Selasa, Mei 3rd 2016. | Poso, Sejarah

Expedisi Militer Belanda di Posso: Kisah Penaklukan Tana Poso di awal Abad XX.

Posso sesungguhnya telah dikenal oleh VOC sejak abad 18. Adalah seorang bernama Francois Valentjin (1666-1727)  seorang yang dipekerjakan VOC sebagai pendeta di Ambon yang menulis pertama kali tentang Poso dalam bukunya yang sangat terkenal yang berjudul Oud en Nieuw Oost-Indien yang diterbitkan antara tahun 1724-1726.

Buku yang bercerita tentang sejarah VOC (1602-1799) terbit dalam delapan volumen ini terdiri dari lima bagian dengan ketebalan buku 5.144 halaman yang dilengkapi dengan 79 buah peta dan 182 ilustrasi lainnya. Dalam bagian I yang menceritakan wilayah sulawesi timur dan pulau-pulau sekitarnya, Valentjin menyebutkan mengenai To Napoe dan To Rano yang ditemuinya. Meskipun banyak sejarawan Belanda yang tidak mempercayai Valentjin benar sampai ke Posso dan hanya menyalin dari catatan petugas Belanda lainnya. Posso masih menjadi misteri saat itu.

Misteri mengenai Posso perlahan-lahan mulai terkuak kurang lebih 150 tahun kemudian ketika J.C.WD.A van der Wijk melakukan perjalanan ke Danau Poso pada tahun 1865 yang kemudian diteruskan oleh W. J Michielsen pada tahun 1869.

Tulisan mengenai Posso dilanjutkan oleh J.G.F. Riedel, pegawai kolonial Belanda di Menado, Sulawesi Utara yang pada tahun 1886, mempublikasikan etnografi pertama tentang Sulawesi Tengah. Dalam buku ini, mulai disebutkan mengenai ketertarikan Belanda atas wilayah sulawesi tengah dan Riedel mulai memberi julukan penduduk dari wilayah dengan sebutan Toraja. Istilah yang kemudian dipopulerkan oleh A.C. Kruyt.

Ketertarikan Belanda atas wilayah Sulawesi Tengah mulai dilakukan dengan mengirimkan seorang Zending untuk mengamati potensi wilayah yang ada di Sulawesi Tengah. Berdasarkan hasil percakapan dengan Raja Sigi, Belanda memutuskan untuk mendaratkan seorang zending muda bernama Albertus Christian Kruyt di Mapane.

Terpilihnya Mapane bukan merupakan hal yang kebetulan. Mapane pada zamannya adalah kota terbesar yang berada di teluk Tomini, yang menjadi tempat persinggahan para pedagang China, Eropa dengan pribumi yang mereka sebut Toraja. Dan tidaklah mengherankan jika lipu (desa) Panta yang hanya terletak kurang lebih 4km dibelakang desa Mapane, mempermudah interaksi A.C.Kruyt dengan seorang kabose di Panta yang kerap dipanggil Papa i Wunte oleh A.C.Kruyt.

Dari sinilah Kruyt mulai mempelajari tentang Posso dan wilayah pedalaman, dengan bantuan seorang Muslim dari Mapane yang menemani perjalanan Kruyt ke Pedalaman Poso. Namun sesungguhnya sampai dengan tahun 1893, Kruyt baru sampai pada Tomasa di mana Papa i Danda dan Papa i Melempo menetap.

Barulah pada tahun 1894, A.C. Kruyt melakukan perjalanan ke pedalaman, menuju Danau Posso dan bahkan melanjutkan perjalanannya sampai ke desa aristokrat dimana Karadja Lamoesa menetap yakni di lipu Tando Ngkasa selama kurang lebih 5 hari disana.

Pada Tahun 1899, A.C.Kruyt melakukan perjalanan ke wilayah Mori dan melakukan pemetaan potensi kerajaan Mori dan mencatat kekuatan potensial pasukan dari kerajaan Mori. Dalam pemetaan ini Kruyt telah memasukkan wilayah Pakambia sebagai bagian dari wilayah Kerajaan Mori.

Sampai dengan awal tahun 1905, A.C.Kruyt dan Adriani terus menerus melakukan perjalanan pemetaan wilayah Poso khususnya kekuatan potensial pasukannya, sebagai data awal untuk penaklukan Posso.

 

Penaklukan Poso

Meskipun telah memperoleh data data awal mengenai kekuatan di Posso dari controleur maupun pekerja zending di Posso, Belanda tidak begitu saja menyerang dan menaklukan Poso.

Kisah penaklukan Posso sesungguhnya tidak terlepas dari kisah penaklukan Kerajaan Bone dan Kerajaan Loewoe di Sulawesi Selatan pada Tahun 1905.  Menolaknya 2 (dua) Kerajaan ini menyerah kepada Belanda telah menyebabkan Belanda melakukan ekspedisi militer pada tahun 1905.

Ekspedisi militer ini dimulai pada pertengahan tahun (Juni-Juli) 1905. Total 13 buah Kapal Perang dan 3000 prajurit Kerajaan Belanda dikerahkan untuk menginvansi Kerajaan Bone dan Kerajaan Luwu. Ekspedisi ini  berhasil dilakukan oleh Belanda setelah menaklukan Kerajaan Bone dan Kerajaan Luwu pada bulan September 1905.

Tidak membuang-buang waktu, pada bulan September 1905, Engelenberg berinisiatif mengadakan pertemuan dengan mengundang seluruh kabose dari dataran Napu dan Pebato untuk menjelaskan rezim yang baru. Namun, kabose dari Napu dan Pebato menolak untuk hadir sehingga memaksa pasukan Belanda menyerbu Napu dan dan tercatat 60 orang Napu tewas dalam pertempuran.

Menyadari keadaan ini, Resident Menado mengorganisasi sebuah serangan dari dua arah untuk menaklukan pedalaman Poso, dirancang serangan 2 (dua) arah, yang pertama dari sebelah utara pasukan bergerak dari Posso dan kedua, serangan dari selatan dimulai dari Wotu sehingga direncanakan bertemu di pinggir Danau Posso. Ekspedisi 2 (dua) arah ini berhasil mencapai Danau Posso pada 29 Oktober 1905.

Pada 11 November 1905, para kabosenya disekitar danau Poso diundang oleh Belanda dalam sebuah pertemuan untuk mendengarkan sebuah surat dari Datu Luwu yang memerintahkan menanggalkan semua pangkat yang diberikan Datu Luwu. Namun karena Loewoe belum sepenuhnya menyerah karena masih adanya perlawanan dari Ambe Ma’a (Ampulembah) yang berdomisili di Jalaja, Wotu, masyarakat Posso masih melakukan perlawanan kepada Belanda.

 

Penaklukan Benteng Tamungkudena, Tamungku dan Kandela.

Perlawanan ini pada awalnya dipusatkan di Tamungkudena. Perlawanan ini dipimpin oleh Tabatoki (Lage-Onda’e) dan Tantogia bersama dengan pasukannya melakukan perlawanan kepada Belanda. Belanda menaklukan Benteng Tamungkudena dengan cara mengepung Benteng Tamungkudena sehingga pasukan Tantogia dan Tabatoki kekurangan makanan dan kemudian diserbu pada bulan Desember 1905.

Pasukan yang tersisa dari Tantogia, Tabatoki kemudian berhimpun dalam benteng yang digagas oleh Tampayau dan TaRame di Tamungku. Benteng ini mendapat julukan “Bente Laki” karena kokohnya benteng ini. Selain Tampayau dan Tarame, Toina dan Mangkapa ikut membantu mempertahankan Benteng Laki ini.

Pada Januari 1906 Benteng ini diserang oleh Letnan Voskuill. Dalam pertempuran yang berlangsung sengit, pasukan Tampayau berhasil dikalahkan dan memaksa Tampayau dan pasukannya tercerai berai sebelum kemudian berkumpul kembali di Benteng Kandela (Tindoli).

Benteng Kandela (Tindoli) dijaga oleh Kabose Balongka yang adalah kakak kandung dari Tampayau. Kekuatan pasukan pertahanan di Benteng Kandela semakin bertambah ketika mendapat tambahan bala bantuan dari Tonggelo (kabose dari buyumpondoli). Demikianlah 3 (tiga) orang ini Tampayau, Balongka dan Tonggelo bertahan di Benteng Kandela (Tindoli).

Larinya pasukan Posso ke Benteng Kandela yang terletak di pedalaman, memaksa Belanda menghentikan ekspedisi militernya. Selama sebulan Belanda menyusun strategi untuk menaklukan Benteng Kandela  yang dijaga dengan sangat ketat oleh pasukan Posso.

Pergerakan pasukan Belanda baru mulai dilakukan pada bulan Februari, tepatnya pada tanggal 1 Februari 1906 ketika Letnan Mark Peters  meninggalkan detasemen koekoe menuju Tandokayuku, dengan membawa pasukan sejumlah 78 bayonet. Di Tandokayuku, Letnan Mark Peters telah memanggil kabose dari bantjea, Gontara, Korontombe dan Batoe Sinampu, yang semuanya berasal dari sebelah timur dan selatan Danau Poso. Namun panggilan dari Letnan Mark Peters tidak diindahkan oleh Karadja Lamoesa yang berdomisili di sebelah selatan danau Poso.

Pada tanggal 7 Februari 1906 rencana penyerangan Benteng Kandela dimatangkan oleh Jenderal Kooten di Posso.

Hasilnya, pada tanggal 15 Februari 1906 sebanyak 57 pasukan bayonet Letnan Mark Peters beranjak ke sisi selatan danau Poso untuk menyerang Benteng Lamoesa di Tando Ngkasa dan Pentilo.

Pada tanggal 16 Februari 1906 benteng yang dijaga ketat yakni Benteng Kandela (Lamoesa) telah direbut.  Tercatat 5 (lima) orang pasukan Lamoesa meninggal dunia dan kerugian lebih lanjut belum diketahui. Di sisi pasukan belanda terdapat 4 (empat) orang yang terlukan namun tidak terluka serius

Dalam pertempuran di Benteng kandela ini Kabose Tampayau, Balongka dan Tonggelo dapat meloloskan diri. Tampayau dan Balongka mengamankan diri di sebuah Goa di Palande. Untuk dapat menangkap Tampayau dan Balongka Belanda menggunakan jasa Kabose lainnya untuk mengadakan perdamaian dengan Tampayau. Salah satu syarat perdamaian ini adalah Tampayau dijanjikan Belanda untuk diangkat menjadi Raja Poso. Terpikat dengan bujuk rayu Belanda, Tampayau dan Balongka akhirnya sepakat untuk bertemu dengan Belanda di Landeandopo (dekat Korobono saat ini).

Pada hari yang disepakati, akhirnya Tampayau dan Balongka menunggu perwakilan Belanda di Landeandopo. Namun pada saat menunggu di Landeandopo, datang Kabose Tonggole yang menginformasikan bahwa pertemuan ini hanyalah jebakan dari Belanda. Namun informasi ini terlambat, Belanda telah mengepung Tampayau dan Balongka. Kabose Balongka melakukan perlawanan dan akhirnya meninggal di Landeandopo. Namun kabose Tampayau tidak dapat dikalahkan, beliau ditawan Belanda dan diikat dengan tali bono (kulit kayu) dan dibawah ke Tandokayuku dimana Letnan Mark Peters telah menunggu.

Adalah sebuah kehendak sejarah jikalau, Tampayau tidak pernah tiba di Tandokayuku. Memasuki Tando Bone, kabose Tampayau mengamuk dan membunuh penjaganya sehingga tersisa 3 (tiga) orang saja sebelum dapat dilumpuhkan oleh pasukan Belanda lainnya dan meninggal di Tando Bone.

Akhir Kisah Penaklukan Poso

Akhir Kisah Penaklukan Poso, terjadi pada tanggal 17 Februari 1906, ketika pasukan Belanda melanjutkan ekspedisi militer ke kediaman Karadja Lamoesa di Tando Ngkasa.

Pada tanggal 20 Februari 1906 Letnan Mark Peters menerima kabar dari Posso bahwa beberapa Kabosenja yang datang dari sisi danau Poso datang untuk menawarkan pengajuan mereka bahwa perlawanan masih ditemui yakni Tantogia dari Tamoengkoedena dan Tabatoki dari Kasawi dulungi.

Perlawanan Tabatoki kemudian menjadi sangat legendaris karena dilakukan Tabatoki sepanjang tahun 1906 sampai dengan tahun 1909.   Tabatoki melakukan perang  gerilya bersama dengan 30 (tigapuluh) orang pengikutnya. Mulai dengan Maret 1906 sampai dengan 1909 Ta Batoki dan 30 orang pasukannya menjadi mimpi buruk bagi Belanda di sepanjang danau Posso mulai dari pedalaman hutan lage, Onda’e dan Pebato. Penangkapan Ta Batoki pada tahun 1909 digambarkan sangat dramatis oleh Emily Gobee. Menjelang Ta Batoki ditangkap, seluruh sisi danau Poso disiagakan dan dijaga Belanda.

Tabatoki veteran perang Tamungkudena (sawidago), Tamungku (Sulewana), Kandela (Tindoli), pada akhirnya diabadikan menjadi nama jalan di Poso saat ini. Keteguhan hatinya menyebabkan Tabatoki meninggal di penjara Belanda di Poso karena menolak makan sampai akhir hayatnya. Meskipun Kelak Dalam Catatan Belanda, Tabatoki meninggal karena penyakit paru-paru.

Perlawanan Kepada Belanda sepenuhnya berakhir ketika Papa I Wunte dibaptis oleh Hoffman (pendeta Tentara) di Panta pada Desember 1909.

Demikianlah akhir dari kisah Penaklukan Poso di awal abad XX dan dimulainya kisah mengenai Poso dari abad yang baru abad XXI

Pramaartha Pode

tags: , , , , , ,

Berita Terkait