di era tahun 1960 -1970an beberapa kali penduduk Pandiri yang menghilang di bukit kecil yang hanya ditumbuhi pohon kelapa. Hampir dua tahun kemudian, orang yang menghilang (disangkah telah mati tenggelam) tersebut muncul kembali dengan atribut pakaian yang dipakainya hampir dua tahun sebelumnya dalam keadaan sehat bugar.

Menyatukan To Lage dan To Pebato dalam satu kampung di Lipu Pandiri, sampai saat ini masih menyisahkan sindiran budaya oleh To Lage di luar Pandiri. MIsalnya To Lage di Watuawu agak menganggap enteng To Lage di Pandiri dengan menyebut “ To Pandiri sindate, be maliogu ka To Lagenya “ ( Orang Pandiri di sana, tidak sepenuhnya Orang Lage). Atau mengatakan To Pandiri sebagai To Lage “SINAMBIRA”, (Orang Pandiri sebagai Peranakan To Lage, bukan To Lage yang sesungguhnya). Demikian sebaliknya, to Pebato juga menganggap To Pandiri sebagai sinambira To Pebato. Sinambira hasil perkawinan antara Pebato dan Lage.
SINAMBIRA sendiri sebenarnya berasal dari kata Sina = Cina, Mbira = sebelah/separuh. Jadi bermakna separuh Cina untuk menyebutkan keturunan To Poso yang kawin mawin dengan Orang Cina. Atau lasimnya disebut “peranakan Cina” dalam istilah sekarang “ KANCINGAN” atau “INDO”. Kata sinambira ini kemudian dilekatkan ke semua hasil perkawinan antara To Poso dengan suku-ras bangsa lainnya. Tidak khusus lagi untuk To Sina (Cina-Tionghoa-Tiongkok).

Walau Belanda sudah meberi contoh yang harus diteladani (ada pembauran) akan tetapi di akhir tahun 1950an, sebelum dan setelah zaman GPST, ketika sebagian To Pebato akan naik dari sekitar DAS sungai Tambualo, Malitu sampai Dewua- Sangginora yang ingin membangun perkampungan baru di ruas jalan trans Sulawesi Poso Tentena, maka Kepala Distrik (Camat) Lage, Sira Ngkai Molindo ketika itu, menunjuk daratan tipis di dekat Karanindi dan Toyu Lamoa sebagai tempat tempat untuk berkampung khusus migrasi yang berasal dari To Pebato. Dan kampung itu sekarang dikenal sebagai Lipu TAMPE MADORO. Di kampung ini bermukimlah To Pebato asal Tambualo-Dewua ditambah beberapa keluarga To Pebato dari Pandiri.
Kasus hampir serupa tetapi terjadinya lebih awal adalah di Lipu Sulewana.

Foto LIPU PANDIRI 1911.

Foto Dimba Tumimomor.

Kata Kunci :

sejarah singkat dr adriani di tanah poso (2),paksa nyonya alimp (1),
tags: , ,

Berita Terkait